BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar`Belakang
Sepakbola merupakan olahraga yang paling populer diseluruh dunia. Diperkirakan hampir lebih dari 100 juta penduduk dunia memainkan olahraga ini. Olahraga sepakbola ini tidak hanya dimainkan oleh para atlet dalam liga-liga profesional dunia namun juga dimainkan oleh anak-anak hingga orang dewasa baik di dalam gang-gang sempit, di tanah-tanah kosong atau juga lapangan-lapangan sepakbola yang tersedia. Di dalam liga-liga sepakbola profesional, selain metode latihan yang baik, bakat yang dimiliki oleh seorang pemain, kehebatan seorang pelatih serta sistim manajemen klub yang baik, prestasi dari klub-klub tersebut juga akan dipengaruhi oleh pemilihan nutrisi dan kondisi psikologis atlet itu sendiri.
Betapa seringnya kita membaca pernyataan pengurus, pelatih, dan komentator olahraga bahwa kekalahan atlet kita di lapangan olahraga disebabkan oleh factor psikologis. Sebaliknya, betapa langkahnya atau bahkan hamper tidak pernah kita mendengar atau membaca pernyataan mereka bahwa kemenangan atlet di lapangan disebabkan oleh faktor psikologis maaka faktor psikologis seolah-olah memiliki atribut negative bagi diri seorang atlet. Padahal, banyak penelitian telah membuktikan bahwa factor psikologis seringkali menjadi factor yang sangat menentukan bagi seorang atlet untuk meraih kemenangan. Dalam olahraga prestasi, peran psikolog olahraga dominan dalam mendongkrak prestasi para atlet.
Weinberg dan Gould ( dalam Satiadarma, 2000:22) menyatakan psikolog mempresepsi bentuk intervesi yang dinilai berhasil untuk memperbaiki prestasi serta kondisi atlet ataupun individu pada umumnya dalam hubungannya dengan kegiatan olahraganya Yaitu:
1. Orientasi Behavioral
Orientasi behavioral menekankan bahwa factor penentu perilaku atlet bersumber dari lingkungan. Masalah kepribadian, presepsi serta proses berpikir atlet dianggap tidak terlalu besar peranannya dibandingkan dengan peran factor eksternal seperti diterapkannya penguat dan hukuman atas suatu perilaku sehingga mempengaruhi munculnya perilaku. Hokum teori belajar yang mengemukakan bahwa pemberian hadiah cenderung mempengaruhi idividu untuk mengulangi perilakunya merupakan bukti bahwa perubahan perilaku dapat terlaksana dapat terlaksanan melalui manipulasi lingkungan secara sistematis.
2. Orientasi Psikofisiologis
Para penganut faham ini bertanggapan bahwa untuk memahami perilaku seseorang dalam olhraga dan latihan adalah melalui kajian proses fisiologis yang terjadi pada daerah otak dan mempengaruhi aktivitas fisik seseorang. Penganut paham ini misalnya melakukan studi korelasi untuk menemukan korelasi hubungan antara detak nadi, kerja gelombang otak dan aktivitas otak.
3. Orientasi Behavior-Koknitif
Penganut paham ini beranggapan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun proses berpikirnya. Karena dalam proses berpikir itu di tentukan pula bagaimana seseorang menginterpretasikan kejadian di lingkungannya dan interpretasi individu tersebu selanjutnya mempengaruhi perilaku individu atau respon individu terhadap lingkungannya.
Tentu saja dengan bekal ilmu psikologi. Perpaduan ilmu fisik manusia dengan ilmu psikis membuat pemahaman terhadap manusia lebih komplet. Banyak metode pelatihan yang merupakan sumbangan langsung dari dunia psikologi olahraga. Selain dengan terjun langsung di lapangan, psikologi olahraga juga memberi sumbangan melalui riset. Riset tentang hubungan antara gerak tubuh dan konsep mental memberikan masukan bagi pengembangan teknik kepelatihan maupun pengembangan cabang olahraga itu sendiri. Sehingga dalam hal ini tentunya kondisi psikologis saja kurang untuk menelaah penampilan atlet, status gizi ternyata juga harus diperhatikan.
Para ilmuan olahraga dalam hal ini sangatlah berperan demi memajukan prestasi para atlet.. Maka dengan penjelasan diatas serta fakta-fakta yang mendukung, sehingga menarik minat saya untuk mengadakan penelitian “Pengaruh Kondisi Psikologis dan Status Gizi Terhadap Penampilan Puncak Atlet Sepakbola” sekaligus judul ini merupakan hal yang sangat penting untuk dikaji secara benar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan kajian pada latar belakang dan alasan pemilihan judul tersebut, maka permasalahan yang akan dikaji dalam penelitian ini,sebagai berikut :
1. Aspek psikologis apa yang paling berperan penting dalam penampilan atlet?
2. Apa saja kandungan gizi yang seharusnya dikonsumsi atlet sebelum, sesaat dan sesudah latihan?
3. Bagaimana kebutuhan cairan bagi atlet sepakbola?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka penulisan karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui aspek psikologis yang paling berperan penting penampilan atlet.
2. Mengetahui beberapa kandungan gizi yang seharusnya dikonsumsi atlet sebelum, sesaat dan sesudah latihan
3. Mengetahui kebutuhan cairan atlet sepakbola
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penulisan karya tulis ilmiah ini adalah:
1. Manfaat teoritis
Makalah ini diharapkan dapat digunakan untuk perkembangan khasanah keilmuan olahraga yang di fokuskan terhadap pengoptimalan penampilan atlet saat bertanding.
2. Manfaaat praktis
a. Menambah pengetahuan serta pengalaman penulis baik secara teori maupun praktek dalam metodologi kepelatihan dalam mengoptimalkan kemampuan atlet.
b. Dapat digunakan mahasiswa, dosen, guru dan lainnya sebagai sumber yang ingin di ketahui.
E. Definisi Istilah
1. Kondisi psikologis
Kondisi yaitu persyaratan atau keadaan (Poermadarmita, 1976 : 519)). Psikologis berawal dari kata psikologi, menurut Yusuf (dalam sumber, terlampir) Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku sederhana sampai yang kompleks.. Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan faktor-faktor yang ada dalam kepribadiannya.
2. Status gizi
Status gizi adalah keadaan kesehatan individu-individu atau kelompok-kelompok yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik akan energi dan zat gizi yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri oleh Almatsier (dalam Pamularsih, 2009 : 7).
3. Penampilan puncak
Penampilan puncak adalah penampilan optimum yang dapat dicapai seseorang hal ini merupakan bukan penampilan maksimum. Dalam konteks ini bisa jadi seorang atlet tidak tampak berusaha terlalu keras untuk memenangkan pertandingan namun apa yang dilakukan terlihat minim kesalahan dan tetap selalu membuahkan hasil seperti harapan Anshel (dalam Satiadarma, 2000 : 159)
4. Sepakbola
Sepak bola adalah Suatu jenis olahraga yang dimainkan oleh dua kelompok berlawanan yang masing-masing berjuang untuk memasukkan bola ke gawang kelompok lawan. Masing-masing kelompok beranggotakan sebelas pemain, dan karenanya kelompok tersebut juga dinamakan kesebelasan (Nuraga, 2008 : 1 )
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Konsep Kondisi Psikologis
1. Pengertian Kondisi Psikologis
Kondisi yaitu persyaratan atau keadaan (Poermadarmita, 1976 : 519)). Psikologis berawal dari kata psikologi, menurut Yusuf (dalam sumber, terlampir) Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku sederhana sampai yang kompleks.. Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan faktor-faktor yang ada dalam kepribadiannya.
. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya. maka dapat disimpulkan maksud dari kondisi psikologis disini yaitu kondisi kejiwaan atlet.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa kondisi psikologis yaitu kondisi kejiwaan atlet, dalam hal ini nampak dalam perilaku atlet sebelum, sesaat dan setelah bertanding.
2. Aspek-aspek Psikologis yang Berperan dalam Olahraga
Pengaruh faktor psikologis pada atlet akan terlihat dengan jelas pada saat atlet tersebut bertanding. Berikut ini akan diuraikan beberapa masalah psikologis yang paling sering timbul di kalangan olahraga, khususnya dalam kaitannya dengan pertandingan dan masa latihan.
a. Berpikir Positif
Berpikir positif dimaksudkan sebagai cara berpikir yang mengarahkan sesuatu ke arah positif, melihat segi baiknya. Hal ini perlu dibiasakan bukan saja oleh atlet, tetapi terlebih-lebih bagi pelatih yang melatihnya. Dengan membiasakan diri berpikir positif, maka akan berpengaruh sangat baik untuk menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi, dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Berpikir positif merupakan modal utama untuk dapat memiliki ketrampilan psikologis atau mental yang tangguh.
b. Penetapan Sasaran
Penetapan sasaran (goal setting) merupakan dasar dan latihan mental. Pelatih perlu membantu setiap atletnya untuk menetapkan sasaran, baik sasaran dalam latihan maupun dalam pertandingan. Sasaran tersebut mulai dan sasaran jangka panjang, menengah, sampai sasaran jangka pendek yang lebih spesifik.
c. Motivasi
Motivasi dapat dilihat sebagai suatu proses dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu sebagai usaha dalam mencapai tujuan tertentu. Motivasi yang kuat menunjukkan bahwa dalam diri orang tersebut tertanam dorongan kuat untuk dapat melakukan sesuatu.
Ditinjau dari fungsi diri seseorang, motivasi dapat dibedakan antara motivasi yang berasal dan luar (ekstrinsik) dan motivasi yang berasal dari dalam diri sendiri (intrinsik). Dengan pendekatan psikologis diharapkan atlet dalam setiap penampilannya dapat memperlihatkan motivasi yang kuat untuk bermain sebaik-baiknya, sehingga dapat memenangkan pertandingan.
d. Emosi
Faktor-faktor emosi dalam diri atlet menyangkut sikap dan perasaan atlet secara pribadi terhadap diri sendiri, pelatih maupun hal-hal lain di sekelilingnya. Bentuk-bentuk emosi dikenal sebagai perasaan seperti senang, sedih, marah, cemas, takut, dan sebagainya. Bentuk-bentuk emosi tersebut terdapat pada setiap orang. Akan tetapi yang perlu diperhatikan di sini adalah bagaimana kita mengendalikan emosi tersebut agar tidak merugikan diri sendiri.
e. Kecemasan dan Ketegangan
Kecemasan biasanya berhubungan dengan perasaan takut akan kehilangan sesuatu, kegagalan, rasa salah, takut mengecewakan orang lain, dan perasaan tidak enak lainnya. Kecemasan-kecemasan tersebut membuat atlet menjadi tegang, sehingga bila ia terjun ke dalam pertandingan maka dapat dipastikan penampilannya tidak akan optimal. Untuk itu, telah banyak diketahui berbagai teknik untuk mengatasi kecemasan dan ketegangan yang penggunaannya tergantung dari macam kecemasannya.
f. Kepercayaan Diri
Dalam olahraga, kepercayaan diri sudah pasti menjadi salah satu faktor penentu suksesnya seorang atlet. Masalah kurang atau hilangnya rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri akan mengakibatkan atlet tampil di bawah kemampuannya. Karena itu sesungguhnya atlet tidak perlu merasa ragu akan kemampuannya, sepanjang ia telah berlatih secara sungguh-sungguh dan memiliki pengalaman bertanding yang memadai.
g. Komunikasi
Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi dua arah, khususnya antara atlet dengan pelatih. Masalah yang sering timbul dalam hal kurang terjalinnya komunikasi yang baik antara pelatih dengan atletnya adalah timbulnya salah pengertian yang menyebabkan atlet merasa diperlakukan tidak adil, sehingga tidak mau bersikap terbuka terhadap pelatih. Akibat lebih jauh adalah berkurangnya kepercayaan atlet terhadap pelatih.
h. Konsentrasi
Konsentrasi merupakan suatu keadaan di mana kesadaran seseorang tertuju kepada suatu obyek tententu dalam waktu tertentu. Makin baik konsentrasi seseorang, maka makin lama ia dapat melakukan konsentrasi. Dalam olahraga, konsentrasi sangat penting peranannya. Dengan berkurangnya atau terganggunya konsentrasi atlet pada saat latihan, apalagi pertandingan, maka akan timbul berbagai masalah.
i. evaluasi diri
Evaluasi diri dimaksudkan sebagai usaha atlet untuk mengenali keadaan yang terjadi pada dirinya sendiri. Hal ini perlu dilakukan agar atlet dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya pada saat yang lalu maupun saat ini. Dengan bekal pengetahuan akan keadaan dirinya ini maka pemain dapat memasang target latihan maupun target pertandingan dan cara mengukurnya. Kegunaan lainnya adalah untuk mengevaluasi hal-hal yang telah dilakukannya, sehingga memungkinkan untuk mengulangi penampilan terbaik dan mencegah terulangnya penampilan buruk (Sumber, terlapir).
B. Konsep Status Gizi
1. Pengertian status gizi
Status gizi adalah keadaan kesehatan individu-individu atau kelompok-kelompok yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik akan energi dan zat gizi yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri oleh Almatsier (dalam Pamularsih, 2009 : 7). Sedangkan menurut Beck (dalam Pamularsih, 2009 : 7 ) status gizi adalah status kesehatan yang dihasilkan dan keseimbangan antara masukan nutrien.
2. Cara pengukuran status gizi
a. Langsung
Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat, yaitu:
1). Antropometri
Antropometri adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi.
2). Klinis
Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan yang terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi yang dapat dilihat pada jaringan epitel di mata, kulit, rambut, mukosa mulut dan organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
3) Biokimia
Pemeriksaan biokimia adalah pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratorium yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain: darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh separti hati dan otot.
4). Biofisik
Pemeriksaan biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan strutur dan jaringan (Pamularsih, 2009 : 8-13).
b. Tidak langsung
1). Survey konsumsi makanan
Yaitu metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi Contoh: Recall 24 jam
2). Statistik Vital
Yaitu dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, data kesakitan dan kematian akibat-akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
3). Faktor Ekologi
Dengan mengungkapkan bahwa malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya seperti: Iklim, tanah dan irigasi (Pamularsih, 2009 : 13-14)..
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi
Faktor yang secara langsung mempegaruhi status gizi adalah asupan makan dan penyakit infeksi. Berbagai faktor yang melatarbelakangi kedua faktor tersebut misalnya faktor ekonomi, keluarga produktivitas dan kondisi perumahan Suhardjo (dalam Pamularsih, 2009 : 14)
Pamularsi (2009) mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi:
a. Faktor Langsung
1) Konsumsi Pangan
Penilaian konsumsi pangan rumah tangga atau secara perorangan merupakan cara pengamatan langsung dapat menggambarkan pola konsumsi penduduk menurut daerah, golongan sosial ekonomi dan sosial budaya. Konsumsi pangan lebih sering digunakan sebagai salah satu teknik untuk memajukan tingkat keadaan gizi oleh Suhardjo (dalam Pamularsih, 2009 : 14).
2) Infeksi
Antara status gizi kurang dan infeksi terdapat interaksi bolak balik. Infeksi dapat menimbulkan gizi kurang melalui mekanismenya. Yang paling penting adalah efek langsung dari infeksi. Sistematik pada katabolisme jaringan menyebabkan kehilangan nitrogen. Meskipun hanya terjadi infeksi ringan sudah menimbulkan kehilangan nitrogen oleh Suhardjo (dalam Pamularsih, 2009 : 14).
b. Faktor Tidak Langsung
1) Tingkat Pendapatan
Tingkat pendapatan sangat menentukan pola makan yang dibeli. Dengan uang tambahan, sebagian besar pendapatan tambahan itu untuk pembelanjaan makanan. Pendapatan merupakan faktor yang paling penting untuk menentukan kualitas dan kuantitas makanan, maka erat hubungannya dengan gizi .
2) Pengetahuan Gizi
Pengetahuan tentang gizi adalah kepandaian memilih makanan yang merupakan sumber zat-zat gizi dan kepandaian dalam mengolah bahan makanan yang akan diberikan. Pengetahuan tentang ilmu gizi secara umum sangat bermanfaat dalam sikap dan perlakuan dalam memilih bahan makanan. Dengan tingkat pengetahuan gizi yang rendah akan sulit dalam penerimaan informasi dalam bidang gizi, bila dibandingkan dengan tingkat pengetahuan gizi yang baik oleh Sajogyo (dalam Pamularsih, 2009 : 15).
3) Pendidikan
Suatu proses penyampaian bahan atau materi pendidikan oleh pendidik kepada sasaran pendidikan (anak didik) guna mencapai perubahan tingkah laku (tujuan). Pendidikan itu adalah suatu proses, maka dengan sendirinya mempunyai masukan dan keluaran. Masukan proses pendidikan adalah sasaran pendidikan atau anak didik yang mempunyai karakteristik, sedangkan keluaran proses pendidikan adalah tenaga atau lulusan yang mempunyai kualifikasi tertentu sesuai dengan tujuan institusiyang bersangkutan Oleh Madanijah (dalam Pamularsih, 2009 : 15).
C. Konsep Penampilan Puncak
1. Pengertian Penampilan Puncak
Penampilan puncak adalah penampilan optimum yang dapat dicapai seseorang hal ini merupakan bukan penampilan maksimum. Dalam konteks ini bisa jadi seorang atlet tidak tampak berusaha terlalu keras untuk memenangkan pertandingan namun apa yang dilakukan terlihat minim kesalahan dan tetap selalu membuahkan hasil seperti harapan Anshel (dalam Satiadarma, 2000 : 159)
2. Karakteristik Penampilan puncak
Ravizza (dalam Satiadarma, 2000 : 163) menjelaskan bahwa 80% atlet yang mengalami apa yang dikenal sebagai momentum besar olahraga melaporkan bahwa dalam kondisi mereka mengalami hal-hal seperti:
a. Hilangnya rasa takut, mereka tidak merasa takut untuk gagal
b. Tidak terlalu memikirkan penampilan
c. Terlibat secara mendalam didalam aktivitas olahraganya
d. Penyempitan dan pemusatan perhatian
e. Merasakan tidak terlalu berupaya, tidak memaksakan sesuatu berjalan dengan sendirinya
f. Merasakan demikian mudah untuk mengendalikan segalanya disorientasi waktu dan tempat, seolah-olah hal lain menjadi lebih lambat, dan peluang untuk melakukan sesuatau menjadi demikian besar.
g. Segala sesuatunya sepertinya demikian menyatu dan terintegrasi dengan baik
h. Perasaan akan adanya sesuatu keunikan yang berlangsung seolah-olah tanpa disadari, dan bersifat sementara.
Loehr (dalam Satiadarma, 2000 : 164) menambahkan bahwa “ perasaan para atlet saat bermain seperti kesetanan namun sangat terkendali. Mereka merasakan waktu bergerak sangat lambat sehingga mereka tidak harus terburu-buru dan segala sesuatunya terselesaikan dengan baik, mereka merasakan mampu berkosentrasi dengan demikian baiknya dan sangat menikmati aktivitas yang dilakukan”.
3. Elemen-elemen penampilan puncak
McCaffrey dan Orlick (dalam Gunarsa, 2000 : 167) menyimpulkan sejumlah elemen yang berperan besar pada atlet pada penampilan puncak mereka. Elemen-elemen tersebut meliputi.
a. Komitmen penuh. Dia bersungguh-sungguh dalam latihan dan berkeyakinan untuk meningkatkan potensi diri
b. Kualitas diatas kuantitas. Para atlet libih mementingkan kualitas dibandingkan dengan kuantitas latihan yang cenderung memperoleh hasil yang kurang maksimal.
c. Sasaran yang jelas. Dengan berlatih, mereka memiliki sasaran yang jelas tentang apa tujuan latihan yang mereka lakuakan.
d. Latihan “imagery” setiap hari. Hal ini akan mempertajam imaji yang ia bangkitkan serta gambaran menjadi rancangan gambar tindakan yang akan ia lakukan.
e. Memusatkan pikiran.
f. Menegnali situasi yang menekan.para atlet harus belajar memahami hal-hal yang harus mereka lakuakan pada saat mereka menghadapi situasi yang menekan.
g. Berlatih dan merencanakan mengikuti pertandingan
h. Memusatkan perhatian pada pertandingan yang akan diikuti.
i. Menggunakan stategi untuk mengendalikan gangguan
j. Melakuakan evaluasi pasca tanding
k. Memahami secara jelas perbedaan kondisi bermain baik dan bermain buruk.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Aspek Psikologis yang Paling Berperan Penting dalam Penampilan Atlet
Psikologi olahraga bisa menjadi factor yang sangat penting dibandingkan factor lain, seperti fisik, tehnik dan strategi bahkan untuk kondisi tertentu, 90% keberhasilan seorang atlet sangat bergantung pada ketangguhan mental ini. citra mental dan strategi self-talk adalah dilaksanakan oleh atlet dalam rangka untuk mengatur gairah, mengurangi perilaku menyesuaikan diri, merekonstruksi negative pikiran, dan untuk meningkatkan konsentrasi seseorang dan focus (Peluso, dkk, 2005 : 544). Salah satu aspek mental tersebut diantaranya adalah kepercayaan diri atlet. Cox (dalam Sumber, terlapir) menegaskan bahwa “kepercayaan diri secara umum merupakan bagian penting dari karakteristik kepribadian seseorang yang dapat memfasilitasi kehidupan seseorang. Lebih lanjut dikatakan olehnya bahwa kepercayaan diri yang rendah akan memiliki pengaruh negative terhadap penampilan atlet”.
Hanya saja hal ini sangat disayangkan. Dikatakan demikian mengingat kenyataan bahwa pentingnya aspek kepercayaan diri atlet belum disadari olah para pelatih maupun pembina. Pengetahuan tentang kepercayaan diri yang didapat dalam proses pembinaan olahraga dan dalam proses latihan adalah sesuatu hal yang penting. Pelatih dalam hubungannya dengan atlet tanpa didukung pengetahuan tentang tingkat kepercayaan diri atlet dapat menjadi kendala dalam upayanya membina atlet untuk meraih prestasi puncak. Begitu juga atlet yang tidak bisa mengendalikan kepercayaan dirinya akan berdampak negatif.
Gould (dalam Sumber, terlapir) menegaskan bahwa “Rasa percaya diri memberikan dampak positif terhadap emosi, kosentrasi, sasaran, usaha strategi dan momentum”. Rasa percaya diri yang tinggi akan menjadikan atlet lebih tenang , ulet tidak mudah pata semangat, terus berusaha mengembangkan strategi, dan membuka berbagai peluang bagi atlet tersebut untukmemperoleh momentum atau saat yang tepat untuk bertindak (sumber, terlapir).
B. Beberapa Kandungan Gizi yang Seharusnya Dikonsumsi Atlet Sebelum, Sesaat dan Sesudah Latihan
1. Kandungan gizi yang dibutuhkan sebelum latihan
Makan sebelum melakukan exercise, berlawanan dengan melakukan exercise dalam keadaan berpuasa, telah dibuktikan memperbaiki performance. Makan atau snak yang dimakan sebelum pertandingan atau suatu latihan yang intensif harus membuat para atlet siap untuk aktifitas yang akan datang dan meninggalkan para individu tidak lapar atau tanpa ada makanan dalam perut yang tidak dicerna. Dengan demikian, bimbingan umum berikut untuk makan dan snak harus dipakai: cairan cukup harus dikonsumsi untuk memelihara hidrasi, makanan harus secara relative rendah lemak dan serat untuk memfasilitasi pengosongan gastric dan mengurangi penderitaan gastrointestinal, tinggi dalam karbohidrat untuk memelihara glukosa darah dan memaksimumkan penyimpanan glycogen, protein yang sedang, dan para atlet yang terbiasa. Meskipun beberapa studi telah menunjukkan bahwa suplementasi protein dalam sebelumnya dewasa terlatih melakukan perlawanan latihan tidak
memberikan manfaat dalam hal peningkatan jaringan ramping
accruement atau kekuatan Candow dkk (dalam Hoffman, 2007: 85), bukti tidak dukungan kebutuhan protein lebih besar untuk kekuatan
dan atlet daya dibandingkan dengan atlet ketahanan dan
penduduk menetap oleh Lemon (dalam Hoffman, 2007: 85)
Ukuran waktu dari makan sebelum melakukan exercise bersangkut-paut. Karena sebagian atlet tidak suka untuk bertanding dalam keadaan perut kenyang, makan lebih sedikit harus dilakukan mendekati pertandingan untuk mengosongkan gastric, di mana makan dengan jumlah yang lebih besar bisa dilakukan jika waktunya cukup sebelum melakukan exercise atau pertandingan. Jumlah dari carbohydrate yang terlihat untuk meningkatkan performance harus berkisar dari kurang lebih 200 hingga 300 g dari carbohydrate untuk makan yang dilakukan 3–4 h sebelum melakukan exercise. Studi melaporkan bahwa apakah tidak ada efek atau efek yang bermanfaat dari makan sebelum melakukan pertandingan terhadap performance. Data tidak jelas mengenai apakah indeks glisemik dari karbohidrat pada saat melakukan exercise sebelum makan memberi pengaruh kepada performance.
Walaupun bimbingan diatas aman dan efektif, kebutuhan Individu atlet harus ditekankan. Sebagian atlet mengkonsumsi dan menikmati makan mbanyak (contoh pancakes, jus, dan telor orak-arik) 2–4 h sebelum melakukan exercise atau pertandingan; numan, yang lain dapat mengalami kesukaran yang amat hebat pda gastrointestinal sesudah makanan tersebut dan ketergantungan terhadap makanan cairan. Atlet harus selalu memastikan bahwa mereka mengetahui dapat yang terbaik untuk mereka dengan melakukan eksperimen dengan makananmakanan dan minuman-minuman baru pada saat mempraktekan sesi dan berencana kedepa untuk memastikan bahwa mereka akan mendapat akses terhadap makanan-makanan ini pada waktu yang tepat.
2. Kandungan gizi yang dibutuhkan Sesaat latihan
Penelitian yang dilakukan baru-baru ini menunjang manfaat dari konsumsi karbohidrat dalam jumlah yang diberikan pada minuman sport (6%–8%) terhadap endurance performance pada pertandingan yang berlangsung 1 h atau kurang, terutama pada atlet yang melakukan exercise pada pagi hari sesudah berpuasa salam malam pada saat tingkat glisogen hati dikurangi. Dengan memberi karbohidrat dari luar organ (exogenous carbohydrate) pada saat melakukan exercise membantu memelihara tingkat flukosa dan memperbaiki performance. Untuk pertandingan yang lebih lama, menkonsumsi 0.7g carbohydrates body weight (approximately 30–60 ) telah menunjukkan performance dengan jelas adanya daya tahan yang diperpanjang.
Menkonsumsi karbohidrat pada saat melakukan exercise lebih penting lagi dalam situasi dimana atlet tidak diisi dengan karbohidrat, tidak mengkonsum makananan sebelum melakukan exercise atau pemasukkan energy yang terbatas untuk tujuan hilang berat badan pemasukkan karbohdrat harus dimulai sesudah permulaan dari aktifitas; Dengan mengkonsumsi suatu jumlah karbohidrat yang di berikan dalam bentuk bolus (bentuk bulat khususnya untuk dikunyah) sesudah 2 jam exercise tidak seefektif dengan mengkonsmsi jumlah yang sama pada 15- hingga 20-menit interval selama melakukan aktifitas 2 h. Karbohidrat yang dikonsumsi haru menghasilkan glukosa utama; fructose sendiri tidak seefektif dan mungkin akan mengakibatkan diare, walaupun campuran dari glukosa dan fruktosa, gula lain yang sederhana dan other simple sugars and maltodextrins, kelihatannya efektif.
Jika jumlah keseluruhan dari karbohidrat dan cairan yang dikonsumsi, bentuk dari karbohidrat tidak terlihat bermasalah. Sebagian atlet mungkin memilih untuk memakai minimum sport, dimana yang lain mungkin memilih untuk mengkonsumsi suatu karbohidrat snak atau dan mengkonsumsi air. Seperti yang digambarkan ditempat lain dalam dokumen ini, pemasukkan cairan yang tepat juga esensial untuk untuk memelihara endurance performance.
4. Kandungan gizi yang dibutuhkan sesudah latihan
Waktu dan komposisi dari makanan atau snak sesudah pertandingan atau sebelum melakukan exercise tergantung dari kepanjangan dan intensitas dari sesi exercise (contoh, apakah terjadi penipisan dari glikogen) dan kapan latihan intensif yang lain akan terjadi. Sebagai contoh, sebagian para atlet akan menyelesaikan suatu marathon dengan penyimpanan glikogen yang menipis, dimana penipisan tersebut berkurang sesudah melakukan 90-menit latihan berlari. Karena para atlet yang bertanding dalam suatu marathon kemungkinannya tidak melakukan perlombaan lain atau kerja keras dalam satu hari. Waktu dan komposisi dari makanan sesudah melakukan exercise tidak terlalu kritis untuk para atlet ini. Sebaliknya, seorang triathlete ikut serta dalam suatu lari yang dilakukan selama a 90-menit dipagi hari dan suatu 3 jam latihan balapan di sore hari membutuhkan pemulihan antara sesi sesi latihan. Makanan sesudah latihan menjadi sangat penting dalam pencapaian gol ini.
Waktu pemasukkan karbohidrat sesudah melakukan exercise mempengaruhi glycogen synthesis sesudah jangka pendek. Konsumsi karbohidrat selama 30 menit sesudah melakukan exercise (1.0–1.5 g carbohydrateIkgj1 ada 2 jam intervals hingga 6 h seringkali direkomendasikan) menghasilkan tingkat glikogen yang lebih tinggi sesudah melakukan exercise daripada pada saat penundaan penkonsumpsian untuk 2 jam. Ini adalah sesi latihan yang intensif untuk mempraktekkan waktu pemberian bahan gizi menggantikan glikogen agar dapat memberi karbohidrat yang cukup untuk dikonsumsi pada saat masa 24-h sesudah masa exercise yang pendek . Namun demikian, menkomsi suatu makanan atau snak diakhir exercise mungkin menjadi penting untuk para atlet untuk mencapai karbohidrat harian dan gol energy.
Tipe dari karbohidrat yang dikonsumsi juga mempengaruhi postexercise glycogen synthesis. Pada saat melakukan perbandingan gula yang sederhana glukosa dan sukrosa terlihat sama-sama efektif pada saat dikonsumsi dengan kisaran 1.0–1.5 gIkgj1 berat badan selama 2 jam; fructose, sendiri tidak terlalu efektif. Sehubungan dengan konsumsi makanan penuh karbohidrat dengan indeks glisemik yang tinggi menghasilkan tingkat glikogen otot yang lebih tinggi 24 jam sesudah melakukan exercise glikogen yang menipis seperti perbandingan yang dilakukan dengan jumlah karbohidrat yang sama yang diberikan sebagai makanan dengan indeks glisemik yang rendah.
C. Kebutuhan Cairan bagi Atlet Sepakbola
Selain memenuhi kebutuhan energi, atlet sepakbola juga diharuskan untuk memperhatikan ketersediaan cairan di dalam tubuh agar dapat terhindar dari dehidrasi terutama saat berlangsungnya latihan/pertandingan. Dehidrasi yang disebabkan oleh berkurangnya cairan dari dalam tubuh akibat dari keluarnya keringat juga merupakan faktor yang menjadi penyebab menurunnya performa olahraga. Saat berolahraga, berkurangnya cairan tubuh melalui keluarnya keringat dan uap air dalam proses pernafasan walaupun hanya sebesar 2-3% dapat menyebabkan terjadinya penurunan performa hingga 10%. Sehingga tidak hanya mengkonsumsi cairan pada masa istiraharat setelah selesainya babak pertama, atlet sepakbola juga harus memperhatikan konsumsi cairannya pada saat sebelum, saat sedang latihan/pertandingan berlangsung dan setelah selesainya latihan/pertandingan.
Bergantung terhadap kondisi lingkungan dan intensitas pertandingan, atlet sepakbola dalam satu pertandingannya diperkirakan dapat mengalami pengurangan cairan tubuh melalui keluarnya keringat sebanyak 0.85-4.5 L. Kehilangan cairan tubuh sebesar 0.85 L ini tercatat dalam pertandingan yang dilakukan pada suhu lingkungan rendah yaitu 13 C dan kehilangan 4.5 L cairan tubuh tercatat dialami oleh salah seorang pemain tim nasional Denmark pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, namun berbagai penelitian dalam bidang olahraga sepakbola mencatat bahwa secara rata-rata pemain sepakbola akan kehilangan cairan melalui keluarnya keringat sebanyak 2.0-2.5 L dalam satu pertandingannya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Aspek psikologis yang paling berperan penting dalam penampilan atlet yaitu kepercayaan diri, kepercayaaan diri secara umum merupakan bagian penting dari karakteristik kepribadian seseorang yang dapat memfasilitasi kehidupan seseorang. Lebih lanjut dikatakan olehnya bahwa kepercayaan diri yang rendah akan memiliki pengaruh negative terhadap penampilan atlet
2. Kandungan Gizi yang Seharusnya Dikonsumsi Atlet
a. Sebelum latihan
Sebelum latihan atlet membutuhkan cairan cukup harus dikonsumsi untuk memelihara hidrasi, makanan harus secara relative rendah lemak dan serat untuk memfasilitasi pengosongan gastric dan mengurangi penderitaan gastrointestinal, tinggi dalam karbohidrat untuk memelihara glukosa darah dan memaksimumkan penyimpanan glycogen, protein yang sedang, dan para atlet yang terbiasa
b. Sesaat latihan
Saat latihan atlet membutuhkan karbohidrat, tentunya karbohidrat yang dikonsumsi haru menghasilkan glukosa utama; fructose sendiri tidak seefektif dan mungkin akan mengakibatkan diare, walaupun campuran dari glukosa dan fruktosa, gula lain yang sederhana dan other simple sugars and maltodextrins, kelihatannya efektif.
c. Sesudah latihan
Waktu dan komposisi dari makanan sesudah melakukan exercise tidak terlalu kritis untuk para atlet ini. Sesudah latihan atlit membutuhkan karbohitrat, hampir masa pada saat latihan Waktu pemasukkan karbohidrat sesudah melakukan exercise mempengaruhi glycogen synthesis sesudah jangka pendek. Konsumsi karbohidrat selama 30 menit sesudah melakukan exercise (1.0–1.5 g carbohydrateIkgj1 ada 2 jam intervals hingga 6 h seringkali direkomendasikan) menghasilkan tingkat glikogen yang lebih tinggi sesudah melakukan exercise daripada pada saat penundaan penkonsumpsian untuk 2 jam. Ini adalah sesi latihan yang intensif untuk mempraktekkan waktu pemberian bahan gizi menggantikan glikogen agar dapat memberi karbohidrat yang cukup untuk dikonsumsi pada saat masa 24-h sesudah masa exercise yang pendek . Namun demikian, menkomsi suatu makanan atau snak diakhir exercise mungkin menjadi penting untuk para atlet untuk mencapai karbohidrat harian dan gol energy.
3. Kebutuhan cairan pada atlet sepakbola bergantung terhadap kondisi lingkungan dan intensitas pertandingan, atlet sepakbola dalam satu pertandingannya diperkirakan dapat mengalami pengurangan cairan tubuh melalui keluarnya keringat sebanyak 0.85-4.5 L. Kehilangan cairan tubuh sebesar 0.85 L ini tercatat dalam pertandingan yang dilakukan pada suhu lingkungan rendah yaitu 13
B. Saran
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi bahan pertimbangan para ilmuan olahrga untuk lebih meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam melaksanakan kinerjanya agar dapat menciptakan atlit-atlit yang profesional dan berpotensi. Dan dalam integritas tertentu ilmuan olahraga harus paham bagaimana proses yang baik agar menghasilkan penampilan atlet seperti yang diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Bird, Stephen P. 2003. Creatine Supplementation and Exercise Performance: a brief review. Australia: Charles Sturt University. (http// www.jssm.org, di akses 23April 2010).
Devonport, T. J. 2006. Perceptions Of The Contribution Of Psychology To Success In Elite Kickboxing. UK: University of Wolverhampton. (http// www.jssm.org, di akses 23April 2010).
Devonport, Tracey J. 2005. Emotional States of Athletes Prior toPerformance-induced Injury. UK: University of Wolverhampton. (http// www.jssm.org, di akses 23April 2010).
Hoffman, J.R. dkk. 2007. Effects of protein supplementation on muscular performance and restinghormonal changes in college football player. USA: The College of New Jersey. (http// www.jssm.org, di akses 24April 2010).
Kerksick, Chad 2008. International Society of Sports Nutrition position stand: Nutrient Timing. USA: University of Oklahoma. (http://creativecommons.org di akses 23April 2010).
Mageau, Genevie` ve A. and Vallerand, Robert J. 2003.The Coach–athlete Relationship: a Motivational Model. Canada: Universite´ du Que´bec a` Montre´al. (http// www.jssm.org, di akses 24 April 2010).
McDowall, Jill Anne . 2007. Supplement use by young athletes. Canada: University of Prince Edward Island. (http// www.jssm.org, di akses 24April 2010).
Nuraga, Gerry. 2008. Pengertian sepakbola. (www.pengertian-sepak-bola.html di akses 10 Mei 2010)
Pamularsih,A. 2009. Hubungan Status Gizi dengan Prestasi Belajar Siswa di Sekolah Dasar Negeri 2 Selo Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Karya Tulis ilmiah. Diploma III. Surakarta : Universitas Muhammadiah Surakarta.
Peluso, E.A. dkk. 2005. A Comparison of Mental Strategies duringAthletic Skills Performance. USA : Saint Louis University. (http// www.jssm.org, di akses 23April 2010).
Poermadarminta, WJS. 1976. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Ramana Y.V. 2004. comparison of training loads and physiological responses in Athletes: consideration of body weight implications. India: Indian Council of Medical Research. (http://www.asep.org. di akses 23April 2010)
Satiadarma, Monty P. 2000. Dasar-dasar Psikologi Olahraga. Jakarta: Puastaka Sinar Harapan
Schinke, Robert J. dan Tabakman, Joy. 2001. Reflective Coaching Interventions for Athletic Excellence. Canada: Wendover, Ontario Canada. (www.athleticinsight.com di akses 23April 2010).
, . 2009. Nutrisi dan Performance Athletic. Amirican Colage of Sport Medicine. (www.acsm-msse.org di akses pada 23 April 2010)
Lampiran I
Psikologi Olahraga
Article Index
Psikologi Olahraga
Page 2
Page 3
Page 4
Page 5
All Pages
Oleh: Yusuf, S.Ag
A. Pengertian Psikologi Olahraga
1. Apakah Psikologi Olahraga?
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya, mulai dari perilaku sederhana sampai yang kompleks. Perilaku manusia ada yang disadari, namun ada pula yang tidak disadari, dan perilaku yang ditampilkan seseorang dapat bersumber dari luar ataupun dari dalam dirinya sendiri.
Ilmu psikologi diterapkan pula ke dalam bidang olahraga yang lalu dikenal sebagai psikologi olahraga. Penerapan psikologi ke dalam bidang olahraga ini adalah untuk membantu agar bakat olahraga yang ada dalam diri seseorang dapat dikembangkan sebaik-baiknya tanpa adanya hambatan dan factor-faktor yang ada dalam kepribadiannya. Dengan kata lain, tujuan umum dari psikologi olahraga adalah untuk membantu seseorang agar dapat menampilkan prestasi optimal, yang lebih baik dari sebelumnya.
2. Mengapa Psikologi Olahraga Diperlukan dalam Olahraga?
Meningkatnya stres dalam pertandingan dapat menyebabkan atlet bereaksi secara negatif, baik dalam hal fisik maupun psikis, sehingga kemampuan olahraganya menurun. Mereka dapat menjadi tegang. denyut nadi meningkat, berkeringat dingin, cemas akan hasil pertandingannya, dan mereka merasakan sulit berkonsentrasi. Keadaan ini seringkali menyebabkan para atlet tidak dapat menampilkan permainan terbaiknya. Para pelatih pun menaruh minat terhadap bidang psikologi olahraga, khususnya dalam pengendalian stres.
Psikologi olahraga juga diperlukan agar atlet berpikir mengenai. mengapa mereka berolahraga dan apa yang ingin mereka capai? Sekali tujuannya diketahui, latihan-latihan ketrampilan psikologis dapat menolong tercapainya tujuan tersebut.
3. Bagaimanakah Psikologi Olahraga Dapat Membantu Atlet Agar Memiliki Mental yang Tangguh?
Mental yang tegar, sama halnya dengan teknik dan fisik, akan didapat melalui latihan yang terencana, teratur, dan sistematis. Dalam membina aspek psikis atau mental atlet, pertama-tama perlu disadari bahwa setiap atlet harus dipandang secara individual, yang satu berbeda dengan yang lainnya. Untuk membantu mengenal profil setiap atlet, dapat dilakukan pemeriksaan psikologis, yang biasa dikenal dengan “psikotes”, dengan bantuan psikometri.
Profil psikologis atlet biasanya berupa gambaran kepnbadian secara umum, potensi intelektual. dan fungsi daya pikimya yang dihubungkan dengan olahraga. Profil atlet pada umumnya tidak berubah banyak dari waktu ke waktu. Oleh karenanya, orang sering beranggapan bahwa calon atlet berbakat dapat ditelusun semata-mata dari profil psikologisnya. Anggapan semacam ini keliru, karena gambaran psikologis seseorang tidak menjamin keberhasilan atau kegagalannya dalam prestasi olahraga, karena banyak sekali faktor lain yang mempengaruhinya. Beberapa aspek psikologis dapat diperbaiki melalui latihan ketrampilan psikologis (diuraikan kemudian) yang terencana dan sistematis, yang pelaksanaannya sangat tergantung dari komitmen si atlet terhadap program tersebut.
B. Aspek-aspek Psikologis yang berperan dalam Olahraga
Pengaruh faktor psikologis pada atlet akan terlihat dengan jelas pada saat atlet tersebut bertanding. Berikut ini akan diuraikan beberapa masalah psikologis yang paling sering timbul di kalangan olahraga, khususnya dalam kaitannya dengan pertandingan dan masa latihan.
1. Berpikir Positif
Berpikir positif dimaksudkan sebagai cara berpikir yang mengarahkan sesuatu ke arah positif, melihat segi baiknya. Hal ini perlu dibiasakan bukan saja oleh atlet, tetapi terlebih-lebih bagi pelatih yang melatihnya. Dengan membiasakan diri berpikir positif, maka akan berpengaruh sangat baik untuk menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan motivasi, dan menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Berpikir positif merupakan modal utama untuk dapat memiliki ketrampilan psikologis atau mental yang tangguh.
Pikiran positif akan diikuti dengan tindakan dan perkataan positif pula, karena pikiran akan menuntun tindakan. Sebagai contoh, jika dalam bermain bulutangkis terlintas pikiran negatif seperti, “takut salah, takut out, takut bola pukulannya tanggung” dan sebagainya, maka kemungkinan terjadi akan lebih besar. Karena itu cobalah dan biasakan untuk selalu berpikir positif, hindari yang negatif. Demikian juga dalam memberikan instruksi kepada atlet. Daripada mengatakan: “Kamu ini susah sekali sih diajarnya…, salah terus…! Awas, jangan berhenti sebelum bisa!”, lebih baik mengatakannya dengan cara yang positif walaupun maksudnya sama: “Ayo, coba lagi pelan-pelan, kamu pasti bisa melakukannya. Perhatikan, tangannya, begini… langkahnya, ke sini… kena bolanya, di sini… ayo dicoba”.
Sebagai pelatih, tunjukkan Anda percaya bahwa atlet Anda memiliki peluang untuk dapat berprestasi baik. Cemooh, celaan, dan kritik yang pedas yang tidak pada tempatnya, justru akan membuat atlet bereaksi negatif dan berakibat akan menurunkan motivasi yang diikuti dengan penurunan prestasi.
2. Penetapan Sasaran
Penetapan sasaran (goal setting) merupakan dasar dan latihan mental. Pelatih perlu membantu setiap atletnya untuk menetapkan sasaran, baik sasaran dalam latihan maupun dalam pertandingan. Sasaran tersebut mulai dan sasaran jangka panjang, menengah, sampai sasaran jangka pendek yang lebih spesifik.
Untuk menetapkan sasaran, ada tiga syarat yang perlu diingat agar sasaran itu bermanfaat, yaitu:
a. Sasaran harus menantang.
Sasaran yang ditentukan harus sedemikan rupa, sehingga atlet merasa tertantang untuk dapat mencapai sasaran tersebut.
b. Sasaran harus dapat dicapai.
Buatlah sasaran itu cukup tinggi, akan tetapi tidak terlalu tinggi. Atlet harus merasa bahwa sasaran yang ditetapkan itu dapat tercapai jika ia berusaha keras. Jika sasaran terlalu tinggi, sehingga atlet merasa mustahil dapat mencapainya, maka motivasi berlatihnya akan menurun. Demikian pula, jika sasaran tersebut terlalu mudah untuk dapat dicapai, maka atlet merasa tidak perlu berlatih keras karena ia akan dapat mencapai sasaran tersebut.
c. Sasaran harus meningkat.
Mulai dari sasaran yang relatif rendah, kemudian buatlah sasaran tersebut makin lama makin tinggi, semakin sulit tercapainya jika atlet tidak berlatih keras. Dalam setiap latihanpun biasakanlah selalu ada sasaran yang harus dicapai. Dan target yang bersifat umum, lalu uraikan lagi secara lebih spesifik. Dan target untuk suatu kompetisi jangka panjang, uraikan menjadi target atau sasaran jangka pendek, sampai target untuk setiap latihan. Sasaran yang ditetapkan tersebut, hendaknya juga ditetapkan kapan harus tercapainya, dan bagaimana pula cara mengukumya atau apa ukurannya secara objektif. Sedapat mungkin, buatkan grafik pencapaian sasaran tersebut agar terlihat jelas arah dan peningkatannya.
3. Motivasi
Motivasi dapat dilihat sebagai suatu proses dalam diri seseorang untuk melakukan sesuatu sebagai usaha dalam mencapai tujuan tertentu. Motivasi yang kuat menunjukkan bahwa dalam diri orang tersebut tertanam dorongan kuat untuk dapat melakukan sesuatu.
Ditinjau dari fungsi diri seseorang, motivasi dapat dibedakan antara motivasi yang berasal dan luar (ekstrinsik) dan motivasi yang berasal dari dalam diri sendiri (intrinsik). Dengan pendekatan psikologis diharapkan atlet dalam setiap penampilannya dapat memperlihatkan motivasi yang kuat untuk bermain sebaik-baiknya, sehingga dapat memenangkan pertandingan.
Motivasi yang baik tidak mendasarkan dorongannya pada faktor ekstrinsik seperti hadiah atau penghargaan dalam bentuk materi. Akan tetapi motivasi yang baik, kuat, dan lebih lama menetap adalah faktor intrinsik yang mendasarkan pada keinginan pribadi yang lebih mengutamakan prestasi untuk mencapai kepuasan diri daripada hal-hal yang material.
Untuk mengembangkan motivasi intrinsik ini, peran pelatih dan orangtua sangat besar. Pelatih perlu melakukan pendekatan dan menumbuhkan kepercayaan diri pada atlet secara positif. Ajarkan atlet untuk dapat menghargai diri sendiri, oleh karena itu, pelatih harus memperlihatkan bahwa ia menghargai hasil kerja atlet secara konsekuen.
4. Emosi
Faktor-faktor emosi dalam diri atlet menyangkut sikap dan perasaan atlet secara pribadi terhadap diri sendiri, pelatih maupun hal-hal lain di sekelilingnya. Bentuk-bentuk emosi dikenal sebagai perasaan seperti senang, sedih, marah, cemas, takut, dan sebagainya. Bentuk-bentuk emosi tersebut terdapat pada setiap orang. Akan tetapi yang perlu diperhatikan di sini adalah bagaimana kita mengendalikan emosi tersebut agar tidak merugikan diri sendiri.
Pengendalian emosi dalam pertandingan olahraga seringkali menjadi faktor penentu kemenangan. Para pelatih harus mengetahui dengan jelas bagaimana gejolak emosi atlet asuhannya, bukan saja dalam pertandingan tetapi juga dalam latihan dan kehidupan sehari-hari. Pelatih perlu tahu kapan dan hal apa saja yang dapat membuat atletnya marah, senang, sedih, takut, dan sebagainya. Dengan demikian pelatih perlu juga mencari data-data untuk mengendalikan emosi para atlet asuhannya. yang tentu saja akan berbeda antara atlet yang satu dengan atlet lainnya.
Gejolak emosi dapat mengganggu keseimbangan psikofisiologis seperti gemetar, sakit perut, kejang otot, dan sebagainya. Dengan terganggunya keseimbangan fisiologis maka konsentrasi pun akan terganggu, sehingga atlet tidak dapat tampil maksimal. Seringkali seorang atlet mengalami ketegangan yang memuncak hanya beberapa saat sebelum pertandingan dimulai. Demikian hebatnya ketegangan tersebut sampai ia tidak dapat melakukan awalan dengan baik. Apalagi jika lawannya dapat menekan dan penonton pun tidak berpihak padanya, maka dapat dibayangkan atlet tersebut tidak akan dapat bermain baik. Konsentrasinya akan buyar, strategi yang sudah disiapkan tidak dapat dijalankan, bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa.
Disinilah perlunya dipelajari cara-cara mengatasi ketegangan (stress mana- gement). Sebelum pelatih mencoba mengatasi ketegangan atletnya. terlebih dulu harus diketahui sumber-sumber ketegangan tersebut. Untuk mengetahuinya, diperlukan adanya komunikasi yang baik antara pelatih dengan atlet. Berikut ini dijelaskan secara terpisah mengenai aspek-aspek yang berkaitan dengan emosi.
5. Kecemasan dan Ketegangan
Kecemasan biasanya berhubungan dengan perasaan takut akan kehilangan sesuatu, kegagalan, rasa salah, takut mengecewakan orang lain, dan perasaan tidak enak lainnya. Kecemasan-kecemasan tersebut membuat atlet menjadi tegang, sehingga bila ia terjun ke dalam pertandingan maka dapat dipastikan penampilannya tidak akan optimal. Untuk itu, telah banyak diketahui berbagai teknik untuk mengatasi kecemasan dan ketegangan yang penggunaannya tergantung dari macam kecemasannya.
Sebagai usaha untuk dapat mengatasi ketegangan dan kecemasan, khususnya dalam menghadapi pertandingan, lakukanlah beberapa teknik berikut ini :
1. Identifikasikan dan temukan sumber utama dan permasalahan yang menimbulkan kecemasan.
2. Lakukan latihan simulasi, yaitu latihan di bawah kondisi seperti dalam pertandingan sesungguhnya.
3. Usahakan untuk mengingat, memikirkan dan merasakan kembali saat-saat ketika mencapai penampilan paling baik atau paling mengesankan.
4. Lakukan latihan relaksasi progresif, yaitu melakukan peregangan alau pengendoran otot-otot tertentu secara sistematis dalam waktu tertentu.
5. Lakukan latihan otogenik, yaitu bentuk latihan relaksasi yang secara sistematis memikirkan dan merasakan bagian-bagian tubuh sebagai hangat dan berat.
6. Lakukan latihan pernapasan dengan bernapas melalui mulut dan hidung serta secara sadar bernapas dengan menggunakan diafragma.
7. Dengarkan musik (untuk mengalihkan perhatian).
8. Berbincang-bincang, berada dalam situasi sosial (untuk mengalihkan perhatian).
9. Membuat pernyataan-pernyataan positif terhadap diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang diperlukan saat itu.
10. Lain-lain yang dapat mengurangi ketegangan.
6. Kepercayaan Diri
Dalam olahraga, kepercayaan diri sudah pasti menjadi salah satu faktor penentu suksesnya seorang atlet. Masalah kurang atau hilangnya rasa percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri akan mengakibatkan atlet tampil di bawah kemampuannya. Karena itu sesungguhnya atlet tidak perlu merasa ragu akan kemampuannya, sepanjang ia telah berlatih secara sungguh-sungguh dan memiliki pengalaman bertanding yang memadai.
Peran pelatih dalam menumbuhkan rasa percaya diri atletnya sangat besar. Syarat untuk untuk membangun kepercayaan diri adalah sikap positif. Beritahu pemain di mana letak kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Buatkan program latihan untuk setiap atlet dan bantu mereka untuk memasang target sesuai dengan kemampuannya agar target dapat tercapai jika latihan dilakukan dengan usaha keras. Berikan kritik membangun dalam melakukan penilaian terhadap atlet. Ingat, kritik negatif bahkan akan mengurangi rasa percaya diri.
Jika pemain telah bekerja keras dan bermain bagus (walaupun kalah), tunjukkan penghargaan Anda sebagai pelatih. Jika pemain mengalami kekalahan (apalagi tidak dengan bermain baik), hadapkan ia pada kenyataan objektif. Artinya, beritahukan mana yang telah dilakukannya secara benar dan mana yang salah, serta tunjukkan bagaimana seharusnya. Menemui pemain yang baru saja mengalami kekalahan harus dilakukan sesegera mungkin dibandingkan dengan menemui pemain yang baru saja mencetak kemenangan.
7. Komunikasi
Komunikasi yang dimaksud adalah komunikasi dua arah, khususnya antara atlet dengan pelatih. Masalah yang sering timbul dalam hal kurang terjalinnya komunikasi yang baik antara pelatih dengan atletnya adalah timbulnya salah pengertian yang menyebabkan atlet merasa diperlakukan tidak adil, sehingga tidak mau bersikap terbuka terhadap pelatih. Akibat lebih jauh adalah berkurangnya kepercayaan atlet terhadap pelatih.
Untuk menghindari terjadinya hambatan komunikasi, pelatih perlu menyesuaikan teknik-teknik komunikasi dengan para atlet seraya memperhatikan asas individual. Keterbukaan pelatih dalam hal pogram latihan akan membantu terjalinnya komunikasi yang baik, asalkan dilakukan secara objektif dan konsekuen. Atlet perlu diberi pengertian tentang tujuan program latihan dan fungsinya bagi tiap-tiap individu.
Sebelum program latihan dijalankan, perlu dijelaskan dan dibuat peraturan mengenai tata tertib latihan dan aturan main lainnya termasuk sanksi yang clikenakan jika terjadi pelanggaran terhadap peraturan yang telah dibuat tersebut. Jadi, hindarilah untuk memberlakukan suatu sanksi yang belum pernah diberitahukan sebelumnya. Misalnya, seorang atlet minum Coca Cola dalam latihan, lalu dihukum oleh pelatih. Atlet tersebut bingung dan bertanya-tanya mengapa ia dihukum karena ia tidak pernah dijelaskan sebelumnya oleh pelatih bahwa dalam latihan dilarang minum minuman bersoda.
Demikian pula dalam hal pelaksanaanya. Peraturan yang sudah dibuat, haruslah dijalankan secara konsekuen. Artinya, jika seorang atlet dihukum karena melanggar peraturan tertentu, maka jika ada atlet lain yang melanggar peraturan yang sama ia pun harus mendapat hukuman yang sama. Demikian pula jika atlet yang sama melakukannya lagi di kemudian hari.
Pelatih pun perlu bersikap objektif dan berpikir positif. Bersikap objektif maksudnya adalah bersikap sesuai dengan kenyataan atau fakta apa adanya tanpa menyangkutpautkan dengan hal lain. Jika pelatih marah terhadap atlet karena misalnya si atlet datang terlambat dalam latihan, maka hukumlah atlet itu hanya atas keterlambatannya, jangan dihubungkan dengan hal-hal lain (ingat, hukuman tersebut harus sudah tertera dalam tata tertib latihan).
8. Konsentrasi
Konsentrasi merupakan suatu keadaan di mana kesadaran seseorang tertuju kepada suatu obyek tententu dalam waktu tertentu. Makin baik konsentrasi seseorang, maka makin lama ia dapat melakukan konsentrasi. Dalam olahraga, konsentrasi sangat penting peranannya. Dengan berkurangnya atau terganggunya konsentrasi atlet pada saat latihan, apalagi pertandingan, maka akan timbul berbagai masalah.
Dalam olahraga, masalah yang paling sering timbul akibat terganggunya konsentrasi adalah berkurangnya akurasi lemparan, pukulan, tendangan & tembakan sehingga tidak mengenai sasaran. Akibat lebih lanjut jika akurasi berkurang adalah strategi yang sudah dipersiapkan menjadi tidak jalan, sehingga atlet akhimya kebingungan, tidak tahu harus bermain bagaimana dan pasti kepercayan dirinya pun akan berkurang. Untuk menghindari keadaan tersebut, perlu dilakukan latihan berkonsentrasi.
9. Evaluasi Diri
Evaluasi diri dimaksudkan sebagai usaha atlet untuk mengenali keadaan yang terjadi pada dirinya sendiri. Hal ini perlu dilakukan agar atlet dapat mengetahui kelemahan dan kelebihan dirinya pada saat yang lalu maupun saat ini. Dengan bekal pengetahuan akan keadaan dirinya ini maka pemain dapat memasang target latihan maupun target pertandingan dan cara mengukurnya. Kegunaan lainnya adalah untuk mengevaluasi hal-hal yang telah dilakukannya, sehingga memungkinkan untuk mengulangi penampilan terbaik dan mencegah terulangnya penampilan buruk.
Oleh karena itu, pelatih perlu menginstruksikan atletnya untuk memiliki buku catatan harian mengenai latihan dan pertandingan. Minta pemain untuk menuliskan kelemahan dan kelebihan diri sendiri, baik dalam segi fisik, teknik, maupun mental. Kemudian koreksilah jika menurut Anda sebagai pelatih ada hal-hal yang tidak sesuai atau ada yang kurang.
Biasakan agar atlet mengisi buku tersebut secara teratur. Ajak atlet untuk menuliskan di dalam bukunya hal-hal yang intinya sebagai berikut:
- Target jangka panjang, menengah, dan jangka pendek dalam latihan dan pertandingan.
- Sesuatu yang dilakukan dan dipikirkan sebelum latihan atau pertandingan.
- Suatu gerakan atau penampilan mengesankan.
- Catatan mengenai kelemahan dan kelebihan lawan yang akan dihadapi dan strategi enghadapinya.
- Hasil dan jalannya pertandingan.
- Hal yang mengganggu emosi atau membuat penampilan jadi buruk.
- Penghargaan yang didapat atas suatu keberhasilan.
Pastikan bahwa buku tersebut diisi secara teratur oleh setiap atlet. Namun perlu diingat bahwa pelatih jangan terlalu memaksa untuk membaca buku harian atlet. Biarkan itu menjadi bagian dan rahasia pribadi mereka. Yang perlu dipantau oleh pelatih adalah bahwa atlet mempunyai bahan bagi dirinya sendiri untuk melakukan evaluasi.
C. Persiapan Pertandingan
Setelah atlet dilatih baik fisik, teknik, strategi, maupun mentalnya dengan program latihan yang tepat, maka untuk menguji hasil latihannya adalah dengan lterjun ke dalam pertandingan. Tentunya diharapkan bahwa setiap pemain akan dapat menampilkan seluruh kemampuannya yang didapat dan latihan. Namun acapkali pemain tampil di bawah form, artinya ia tidak dapat menampilkan seluruh kemampuan yang dimilikinya pada saat pertandingan.
Untuk mengatasi hal seperti di atas, perlu diciptakan situasi yang mendukung yang tercapainya prestasi optimal dan dilakukan perwapan mental untuk menghadapi suatu pertandingan agar si atlet dapat menampilkan seluruh kemampuannya, sehingga tercapailah prestasi puncak.
Ada empat tahap penting dalam persiapan menuju pertandingan, yaitu
(1). Sebelum hari pertandingan
(2). Pada hari pertandingan
(3). Saat pertandingan
(4). Setelah hari pertandingan.
Berikut uraiannya dalam contoh persiapan pertandingan bulutangkis:
1. Sebelum Hari Pertandingan
1. Kumpulkan data mengenai kekuatan dan kelemahan lawan. Jika memungkin- kan, putarlah rekaman pertandingannya. Kemudian susunlah strategi untuk menghadapinya. Untuk pemain ganda, diskusikan strategi tersebut dengan pasangannya.
2. Pantau kemajuan atlet, baik fisik maupun mentalnya dengan memperhatikan bagaimana tingkat konsentrasinya, bagaimana irama, timing, power, dan kelancaran menjalankan ketrampilannya serta sikapnya terhadap latihan secara umum.
3. Pantau tingkat kecemasan atlet dengan melihat ekspresi wajahnya apakah cerah atau murung: apakah sinar matanya letih atau segar dan awas. Juga perhatikan suasana hatinya, bagaimana kualitas tidur dan makannya, apakah ia mengalami faktor-faktor psikosomatis seperti sakit perut, nyeri otot, sesak nafas, demam, batuk, keringat dingin, dan sebagainya.
4. Pada saat tidak latihan, pastikan bahwa atlet tidak “hidup dan berpikir” mengenai pertandingannya 24 jam sehan. Berikan aktivitas yang menyenangkan bagi dirinya yang dapat memberikan suasana gembira, sehingga ia bisa mengalihkan pikirannya sejenak dari pertandingan.
5. Satu hari menjelang pertandingan, biasanya cukup latihan ringan saja dan tidak perlu berada di lapangan terlalu lama. Pada malam hari sebelum bertanding, tidurlah pada saat yang tepat, tidak perlu tidur terlalu cepat. Sebelum tidur, lakukan latihan relaksasi dan visualisasi. Jika pertandingan besok dilakukan pagi atau siang hari, siapkan alat-alat perperlengkapan pertandingan, termasuk baju ganti dan perlengkapan cadangan malam ini juga agar esok tidak terburu-buru. Pastikan semua dalam keadaan baik.
2. Pada Hari Pertandingan
1. Bangun tidur pada saat yang tepat, malamnya harus tidur cukup dan tidak berlebihan. Kemudian lakukan aktivitas rutin kebiasaan sehari-hari, seperti sembahyang, berdoa, stretching, sarapan (perhatikan kapan harus makan dan apa yang harus dimakan), latihan relaksasi dan visualisasi, memeriksa kembali perlengkapan pertandingan termasuk cadangannya. Mulailah hari ini dengan gembira, optimis, dan berpikir positif.
2. Berangkatlah ke tempat pertandingan pada saat yang tepat. Perhitungkan jarak ke tempat pertandingan, bagaimana mencapainya, kemacetannya dan sebagainya. Tidak perlu berangkat terlalu cepat, namun jangan sampai terlambat, sehingga tidak ada waktu untuk istirahat, penyesuaian dan pemanasan.
3. Di tempat pertandingan pelatih perlu mengenali atlet mana yang berada didekat teman-temannya dan mana yang lebih suka menyendiri. Pastikan di lapangan mana atlet yang akan bertanding, jangan lupa melapor panitia. Untuk pertandingan pertama, pastikan atlet sudah hapal dimana letak ruang ganti, WC, ruang kesehatan, tes doping, tempat ganti senar, dan sebagainya.
4. Sambil melakukan pemanasan, atlet hendaknya meningkatkan level `semangat’ dlan tetap berpikir positif. Pelatih dapat mengingatkan strategi yang akan diterapkan secara sekilas. Lakukan stroke dengan penuh konsentrasi yang kemudian dapat dilanjutkan dengan’visualisasi clan relaksasi.
3. Saat Bertanding
Saat bertanding tiba, bukan waktunya lagi untuk memikirkan teknik memukul atau bagaimana harus melangkah. Itu semua sudah dilatih dalam latihan dan sudah dihayati dalam visualisasi. Sekarang saatnya tinggal mengulang-ulang kejadian yang sudah divisualisasikan dan melakukannya sesuai dengan situasi saat ini. Sekarang adalah saatnya melakukan konsentrasi penuh hanya pada bola dan jalannya pertandingan.
Anjurkan atlet untuk:
1. Memantau clan menyesuaikan tingkat kecemasan, lakukan relaksasi.
2. Pusatkan perhatian semata-mata hanya terhadap permainan yang sedang dijalani. Kesalahan yang baru atau pernah terjadi, clan yang mungkin terjadi jangan dihiraukan.
3. Berpikir positif dan optimis, jangan biarkan pikiran-pikiran negatif.
4. Jangan terlalu banyak menganalisa.
5. Bermainlah dengan irama sendiri, jangan terbawa irama lawan.
6. Menjalankan strategi yang telah disiapkan. Jangan diubah jika strategi itu berjalan. Lakukan evaluasi singkat, jika strategi tidak jalan, lakukan penyesuaian dengan alternatif strategi yang sudah dipersiapkan.
7. Hindari hal-hal negatif seperti, menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, berbicara terhadap diri sendiri berlebihan, berpikir negatif, meragukan kemampuan clan menyerah sebelum pertandingan selesai.
8. Jika bermain bagus, jangan bertanya mengapa clan mengganti apapun; biarkan berjalan demikian. Jangan mengendor jika sedang leading (memimpin pertandingan), clan tidak perlu kasihan jika lawan mendapat angka nol.
4. Setelah Hari Pertandingan
1. Mintalah atlet mencatat hal-hal posisitf maupun negatif yang dirasa berpengaruh terhadap penampilannya dalam pertandingan tadi. Bukan hanya yang bersifat teknik, taktik, clan strategi, tetapi juga yang bersifat mental, bahkan hal-hal kecil lainnya. Catat hasil tersebut dalam buku evaluasi si atlet.
2. Evaluasi penampilan dalam pertandingan tadi. Apakah mencapai sasaran?
3. Putuskan apakah perlu diadakan penyesuaian terhadap program latihan.
4. Pusatkan perhatian terhadap aspek-aspek positif dari penampilan dalam pertandingan.
D. Pelatih Sebagai Pembina Mental Atlit
Pelatih dalam olahraga dapat mempunyai fungsi sebagai pembuat atau pelaksana program latihan, sebagai motivator, konselor, evaluator dan yang bertanggung jawab terhadap segala hal yang berhubungan dengan kepelatihan tersebut. Sebagai manusia biasa, pelatih sama halnya dengan atlet, mempunyai kepribadian yang unik yang berbeda antara satu dengan lainnya. Setiap pelatih memiliki kelebihan dan kekurangan, karena itu tidak ada pelatih yang murni ideal atau sempura.
Dalam mengisi peran sebagai pelatih, seseorang harus melibatkan diri secara total dengan atlet asuhannya. Artinya, seorang pelatih bukan hanya melulu mengurusi masalah atau hal-hal yang berhubungan dengan olahraganya saja, tetapi pelatih juga harus dapat berperan sebagai teman, guru. orangtua, konselor, bahkan psikolog bagi atlet asuhannya. Dengan demikian dapat diharapkan bahwa atlet sebagai seorang yang ingin mengembangkan prestasi, akan mempunyai kepercayaan penuh terhadap pelatihnya.
Keterlibatan yang mendalam antara pelatih dengan atlet asuhannya harus dilandasi oleh adanya empati dan pelatih terhadap atletnya tersebut.Empati ini merupakan kemampuan pelatih untuk dapat menghayati perasaan atau keadaan atletnya, yang berarti pelatih dapat mengerti atletnya secara total tanpa ia sendiri kehilangan identitas pnbadinya. Untuk mengerti keadaan atlet dapat diperoleh dengan mengetahui atau mengenal hal-hal penting yang ada pada atlet yang bersangkutan. Pengetahuan sekadarnya saia tidak cukup bagi pelatih untuk mengetahui keadaan psikologi atletnya. Dasar dan sikap mau memahami keadaan psikologi atletnya adalah pengertian pelatih bahwa setiap orang memiliki sifat-sifat khusus yang memerlukan penanganan khusus pula dalam hubungan dengan pengembangan potensinya.
Kepribadian seorang pelatih dapat pula membentuk kepribadian atlet yang menjadi asuhannya. Hal terpenting yang harus ditanamkan pelatih kepada atletnya adalah bahwa atlet percaya pada pelatih bahwa apa yang diprogramkan dan dilakukan oleh pelatih adalah untuk kebaikan dan kemajuan si atlet itu sendiri. Untuk bisa mendapatkan kepercayaan tersebut dari atlet, pelatih tidak cukup hanya memintanya, tetapi harus membuktikannya melalui ucapan, perbuatan, dan ketulusan hati. Sekali atlet mempercayai pelatih maka seberat apapun program yang dibuat pelatih akan dijalankan oleh si atlet dengan sungguh-sungguh.
Referensi :
1. Sarjono, Seni Bela Diri Pernapasan Fisik Dan Meta Fisik, PT. Grasindo, Anggota Ikapi, Jakarta, 2002.
2. Sumosardjuno, Sadoso, Petunjuk Praktis Kesehatan Olahraga, Jakarta Pustaka KGU, 1987.
3. PEDOMAN PRAKTIS BERMAIN BULUTANGKIS, Oleh: PB PBSI)
LAMPIRAN II
Kepercayaan Diri Atlet PON DIY Menghadapi PON XVI Di Palembang
Senin, 07 Juni 2010
Proposal Kegiatan
PROPOSAL KEGIATAN
KEJUARAAN BULUTANGKIS
ANTAR SMP Se-SURABAYA
Organized by:
Mahasiswa Penkesrek 2007
Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Surabaya
2010
A. LATAR BELAKANG
Cabang olahraga bulutangkis merupakan cabang olahraga yang sangat populer di kalangan masyarakat, dan merupakan cabang olahraga yang sering mengharumkan nama bangsa , dan ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dengan adanya prestasi yang membanggakan tersebut, maka saat ini tidak ada alasan untuk tidak memacu prestasi dan mempersembahkan prestasi yang lebih baik lagi.
Kompetisi-kompetisi bulutangkis di tanah air sudah berkembang dan menunjukkan profesionalismenya, hal itu juga yang membuat atlet-atlet bulutangkis tanah air menjadi terpacu untuk bersaing dalam sebuah pertandingan. Dengan kondisi tersebut, dituntut adanya kinerja yang lebih baik bagi seluruh pecinta dan penggemar bulutangkis untuk selalu menggalakkan, memasyarakatkan dan melakukan pembibitan secara terus menerus untuk mencapai prestasi yang optimal. Dengan pembibitan yang berkesinambungan dan ditunjang dengan proses pembinaan yang melibatkan perkembangan IPTEK, maka hendaknya upaya-upaya untuk memajukan cabang olahraga ini wajib didukung oleh seluruh pihak yang berkompeten terhadap pencapaian prestasi.
Dari uraian tersebut di atas, terfikir suatu keinginan untuk mengembangkan pebulutangkisan Indonesia pada umumnya, dan Surabaya pada khususnya, menjadi olahraga yang bias diandalkan. Hal ini mengingat bahwa Surabaya memiliki bibit atlit yang unggul.
Sebagai upaya untuk meningkatkan pembinaan dan prestasi atlet muda Surabaya, dan dalam memenuhi tugas matakuliah manajemen olahraga, maka kami selaku mahasiswa Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi angkatan 2007 Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) akan mengadakan sebuah Kejuaraan Bulutangkis Antar SMP se-Surabaya. Dengan harapan kejuaraan ini akan menghasilkan atlet-atlet bulutangkis yang handal untuk meningkatkan prestasi yang baik.
B. NAMA KEGIATAN
Kegiatan ini dinamakan Kejuaraan Bulutangkis Antar SMP se- Surabaya “PENKESREK CUP” 2010.
C. TEMA KEGIATAN
Dengan semangat olahraga , kita junjung sportivitas dan semangat juang untuk meraih prestasi.
D. TUJUAN KEGIATAN
Dari uraian di atas, maka tujuan dari kegiatan ini adalah:
Menjalin persatuan, memupuk persahabatan dan mempererat tali persaudaraan antar siwa-siswi SMP se- Surabaya.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas pemain bulutangkis di tingkat SMP se- Surabaya.
Mengenalkan jurusan PENKESREK
E. DASAR KEGIATAN
Pancasila dan UUD 1945
Tri Dharma Perguruan Tinggi
F. WAKTU dan TEMPAT KEGIATAN
Kejuaraan bulutangkis Antar SMP se- Surabaya “PENKESREK CUP ” akan dilaksanakan pada:
Hari : Sabtu dan Minggu
Tanggal : mulai tanggal 17 April - 1 Mei 2010
Pukul : 08.30 - Selesai
Tempat : GOR Bima UNESA Kampus Lidah Wetan
G. SUSUNAN PANITIA
Terlampir
H. ANGGARAN DANA
Terlampir
I. PENUTUP
Apapun hasil yang akan didapat dalam kejuaraan ini, tentu hasil yang diharapkan dapat meningkatkan dan memajukan pebulutangkisan di tanah air. Khususnya pemain bulutangkis di kalangan pelajar SMP se- Jawa Timur.
Demikian pembuatan proposal ini. Semoga dapat dijadikan acuan atau referensi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan berikutnya.
LEMBAR PENGESAHAN
Proposal penyelenggaraan Kejuaraan bulutangkis Antar SMP se- Surabaya Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi Angkatan 2007 Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya.
Surabaya, Maret 2010
Ketua Panitia Sekertaris
Imam Bukhori Ersi Endita
NIM. 076484204 NIM. 076484034
Menyetujui,
Ketua Jurusan Penkesrek Dosen Mata Kuliah
FIK UNESA Manajemen Olahraga
Erman, S.Pd. M.Pd Dr. Himawan Wismanadi, Mpd
NIP. NIP.
Mengetahui
Dekan FIK UNESA
Drs. Abdulrachman S. T. M. Pd
NIP. 195709041987011001
SUSUNAN PANITIA
KEJUARAAN BULUTANGKIS ANTAR SMP
Se- SURABAYA
“PENKESREK CUP” 2010
Pelindung : Rektor UNESA
Pembantu Rektor I UNESA
Pembantu Rektor II UNESA
Pembantu Rektor III UNESA
Penasihat : Dekan FIK UNESA
Pembantu Dekan I FIK UNESA
Pembantu Dekan II FIK UNESA
Pembantu Dekan III FIK UNESA
Penanggung Jawab : Dr. Erman, S.Pd. M.Pd. (Ketua Jurusan
Pendidikan Olahraga)
Pembina : Dr. Himawan W, M.Pd
Ketua : Imam Bukhori
Sekertaris : Ersi Endita
Bendahara : Dwi Nur Rahma
Koor. Sie Keamanan : Imam Mokhsinun
Koor. Sie kesekretariatan : Hera Ristanto
Koor. Perlengkapan : Rubbi Kurniawan
Koor. Konsumsi : Dwi Nur Rahma
Koor. Pertandingan : M Khamdi
Koor. Kesehatan : M Masrur
Koor. PubDekDok : M Abidin H
Koor. Penggalian Dana : Dian Prasetyo
ANGGARAN DANA
1. Kesekretariatan
Sertifikat
100 x @ Rp. 5.000 Rp 500.000
Pengadaan proposal Rp 500.000
Surat menyurat Rp 500.000
Pembuatan stempel dan perlengkapan lainnya Rp 100.000
Kwitansi 20 x @ Rp. 2.500 Rp 50.000
Foto copy formulir pendaftaran Rp 50.000
ID card peserta dan panitia Rp 750.000
Pembuatan karcis parkir Rp 50.000
2. Pubdedok
Spanduk dan perlengkapan lainnya Rp 500.000
Sewa Lapangan Bulutangkis Rp 500.000
Shuttlecock Rp 500.000
3. Konsumsi
Makan panitia dan wasit Rp. 5.000 x 15 hari Rp 5.000.000
Aqua 50 Dus x @ Rp. 12.000 Rp 600.000
Konsumsi TM 50 x Rp. 5.000 Rp 250.000
Komsumsi undangan 30 x 2 x @ Rp. 5.000 Rp 300.000
4. Perlengkapan
Sound system 2 x Rp. 500.000 (pembukaan dan penutupan) Rp 1.000.000
Sewa lapangan 15 hari x Rp. 100.000 Rp 1.500.000
Pembuatan scoreboard Rp 500.000
5. Pertandingan dan Perwasitan
Hadiah Pemenang
Juara I Rp 500.000
Juara II Rp 300.000
Juara III Rp 100.000
Trophy 1 set Rp 750.000
6. Honor Wasit 10 pertandingan x @ Rp. 250.000 Rp 2.500.000
7. Akomodasi
8. Biaya transportasi (dirinci lagi) Rp 600.000
9. Kesehatan
Obat-obatan Rp 600.000
Penggalian dana Rp 500.000
TOTAL Rp 16.300.000
Paraf sekertaris
KEJUARAAN BULUTANGKIS
ANTAR SMP Se-SURABAYA
Organized by:
Mahasiswa Penkesrek 2007
Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Surabaya
2010
A. LATAR BELAKANG
Cabang olahraga bulutangkis merupakan cabang olahraga yang sangat populer di kalangan masyarakat, dan merupakan cabang olahraga yang sering mengharumkan nama bangsa , dan ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Dengan adanya prestasi yang membanggakan tersebut, maka saat ini tidak ada alasan untuk tidak memacu prestasi dan mempersembahkan prestasi yang lebih baik lagi.
Kompetisi-kompetisi bulutangkis di tanah air sudah berkembang dan menunjukkan profesionalismenya, hal itu juga yang membuat atlet-atlet bulutangkis tanah air menjadi terpacu untuk bersaing dalam sebuah pertandingan. Dengan kondisi tersebut, dituntut adanya kinerja yang lebih baik bagi seluruh pecinta dan penggemar bulutangkis untuk selalu menggalakkan, memasyarakatkan dan melakukan pembibitan secara terus menerus untuk mencapai prestasi yang optimal. Dengan pembibitan yang berkesinambungan dan ditunjang dengan proses pembinaan yang melibatkan perkembangan IPTEK, maka hendaknya upaya-upaya untuk memajukan cabang olahraga ini wajib didukung oleh seluruh pihak yang berkompeten terhadap pencapaian prestasi.
Dari uraian tersebut di atas, terfikir suatu keinginan untuk mengembangkan pebulutangkisan Indonesia pada umumnya, dan Surabaya pada khususnya, menjadi olahraga yang bias diandalkan. Hal ini mengingat bahwa Surabaya memiliki bibit atlit yang unggul.
Sebagai upaya untuk meningkatkan pembinaan dan prestasi atlet muda Surabaya, dan dalam memenuhi tugas matakuliah manajemen olahraga, maka kami selaku mahasiswa Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi angkatan 2007 Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) akan mengadakan sebuah Kejuaraan Bulutangkis Antar SMP se-Surabaya. Dengan harapan kejuaraan ini akan menghasilkan atlet-atlet bulutangkis yang handal untuk meningkatkan prestasi yang baik.
B. NAMA KEGIATAN
Kegiatan ini dinamakan Kejuaraan Bulutangkis Antar SMP se- Surabaya “PENKESREK CUP” 2010.
C. TEMA KEGIATAN
Dengan semangat olahraga , kita junjung sportivitas dan semangat juang untuk meraih prestasi.
D. TUJUAN KEGIATAN
Dari uraian di atas, maka tujuan dari kegiatan ini adalah:
Menjalin persatuan, memupuk persahabatan dan mempererat tali persaudaraan antar siwa-siswi SMP se- Surabaya.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas pemain bulutangkis di tingkat SMP se- Surabaya.
Mengenalkan jurusan PENKESREK
E. DASAR KEGIATAN
Pancasila dan UUD 1945
Tri Dharma Perguruan Tinggi
F. WAKTU dan TEMPAT KEGIATAN
Kejuaraan bulutangkis Antar SMP se- Surabaya “PENKESREK CUP ” akan dilaksanakan pada:
Hari : Sabtu dan Minggu
Tanggal : mulai tanggal 17 April - 1 Mei 2010
Pukul : 08.30 - Selesai
Tempat : GOR Bima UNESA Kampus Lidah Wetan
G. SUSUNAN PANITIA
Terlampir
H. ANGGARAN DANA
Terlampir
I. PENUTUP
Apapun hasil yang akan didapat dalam kejuaraan ini, tentu hasil yang diharapkan dapat meningkatkan dan memajukan pebulutangkisan di tanah air. Khususnya pemain bulutangkis di kalangan pelajar SMP se- Jawa Timur.
Demikian pembuatan proposal ini. Semoga dapat dijadikan acuan atau referensi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan berikutnya.
LEMBAR PENGESAHAN
Proposal penyelenggaraan Kejuaraan bulutangkis Antar SMP se- Surabaya Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi Angkatan 2007 Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Surabaya.
Surabaya, Maret 2010
Ketua Panitia Sekertaris
Imam Bukhori Ersi Endita
NIM. 076484204 NIM. 076484034
Menyetujui,
Ketua Jurusan Penkesrek Dosen Mata Kuliah
FIK UNESA Manajemen Olahraga
Erman, S.Pd. M.Pd Dr. Himawan Wismanadi, Mpd
NIP. NIP.
Mengetahui
Dekan FIK UNESA
Drs. Abdulrachman S. T. M. Pd
NIP. 195709041987011001
SUSUNAN PANITIA
KEJUARAAN BULUTANGKIS ANTAR SMP
Se- SURABAYA
“PENKESREK CUP” 2010
Pelindung : Rektor UNESA
Pembantu Rektor I UNESA
Pembantu Rektor II UNESA
Pembantu Rektor III UNESA
Penasihat : Dekan FIK UNESA
Pembantu Dekan I FIK UNESA
Pembantu Dekan II FIK UNESA
Pembantu Dekan III FIK UNESA
Penanggung Jawab : Dr. Erman, S.Pd. M.Pd. (Ketua Jurusan
Pendidikan Olahraga)
Pembina : Dr. Himawan W, M.Pd
Ketua : Imam Bukhori
Sekertaris : Ersi Endita
Bendahara : Dwi Nur Rahma
Koor. Sie Keamanan : Imam Mokhsinun
Koor. Sie kesekretariatan : Hera Ristanto
Koor. Perlengkapan : Rubbi Kurniawan
Koor. Konsumsi : Dwi Nur Rahma
Koor. Pertandingan : M Khamdi
Koor. Kesehatan : M Masrur
Koor. PubDekDok : M Abidin H
Koor. Penggalian Dana : Dian Prasetyo
ANGGARAN DANA
1. Kesekretariatan
Sertifikat
100 x @ Rp. 5.000 Rp 500.000
Pengadaan proposal Rp 500.000
Surat menyurat Rp 500.000
Pembuatan stempel dan perlengkapan lainnya Rp 100.000
Kwitansi 20 x @ Rp. 2.500 Rp 50.000
Foto copy formulir pendaftaran Rp 50.000
ID card peserta dan panitia Rp 750.000
Pembuatan karcis parkir Rp 50.000
2. Pubdedok
Spanduk dan perlengkapan lainnya Rp 500.000
Sewa Lapangan Bulutangkis Rp 500.000
Shuttlecock Rp 500.000
3. Konsumsi
Makan panitia dan wasit Rp. 5.000 x 15 hari Rp 5.000.000
Aqua 50 Dus x @ Rp. 12.000 Rp 600.000
Konsumsi TM 50 x Rp. 5.000 Rp 250.000
Komsumsi undangan 30 x 2 x @ Rp. 5.000 Rp 300.000
4. Perlengkapan
Sound system 2 x Rp. 500.000 (pembukaan dan penutupan) Rp 1.000.000
Sewa lapangan 15 hari x Rp. 100.000 Rp 1.500.000
Pembuatan scoreboard Rp 500.000
5. Pertandingan dan Perwasitan
Hadiah Pemenang
Juara I Rp 500.000
Juara II Rp 300.000
Juara III Rp 100.000
Trophy 1 set Rp 750.000
6. Honor Wasit 10 pertandingan x @ Rp. 250.000 Rp 2.500.000
7. Akomodasi
8. Biaya transportasi (dirinci lagi) Rp 600.000
9. Kesehatan
Obat-obatan Rp 600.000
Penggalian dana Rp 500.000
TOTAL Rp 16.300.000
Paraf sekertaris
Bussines plan
BUSINESS PLAN
“Jasa Pembelanjaan Kebutuhan Rumah Tangga”
Nama : Imam Bukhori
Nim : 076484204
Nama Perusahaan : Backrojez Group
Alamat : Lidah wetan Gg II. No 37 . Surabaya
Tlp : 08123456789
1. Pendahuluan
a. Sejarah
Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain, kata Rasulullah inilah yang selalu mengiang ditelinga. Maka dari itu rencana pembuatan usaha sendiri dan bermanfaat bagi oranglain inilah yang menjadi motivasi yang kuat untuk mejalani hidup ini. Selain itu pencarian pekerjaan yang berpeluang semakin menyempit, banyaknya pengangguran, kemiskinan hal inilah yang menjadikan pendrobrak untuk melarikan diri dari belenggu masalah hidup. Dalam perjalanan hidup saya yang sering melalangbuana, ketika itu saya berada di salah satu mall di Surabaya melihat seorang ibu dengan barang belanjaannya yang sangat banyak, dari situ munculla sebuah inspirasi untuk membuka jasa pembelanjaan kebutuhan rumah tangga terutama di perumahan-perumahan di sekitar Surabaya.
b. Visi dan Misi Usaha
Adapun visi dari usaha ini yaitu:
• Menjadikan usaha di bidang jasa terbesar di Indonesia.
• Menjadi usaha yang mengedepankan kenyamanan pelanggan
• Mengembangkan sayap ke bidang jasa lainnya
Dan Misi dari usaha ini yaitu :
• Melayani pelanggan dengan ramah dan sopan
• Menjaga integritas perusahaan
• Melayani dengan cepat, cekatan, on time dan mengedepankan hasil yang memuaskan
2. Aspek pemasaran
a. Gambaran Umum Pasar
Di Surabaya ini yang sebagai kota metropolitan, kebanyakan pola hidupnya serba praktis dan mewah, maka tak heran bila masyarakatnya menghendaki hal-hal yang serba praktis, hal ini di dukung strata ekonomi yang tinggi. Dalam hal ini usaha jasa kami targetnya yaitu lokasi perumahan-perumahan yang ada di pasar, karena kebanyakan mereka berbelanja dengan porsi besar untuk kebutuhan rumah tangga di setiap bulannya.
b. Strategi Pemasaran Perusahaan
o Price : penjualan pertama mengguanakan harga promo sehingga lebih murah, dan hari-hari tertentu diadakan diskon besar-besaran
o Promosion : - iklan : brosur, spanduk, poster.
o Sales promosion : Promosi melalui acara / pameran yang digelar di tempat keramaian dimana konsumen berada.
o Personal Selling : Promosi melalui mulut-kemulut langsung ke tempat konsumen berada
3. Aspek Keuangan
a. Sumber pendanaan
Modal sendiri Rp 7.500.000
Pinjaman Rp 2.500.000
Jumlah Rp10.000.000
b. Kebutuhan Pembiayaan
Peralatan Kantor Rp 1.500.000
Alat Angkut Rp 7.000.000
Biaya Pra operasi Rp 1.500.000
Jumlah Rp10.000.000
“Jasa Pembelanjaan Kebutuhan Rumah Tangga”
Nama : Imam Bukhori
Nim : 076484204
Nama Perusahaan : Backrojez Group
Alamat : Lidah wetan Gg II. No 37 . Surabaya
Tlp : 08123456789
1. Pendahuluan
a. Sejarah
Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain, kata Rasulullah inilah yang selalu mengiang ditelinga. Maka dari itu rencana pembuatan usaha sendiri dan bermanfaat bagi oranglain inilah yang menjadi motivasi yang kuat untuk mejalani hidup ini. Selain itu pencarian pekerjaan yang berpeluang semakin menyempit, banyaknya pengangguran, kemiskinan hal inilah yang menjadikan pendrobrak untuk melarikan diri dari belenggu masalah hidup. Dalam perjalanan hidup saya yang sering melalangbuana, ketika itu saya berada di salah satu mall di Surabaya melihat seorang ibu dengan barang belanjaannya yang sangat banyak, dari situ munculla sebuah inspirasi untuk membuka jasa pembelanjaan kebutuhan rumah tangga terutama di perumahan-perumahan di sekitar Surabaya.
b. Visi dan Misi Usaha
Adapun visi dari usaha ini yaitu:
• Menjadikan usaha di bidang jasa terbesar di Indonesia.
• Menjadi usaha yang mengedepankan kenyamanan pelanggan
• Mengembangkan sayap ke bidang jasa lainnya
Dan Misi dari usaha ini yaitu :
• Melayani pelanggan dengan ramah dan sopan
• Menjaga integritas perusahaan
• Melayani dengan cepat, cekatan, on time dan mengedepankan hasil yang memuaskan
2. Aspek pemasaran
a. Gambaran Umum Pasar
Di Surabaya ini yang sebagai kota metropolitan, kebanyakan pola hidupnya serba praktis dan mewah, maka tak heran bila masyarakatnya menghendaki hal-hal yang serba praktis, hal ini di dukung strata ekonomi yang tinggi. Dalam hal ini usaha jasa kami targetnya yaitu lokasi perumahan-perumahan yang ada di pasar, karena kebanyakan mereka berbelanja dengan porsi besar untuk kebutuhan rumah tangga di setiap bulannya.
b. Strategi Pemasaran Perusahaan
o Price : penjualan pertama mengguanakan harga promo sehingga lebih murah, dan hari-hari tertentu diadakan diskon besar-besaran
o Promosion : - iklan : brosur, spanduk, poster.
o Sales promosion : Promosi melalui acara / pameran yang digelar di tempat keramaian dimana konsumen berada.
o Personal Selling : Promosi melalui mulut-kemulut langsung ke tempat konsumen berada
3. Aspek Keuangan
a. Sumber pendanaan
Modal sendiri Rp 7.500.000
Pinjaman Rp 2.500.000
Jumlah Rp10.000.000
b. Kebutuhan Pembiayaan
Peralatan Kantor Rp 1.500.000
Alat Angkut Rp 7.000.000
Biaya Pra operasi Rp 1.500.000
Jumlah Rp10.000.000
Kamis, 11 Februari 2010
PERKEMBANGAN BOLA VOLI DI INDONESIA
Perkembangan Bola Voli di Indonesia
Oleh
Imam Bukhori
076484204
IKOR ’07. Kelas A
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN PENDIDIKAN KESEHATAN REKREASI
PRODI S1 ILMU KEOLAHRAGAAN
2009
ABSTRAK
Perkembangan permainan bola voli yang terus mengalami kemajuan,telah semakinbanyak merebut minat para pecinta olahraga di dunia. Setelah berhasil memperkenalkan permainan bola voli ke seluruh lapisan masyarakat Amerika Serikat, permainan bola voli-pun semakin melebarkan sayapnya ke negara-negara di luar Amerika. Pada tahun 1900, Kanada telah menjadi negara asing pertama yang mengadopsi permainan bola voli tersebut. Penyebaran permainan bola voli ini pun terus berlanjut ke negara-negera yang lain. Brazil, Rusia, China, Asia, dan Eropa merupakan wadah-wadah dimana permainan bola voli menjadi sebuah olahraga yang sangat populer. Indonesia mengenal permainan bola voli sejak tahun 1982 pada zaman penjajahan Belanda. Guru-guru pendidikan jasmani didatangkan dariNegeri Belanda untuk mengembangkan olahraga umumnya dan bola voli khususnya. Di samping guru-guru pendidikan jasmani, tentara Belanda banyak andilnya dalam pengembangan permainan bola voli di Indonesia, terutama dengan bermain di asrama-asrama, dilapangan terbuka dan mengadakan pertandingan antar kompeni-kompeni Belandasendiri.
PENDAHULUAN
Pendidikan dasar bola voli merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritualsosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.
Seiring berjalannya waktu, permainan bola voli-pun terus mengalami perubahan-perubahan, baik dari segi peraturan permainan, tekhnik permainan, maupun skill para pemainnya. Perhitungan skor mengalami perubahan pada sekitar tahun 1917. Batasan skor yang pada awalnya 21 poin, saat itu telah diubah menjadi 15 poin. Perubahan juga masih terjadi pada tahun 1920, yaitu dalam segi peraturan permainannya. Pada tahun 1920 ini telah diperkenalkan aturan “tiga pukulan” dan telah dibentuk juga batas menyerang pada baris belakang. Perkembangan permainan bola voli yang terus mengalami kemajuan,telah semakinbanyak merebut minat para pecinta olahraga di dunia. Setelah berhasil memperkenalkan permainan bola voli ke seluruh lapisan masyarakat Amerika Serikat, permainan bola voli-pun semakin melebarkan sayapnya ke negara-negara di luar Amerika. Pada tahun 1900, Kanada telah menjadi negara asing pertama yang mengadopsi permainan bola voli tersebut. Penyebaran permainan bola voli ini pun terus berlanjut ke negara-negera yanglain. Brazil, Rusia, China, Asia, dan Eropa merupakan wadah-wadah dimana permainan bola voli menjadi sebuah olahraga yang sangat populer.
Melihat dari perkembangan Bola voli di dunia yang kian merebak selayak dan seyogya nya pula kita sebagai generasi bangsa harus mengetahui beberapa olah raga yang sekarang menjadi salah satu tumpuan Indonesia yaitu diantara sekian banyak olahraga yang diminati di Indonesia dan Bola voli bahkan sudah mendemam ke seluruh plosok dan tidak ketinggalan di pedesaan. Untuk itu kita harus menanamkan pada peserta didik kita mengenai Pentingnya ilmu Bola voli serta sejarah singkat Bola Voli. Makalah ini di hadirkan untuk Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih.yaitu salah satunya Olahraga Bola voli dan sebagai wacana bagi mahasiswa FIK Unesa.
PEMBAHASAN
A. Voli
1. Pengertian Bola Voli
Bola voli adalah olahraga permainan yang dimainkan oleh dua grup berlawanan. Masing-masing grup memiliki enam orang pemain. Terdapat pula variasi permainan bola voli pantai yang masing-masing grup hanya memiliki dua orang pemain. (http://www.wikipedia.com/bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 19)
2. Cara permainan Bola Voli
Permainan ini dimainkan oleh 2 tim yang masing-masing terdiri dari 6 orang pemain dan berlomba-lomba mencapai angka 25 terlebih dahulu. Dalam sebuah tim, terdapat 4 peran penting, yaitu tosser (atau setter), spiker (smash), libero, dan defender (pemain bertahan). Tosser atau pengumpan adalah orang yang bertugas untuk mengumpankan bola kepada rekan-rekannya dan mengatur jalannya permainan. Spiker bertugas untuk memukul bola agar jatuh di daerah pertahanan lawan. Libero adalah pemain bertahan yang bisa bebas keluar dan masuk tetapi tidak boleh men-smash bola ke seberang net. Defender adalah pemain yang bertahan untuk menerima serangan dari lawan.
Permainan voli menuntut kemampuan otak yang prima, terutama tosser. Tosser harus dapat mengatur jalannya permainan. Tosser harus memutuskan apa yang harus dia perbuat dengan bola yang dia dapat, dan semuanya itu dilakukan dalam sepersekian detik sebelum bola jatuh ke lapangan sepanjang permainan. (http://www.wikipedia.com/bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 19)
3. Kedudukan Pemain (Posisi Pemain)
Pada waktu service kedua regu harus berada dalam lapangan / didaerahnya masing-masing dalam 2 deret kesamping. Tiga deret ada di depan dan tiga deret ada di belakang. Pemain nomor satu dinamakan server, pemain kedua dinamakan spiker, pemain ketiga dinamakan set upper atau tosser,pemain nomor empat dinamakan blocker, pemain nomor lima dan enam dinamakan libero
4. Aturan permainan dari bola voli adalah:
Jika pihak musuh bisa memasukkan bola ke dalam daerah kita maka kita kehilangan bola dan musuh mendapatkan nilai. Serve yang kita lakukan harus bisa melewati net dan masuk ke daerah musuh. Jika tidak, maka musuh pun akan mendapat nilai.
(http://hadilegowo08.blogspot.com/2007/12/bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 9: 10)
5. Teknik Bola Voli
Teknik adalah suatu proses melahirkan dan pembuktian dalam praktek dengan sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas yang pasti dalam cabang permainan bola voli.
Dalam mempertinggi prestasi bola voli, teknik ini erat hubungannya dengan kemampuan gerak, kondisi fisik, taktik dan mental. Teknik dasar bola voli harus harus betul-betul dikuasai terlebih dahulu guna dapat mengembangkan mutu prestasi permainan bola voli.
Penguasaan teknk dasar permainan bola voli merupakan salah satu unsure yang ikut menentukan menang atau kalahnya suatu regu di dalam suatu pertandingan di samping unsure-unsur kondisi fisik, taktik dan mental. (http://www.govolley.com/index.php/skills.http di unduh pada tanggal 20 Desember 2009, pukul 19: 19)
a. Service
Service ada beberapa macam yaitu:
Service Atas Adalah service dengan awalan melemparkan bola ke atas seperlunya. Kemudian Server melompat untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari atas.
Service Bawah Adalah service dengan awalan bola berada di tangan yang tidak memukul bola. Tangan yang memukul bola bersiap dari belakang badan untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari bawah.
Service Mengapung Adalah service atas dengan awalan dan cara memukul yang hampir sama. Awalan service mengapung adalah melemparkan bola ke atas namun tidak terlalu tinggi (tidak terlalu tinggi dari kepala). Tangan yang akan memukul bola bersiap di dekat bola dengan ayunan yang sangat pendek. yang perlu diperhatikan dalam service Sikap badan dan pandangan Lambung keatas harus sesuai dengan kebutuhan. Saat kapan harus memukul Bola.
Service dilakukan untuk mengawali suatu pertandingan voli
b. Passing
Passing Bawah (Pukulan/pengambilan tangan kebawah)
• Sikap badan jongkok, lutut agak ditekuk.
• tangan dirapatkan, satu dengan yang lain dirapatkan.
• Gerakan tangan disesuaikan dengan keras/lemahnya kecepatan bola.
Passing Keatas (Pukulan/pengambilan tangan keatas)
• Sikap badan jongkok, lutut agak ditekuk.
• Badan sedikit condong kemuka, siku ditekuk jari-jari terbuka membentuk lengkungan setengah bola.
• Ibu jari dan jari saling berdekatan membentuk segitiga.
• Penyentuhan pada semua jari-jari dan gerakannya meluruskan kedua tangan
c. Smash (spike)
Dengan membentuk serangan pukulan yang keras waktu bola berada diatas jaring, untuk dimasukkan ke daerah lawan. Untuk melakukan dengan baik perlu memperhatikan faktor-faktor berikut: awalan, tolakan, pukulan, dan pendaratan. Teknik smash Menurut Muhajir Teknik dalam permainan bola voli dapat diartikan sebagai cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal (2006,23). Menurut pendapat M. Mariyanto mengemukakan bahwa : “ Smash adalah suatu pukulan yang kuat dimana tangan kontak dengan bola secara penuh pada bagian atas , sehingga jalannya bola terjal dengan kecepatan yang tinggi, apabila pukulan bola lebih tinggi berada diatas net , maka bola dapat dipukul tajam ke bawah .” (2006 : 128 ) Menurut Iwan Kristianto mengemukakan bahwa , Smash adalah pukulan keras yang biasanya mematikan karena bola sulit diterima atau dikembalikan . “ (2003 : 143 ) . Spike adalah merupakan bentuk serangan yang paling banyak digunakan untuk menyerang dalam upaya memperoleh nilai suatu tim dalam permainan voli . Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Teknik Smash atau spike adalah cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan untuk mencapai pukulan keras yang biasanya mematikan ke daerah lawan. Tes smash Menurut Sandika mengemukakan bahwa tes smash adalah tolok ukur untuk mengukur kemampuan smash.
d. Membendung (Bloking)
Dengan daya upaya di dekat jaring untuk mencoba menahan/menghalangi bola yang datang dari daerah lawan. Sikap memblok yang benar adalah:
a.Jongkok, bersiap untuk melompat.
b.Lompat dengan kedua tangan rapat dan lurus ke atas.
c.Saat mendarat hendaknya langsung menyingkir dan memberi kesempatan pada kawan satu regu untuk bergantian memblok.
e. Set
Tehnik dasar yang lain, yang terdapat dalam permainan bola voli adalah set. Dalam standar permainan bola voli, set merupakan tindak lanjut dari tehnik pass. Dengan kata lain, set merupakan kontak kedua dari sebuah tim dengan bola. Pada kontak kedua ini, bola akan diterima, dikendalikan, dan diset oleh seorang setter. Dari sinilah sebuah tim akan melakukan penyerangan atau sekedar gerak tipuan yang akan mengecoh gerakan tim lawan. Setter akan memposisikan bola di udara sehingga sang attacker dapat melakukan serangan ke arah lawan. Disinilah, sang setter dituntut untuk dapat memberikan umpan bola dengan ketinggian dan arah yang tepat, serta gerakan dan kecepatan bola yang stabil. Tentunya, hal ini juga tetap tidak dapat terlepas dari kualitas pass yang diterima oleh setter. Selain itu, seorang setter juga bertugas mengkoordinasi gerakan-gerakan menyerang dari sebuah tim. Setter jugalah yang bertugas untuk menentukan, pemain manakah yang akan melakukan serangan (spike). Hal ini biasanya juga ditentukan oleh ke adaan bola yang diterima dari pass sebelumnya. Seperti pada tehnik pass, pengelompokan tehnik set juga dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu Overhand set dan Bump set. Ketika bola berada pada posisi yang rendah, yaitu ketika bola tersebut tidak dapat ditangani dengan menggunakan ujung jemari tangan, maka yang digunakan adalah tehnik Bump set. Dalam permainan bola voli pantai, tehnik Bump set adalah tehnik set yang paling banyak digunakan. Hal ini disebabkan oleh adanya peraturan yang lebih mengutamakan penggunakan tehnik Bump set daripada Overhand set. Sedangkan tehnik Overhand set biasanya hanya digunakan untuk mengendalikan bola yang berada pada posisi yang tinggi, yang masih dapat ditangani dengan menggunakan unjung jemari tangan.
Meskipun pada dasarnya tehnik set terbagi dalam dua kategori, namun ada beberapa orang yang masih membagi tehnik set ini dalam beberapa kategori lagi, yaitu Front set, Back set, dan Jump set. Front set adalah ketika bola yang diset oleh setter bergerak ke arah depan setter. Sebaliknya, pada Back set bola yang di set oleh setter bergerak ke arah belakang setter. Sedangkan Jump set biasanya dilakukan ketika bola yang dipass ke setter terlalu dekat dengan net. Sehingga, untuk menghindari sentuhan dengan net tersebut, maka setter melakukan set dengan tehnik melompat.
Seiring dengan terus berkembangnya skill para pemain bola voli, terkadang seorang setter juga tidak melakukan set pada bola yang di passing ke arahnya. Sewaktu-waktu, seorang setter dapat langsung melakukan serangan ke arah lawan. Bola kedua yang di pass ke arahnya, terkadang langsung ia buang ke area lawan dengan menggunakan gerak tipu. Bahkan, untuk settter yang skill dan pengalamannya sudah tinggi, terkadang melakukan spike pada pukulan keduanya.
f. Dig
Untuk menyelamatkan bola agar tidak jatuh setelah di-spike oleh tim lawan, maka biasanya seorang pemain akan melakukan tehnik Dig. Tehnik ini biasanya digunakan dalam keadaan darurat. Ketika posisi jatunya bola sudah berada dekat dengan lantai dan tidak dapat diselamatkan lagi dengan menggunakan tehnik pass, maka tehnik Dig inilah yang akhirnya digunakan.
Pada dasarnya, tehnik Dig ini sama dengan tehnik pass atau bump. Istilah Overhand dig digunakan ketika seorang pemain melakukan Dig dengan menggunakan ujung jemarinya. Sementara Bump dig adalah istilah yang digunakan untuk Dig yang dilakukan dengan menggunakan kedua lengan yang digabungkan. Dalam tehnik Dig, seorang pemain biasanya juga menampilkan gerakan meluncur (dive), yaitu melemparkan tubuhnya ke arah depan untuk menyelamatkan bola, yang kemudian mendarat dengan menggunakan dadanya
Seorang pemain biasanya akan memperjuangkan bola dengan sekuat tenaga dan dengan segala cara yang tidak melanggar peraturan permainan yang telah ditetapkan. Sekali waktu, seorang pemain juga terpaksa harus menjatuhkan badannya dengan cepat hanya untuk menyelamatkan bola agar tidak terjatuh. Untuk mencegah luka maupun cidera pada tubuh ketika menjatuhkan tubuhnya, biasanya seorang pemain juga melakukan tehnik berputar (rolling) ketika jatuh.
Selain itu, terkadang seorang pemain juga melakukan tehnik yang disebut dengan “pancake” untuk menyelamatkan bola yang hampir menyentuh lantai. Pada tehnik ini, seorang pemain akan meluncur dan mendorongkan tangannya ke arah depan
g. Strategi
Strategi adalah salah satu faktor terpenting yang memiliki pengaruh besar dalam setiap aktivitas kehidupan. Begitu juga pada olahraga permainan bola voli, strategi menjadi salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan. Setiap kali akan melakukan sebuah pertandingan, setiap tim pasti sudah terlebih dahulu mempersiapkan strategi mereka masing-masing. Bahkan, strategi juga selalu digunakan dalam setiap pertandingan latihan. Strategi merupakan rancangan langkah-langkah yang sudah diprogram atau direncanakan, yang akan dilakukan ketika mengikuti sebuah pertandingan.G. Spesialisasi Pemain
Pada setiap tim bola voli, ada 5 posisi yang wajib diisi oleh pemain. Sesuai dengan posisi tersebut, maka setiap pemain memiliki peran yang harus dijalankan masing-masing. Meskipun pada dasarnya setiap pemain harus mampu memainkan peran pada setiap posisi, namun masing-masing pemain memiliki spesifikasi tersendiri. Ke-5 posisi yang terdapat pada permainan bola voli tersebut adalah setter, left side hitter atau outside hitter, middle hitter atau middle blocker, right side hitter, dan libero.
6. Lapangan
Olahraga permainan bola voli dimainkan pada sebuah lapangan yang berbentuk persegi panjang. Seiring dengan terus berkembangnya permainan bola voli, maka standar-standar ukuran internasional dan sarana pendukung pada lapangan bola voli-pun telah ditetapkan. Standar ukuran panjang lapangan bola voli adalah 18 meter, sedangkan ukuran lebarnya adalah 9 meter. Panjangan lapangan tersebut kemudian dibagi dua dan dipisahkan dengan sebuah net yang dipasang pada dua buah tiang. Net tersebut dipasang pada ketinggian 2.43 meter atau 2.24 meter. Pada setiap ujung atas tiang biasanya akan dipasang sebuah antena. Antena ini akan menjadi pembatas gerakan bola yang menyamping atau melebar. Net yang memiliki lebar satu meter tersebut dipasang melebar di tengah lapangan. Ukuran 2.43 meter biasa digunakan dalam pertandingan bola voli putra, sedangkan pada kelas putri biasanya menggunakan net dengan ketinggian 2.24 meter. Meskipun demikian, pada kompetisi-kompetisi kelas yunior maupun veteran biasanya tinggi net bervariasi. Untuk kompetisi kelas tersebut, tinggi net biasanya dapat disesuaikan kembali.
Dalam lapangan bola voli dikenal istilah garis “3 meter” dari net. Garis tersebut berfungsi sebagai batas wilayah penyerangan (attack line). Garis 3 meter tersebut kemudian membagi lapangan menjadi dua bagian, yaitu barisan belakang (back row), dan barisan depan (front row). Kemudian, pada masing-masing bagian itu (back row dan front row) masih dibagi lagi menjadi 6 area atau 6 titik. Pada keenam area atau titik itulah yang merupakan posisi para pemain bola voli. Area “1” merupakan posisi pemain yang akan melakukan servis berikutnya. Setiap pergantian giliran untuk melakukan servis, para pemain harus berputar searah dengan putaran jarum jam untuk mendapatkan giliran melakukan servis. Dengan melakukan putaran searah dengan putaran jarum jam, maka pemain pada posisi pertama akan digantikan oleh pemain yang sebelumnya menempati posisi kedua. Sedangkan pemain yang awalnya menempati posisi 1 akan bergeser ke posisi 6, begitu seterusnya.
Dalam aturan lapangan bola voli terdapat istilah zona bebas (free zone). Zona bebas ini merupakan area yang mengelilingi area tim. Para pemain dapat memasuki dan bermain di dalam zona bebas yang memiliki lebar minimal 3 meter tersebut dengan bebas, setelah salah seorang pemain melakukan servis. Batas-batas area tim ditunjukkan dengan menggunakan garis-garis yang tergambar dilapangan. Sedangkan area penyerangan berada di dalam area tersebut. Garis-garis area tim tersebut juga menentukan apakah bola yang jatuh akan dinyatakan “masuk” atau “keluar”. Apabila bola yang jatuh masih menyentuh garis area tim, maka bola tersebut dinyatakan “masuk”, dan tim lawan akan memperoleh nilai. Namun, jika bola jatuh di luar garis.
http://www.govolley.com/index.php/lapangan.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 19)
B. SEJARAH BOLA VOLI
1. Asal-Usul Bola Voli
Pada awal penemuannya, olahraga permainan bola voli ini diberi nama ation) yang bernama William G. Morgan di YMCA pada tanggal 9 Februari 1895, di HolyokeMintonette.Olahraga Mintonette ini pertama kali ditemukan oleh seorang Instruktur pendidikan jasmani (Director of Phsycal Educ, Massachusetts (Amerika Serikat).
William G. Morgan dilahirkan di Lockport, New York pada tahun 1870, dan meninggal pada tahun 1942. YMCA (Young Men’s Christian Association) merupakan sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mengajarkan ajaran-ajaran pokok umat Kristen kepada para pemuda, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus. Organisasi ini didirikan pada tanggal 6 Juni 1884 di London, Inggris oleh George William
Setelah bertemu dengan James Naismith (seorang pencipta olahraga bola basket yang lahir pada tanggal 6 November 1861, dan meninggal pada tanggal 28 November 1939), Morgan menciptakan sebuah olahraga baru yang bernama Mintonette. Sama halnya dengan James Naismith, William G. Morgan juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang instruktur pendidikan jasmani. William G. Morgan yang juga merupakan lulusan Springfield College of YMCA, menciptakan permainan Mintonette ini empat tahun setelah diciptakannya olahraga permainan basketball oleh James Naismith. Olahraga permainan Mintonette sebenarnya merupakan sebuah permainan yang diciptakan dengan mengkombinasikan beberapa jenis permainan. Tepatnya, permainan Mintonette diciptakan dengan mengadopsi empat macam karakter olahraga permainan menjadi satu, yaitu bola basket, baseball, tenis, dan yang terakhir adalah bola tangan (handball). Pada awalnya, permainan ini diciptakan khusus bagi anggota YMCA yang sudah tidak berusia muda lagi, sehingga permainan ini-pun dibuat tidak seaktif permainan bola basket.
Perubahan nama Mintonette menjadi volleyball (bola voli) terjadi pada pada tahun 1896, pada demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School. Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther Halsey Gulick (Director of the Professional Physical Education Training School sekaligus sebagai Executive Director of Department of Physical Education of the International Committe of YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk mendemonstrasikan permainan baru yang telah ia ciptakan di stadion kampus yang baru. Pada sebuah konferensi yang bertempat di kampus YMCA, Springfield tersebut juga dihadiri oleh seluruh instruktur pendidikan jasmani. Dalam kesempatan tersebut, Morgan membawa dua tim yang pada masing-masing tim beranggotakan lima orang. Kedua tim tersebut diketuai oleh seorang Mayor dan Kepala pasukan pemadam kebakaran Holyoke.Dalam kesempatan itu, Morgan juga menjelaskan bahwa permainan tersebut adalah permainan yang dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan dengan sangat leluasa. Dan menurut penjelasannya pada saat itu, permainan ini dapat juga dimainkan oleh banyak pemain. Tidak ada batasan jumlah pemain yang menjadi standar dalam permainan tersebut. Sedangkan sasaran dari permainan ini adalah mempertahankan bola agar tetap bergerak melewati net yang tinggi, dari satu wilayah ke wilayah lain (wilayah lawan).
Demonstrasi pertandingan yang dibawakan oleh kedua tim, serta penjelasan yang telah disampaikan oleh Morgan-pun telah membawa sebuah perubahan pada Mintonette.Perubahan pertama yang terjadi pada permainan tersebut terjadi pada namanya. Atas saran dari Profesor Alfred T. Halstead yang juga menyaksikan dan memperhatikan demonstrasi serta penjelasan Morgan, nama Mintonette-pun berubah menjadi Volleyball (bola voli). Pemilihan nama Volleyball sebagai pengganti Mintonette-pun tidak dilakukan dengan tanpa pertimbangan. Nama Volleyball dipilih berdasarkan gerakan-gerakan utama yang terdapat pada permainan tersebut, yaitu gerakan memukul bola sebelum bola tersebut jatuh ke tanah (volley). Pada awalnya, nama Volleyball-pun dieja secara terpisah (dua kata), yaitu “Volley Ball”. Kemudian pada tahun 1952, Komite Administratif USVBA (United States Volleyball Association) memilih untuk mengeja nama tersebut dalam satu kata, yaitu “Volleyball”. USVBA adalah persatuan olahraga bola voli yang terdapat di Amerika Serikat. Asosiasi ini pertama kali didirikan pada tahun 1928, dan pada saat ini USVBA lebih dikenal dengan nama USAV (USA Voleyball). Setelah demonstrasi tersebut, komite YMCA berjanji untuk mempelajari peraturan-peraturan permainan yang telah ditulis dan diserahkan ke Morgan.Beberapa peraturan yang pertama kali ditulis oleh Morgan adalah penggunaan net setinggi 6 feet 6 inch (ukuran ini disesuaikan dengan tinggi rata-rata orang Amerika yang pada abad ke-19 tersebut ternyata lebih pendek), lapangan berukuran 7.6 x 15.2 m2, dan dimainkan oleh beberapa orang pemain. Dalam peraturan lama tersebut, permainan terbagi atas sembilan babak. Pada setiap babak, masing-masing tim memperoleh kesempatan untuk melakukan servis (memukul bola di awal permainan/pukulan bola pertama). Selain itu, dalam peraturan yang pertama kali dibuat tersebut tidak terdapat batasan kontak antara pemain dengan bola, sebelum bola tersebut dapat dipukul dan berpindah ke wilayah lawan. Jika pemain melakukan kesalahan ketika melakukan servis, maka ia masih diijinkan untuk melakukan servis yang kedua. Sedangkan pemukulan bola ke arah net akan dianggap sebagai sebuah pelanggaran dan berakibat kehilangan skor, kecuali pada saat melakukan servis yang pertama. Karena setelah servis pertama, masih terdapat kesempatan untuk melakukan servis yang kedua. Akhirnya, merekapun memodifikasi dan menerbitkan peraturan tersebut pada bulan Juli 1896.
http://www.govolley.com/index.php/sejarah-bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 13)
2. Perkembangan Bola Voli
Salah satu perlengkapan yang paling vital pada permainan bola voli adalah bola. Namun, waktu pembuatan bola yang pertama, untuk permainan bola voli masih menjadi sebuah perdebatan. Ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa bola voli yang resmi atau standar pertama kali dibuat pada tahun 1896 oleh Spalding. Sementara itu, beberapa sumber yang lain menyatakan bahwa bola voli yang standar pertama kali dibuat padatahun 1900.
Seiring berjalannya waktu, permainan bola voli-pun terus mengalami perubahan-perubahan, baik dari segi peraturan permainan, tekhnik permainan, maupun skill para pemainnya. Perhitungan skor mengalami perubahan pada sekitar tahun 1917. Batasan skor yang pada awalnya 21 poin, saat itu telah diubah menjadi 15 poin. Perubahan juga masih terjadi pada tahun 1920, yaitu dalam segi peraturan permainannya. Pada tahun 1920 ini telah diperkenalkan aturan “tiga pukulan” dan telah dibentuk juga batas menyerang pada baris belakang.
Perkembangan permainan bola voli yang terus mengalami kemajuan,telah semakinbanyak merebut minat para pecinta olahraga di dunia. Setelah berhasil memperkenalkan permainan bola voli ke seluruh lapisan masyarakat Amerika Serikat, permainan bola voli-pun semakin melebarkan sayapnya ke negara-negara di luar Amerika. Pada tahun 1900, Kanada telah menjadi negara asing pertama yang mengadopsi permainan bola voli tersebut. Penyebaran permainan bola voli ini pun terus berlanjut ke negara-negera yanglain. Brazil, Rusia, China, Asia, dan Eropa merupakan wadah-wadah dimana permainan bola voli menjadi sebuah olahraga yang sangat populer.
3. Sejarah Perkembangan Bola Voli di Indonesia
Indonesia mengenal permainan bola voli sejak tahun 1982 pada zaman penjajahan Belanda. Guru-guru pendidikan jasmani didatangkan dariNegeri Belanda untuk mengembangkan olahraga umumnya dan bola voli khususnya. Di samping guru-guru pendidikan jasmani, tentara Belanda banyak andilnya dalam pengembangan permainan bola voli di Indonesia, terutama dengan bermain di asrama-asrama, dilapangan terbuka dan mengadakan pertandingan antar kompeni-kompeni Belandasendiri.
Permainan bola voli di Indonesia sangat pesat di seluruh lapisan mayarakat, sehingga timbul klub-klub di kota besar di seluruh Indonesia. Dengan dasar itulah maka pada tanggal 22 januari 1955 PBVSI (persatuan bola voli seluruh indonesia) didirikan di Jakarta bersamaan dengan kejuaraan nasional yang pertama.
PBVSI sejak itu aktif mengembangkan kegiatan-kegiatan baik ke dalm maupun ke luar negeri sampai sekarang. Perkembangan permainan bola voli sangat menonjol saat menjelang Asian Games IV 1962 dan Ganefo I 1963 di Jakarta, baik untuk pria maupun untukwanitanya. Pertandingan bola voli masuk acara resmi dalam PON II 1951 di Jakarta dan POM I di Yogyakarta tahun 1951. setelah tahun 1962 perkembangan bnola voli seperti jamur tumbuh di musim hujan banyaknya klub-klub bola voli di seluruh pelosok tanah air.Hal ini terbukti pula dengan data-data peserta pertandingan dalam kejuaran nasional. PON dan pesta-pesta olahraga lain, di mana angka menunjukkan peningkatan jumlahnya. Boleh dikatakan sampai saat ini permainan bola voli di Indonesia menduduki tempat ketiga setelah sepak bola dan bulu tangkis.Untuk pertama kalinya dalam sejarah perbolavolian Indonesia, PBVSI telah dapat mengirimkan tim bola voli yunior Indonesia ke kejuaraan Dunia di Athena Yunani yang berlangsung dari tanggal 3-12 september 1989. tim bola voli yunior putra Indonesia ini dilatih oleh Yano Hadian dengan dibantu oleh trainer Kanwar, serta pelatih dari Jepang Hideto Nishioka, sedangkan pelatih fisik diserahkan kepada Engkos Kosasih dari bidang kepelatihan PKON (pusat kesehatan olahraga nasional) KANTOR MENPORA. Dalam kejuaraan dunia bola voli putra tersebut, sebagai juaranya adalah :
1. Uni Sovyet
2. Jepang
3. Brazil
4. Bulagaria
5.Kuba
6. Yunani
7. Polandia
Sedangkan Indonesia sendiri baru dapat menduduki urutan ke 15.Dalam periode di bawah pimpinan ketua Umum PBVSI Jendral (Pol) Drs. MochamadSanusi, perbolavolian makinmeningkat baik dari jumlahnya perkumpulan yang ada maupun dari lancarnya system kompetisi yang berlangsung,; sampai dengan kegiatan yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri.
4. Pembinaan Bola Voli Di Indonesia
Perkembangan bolavoli Indonesia dari tahun ke tahun, tidak lepas dari sikap konsisten pihak Sampoerna Hijau dalam mensponsori setiap event bolavoli di Indonesia baik ditingkat Nasional maupun event-event lokal.Pembinaan bolavoli di Indonesia memiliki beberapa jenjang pembinaan resmi PBVSI.
PROLIGA. Adalah event profesional Indonesia. Event ini dikemas dengan penggabungan sebuah kompetisi bolavoli dengan entertainment agar permainan bolavoli bisa melibatkan dan dapat dinikmati oleh banyak orang. Setiap tim yang mengikuti event ini, diwajibkan untuk mengikat pemain - pemainnya secara profesional.
LIVOLI. merupakan even pertandingan antarklub tertinggi di Indonesia. Livoli diikuti 10 klub resmi PBVSI putra dan putri terbaik di Indonesia. Setiap pemain yang berlaga pada even ini merupakan atlet binaan klub atau yang berstatus anggota di klub yang bersangkutan. Melalui even Livoli akan ditentukan peringkat klub secara nasional. Untuk klub yang berada diperingkat 2 terbawah akan terdegradasi dan wajib mengikuti even Kejurnas antarklub.
KEJURNAS. merupakan even yang mempertandingkan semua perwakilan klub resmi daerah yang terdaftar di PBVSI. Klub yang berhak mengikuti kejurnas adalah klub finalis pada even kejurda. Sedangkan untuk klub Finalis Kejurnas memiliki hak promosi untuk mengikuti LIVOLI.
KEJURDA. Even ini dilaksanakan oleh masing-masing propinsi. Kejurda merupakan tolok ukur tingkat keberhasilan pembinaan.
KESIMPULAN
Bola voli adalah olahraga permainan yang dimainkan oleh dua grup berlawanan. Masing-masing grup memiliki enam orang pemain. Terdapat pula variasi permainan bola voli pantai yang masing-masing grup hanya memiliki dua orang pemain. Pada waktu service kedua regu harus berada dalam lapangan / didaerahnya masing-masing dalam 2 deret kesamping. Tiga deret ada di depan dan tiga deret ada di belakang. Pemain nomor satu dinamakan server, pemain kedua dinamakan spiker, pemain ketiga dinamakan set upper atau tosser,pemain nomor empat dinamakan blocker, pemain nomor lima dan enam dinamakan libero.
Indonesia mengenal permainan bola voli sejak tahun 1982 pada zaman penjajahan Belanda. Guru-guru pendidikan jasmani didatangkan dariNegeri Belanda untuk mengembangkan olahraga umumnya dan bola voli khususnya. Di samping guru-guru pendidikan jasmani, tentara Belanda banyak andilnya dalam pengembangan permainan bola voli di Indonesia, terutama dengan bermain di asrama-asrama, dilapangan terbuka dan mengadakan pertandingan antar kompeni-kompeni Belandasendiri.
Permainan bola voli di Indonesia sangat pesat di seluruh lapisan mayarakat, sehingga timbul klub-klub di kota besar di seluruh Indonesia. Dengan dasar itulah maka pada tanggal 22 januari 1955 PBVSI (persatuan bola voli seluruh indonesia) didirikan di Jakarta bersamaan dengan kejuaraan nasional yang pertama.
http://ganevo.wordpress.com/2008/05/03/pembinaan-bolavoli-indonesia.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 21)
DAFTAR PUSTAKA
http://www.wikipedia.com/bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 19)
http://www.govolley.com/index.php/sejarah-bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 13)
http://hadilegowo08.blogspot.com/2007/12/bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 9: 10)
http://ganevo.wordpress.com/2008/05/03/pembinaan-bolavoli-indonesia.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 21)
http://www.govolley.com/index.php/lapangan.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 19)
http://www.govolley.com/index.php/skills.http di unduh pada tanggal 20 Desember 2009, pukul 19: 19)
http://www.govolley.com/index.php/strategi.html di unduh pada tanggal 20 Desember 2009, pukul 20: 16)
Oleh
Imam Bukhori
076484204
IKOR ’07. Kelas A
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN PENDIDIKAN KESEHATAN REKREASI
PRODI S1 ILMU KEOLAHRAGAAN
2009
ABSTRAK
Perkembangan permainan bola voli yang terus mengalami kemajuan,telah semakinbanyak merebut minat para pecinta olahraga di dunia. Setelah berhasil memperkenalkan permainan bola voli ke seluruh lapisan masyarakat Amerika Serikat, permainan bola voli-pun semakin melebarkan sayapnya ke negara-negara di luar Amerika. Pada tahun 1900, Kanada telah menjadi negara asing pertama yang mengadopsi permainan bola voli tersebut. Penyebaran permainan bola voli ini pun terus berlanjut ke negara-negera yang lain. Brazil, Rusia, China, Asia, dan Eropa merupakan wadah-wadah dimana permainan bola voli menjadi sebuah olahraga yang sangat populer. Indonesia mengenal permainan bola voli sejak tahun 1982 pada zaman penjajahan Belanda. Guru-guru pendidikan jasmani didatangkan dariNegeri Belanda untuk mengembangkan olahraga umumnya dan bola voli khususnya. Di samping guru-guru pendidikan jasmani, tentara Belanda banyak andilnya dalam pengembangan permainan bola voli di Indonesia, terutama dengan bermain di asrama-asrama, dilapangan terbuka dan mengadakan pertandingan antar kompeni-kompeni Belandasendiri.
PENDAHULUAN
Pendidikan dasar bola voli merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembangan psikis, keterampilan motorik, pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitas-spiritualsosial), serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang.
Seiring berjalannya waktu, permainan bola voli-pun terus mengalami perubahan-perubahan, baik dari segi peraturan permainan, tekhnik permainan, maupun skill para pemainnya. Perhitungan skor mengalami perubahan pada sekitar tahun 1917. Batasan skor yang pada awalnya 21 poin, saat itu telah diubah menjadi 15 poin. Perubahan juga masih terjadi pada tahun 1920, yaitu dalam segi peraturan permainannya. Pada tahun 1920 ini telah diperkenalkan aturan “tiga pukulan” dan telah dibentuk juga batas menyerang pada baris belakang. Perkembangan permainan bola voli yang terus mengalami kemajuan,telah semakinbanyak merebut minat para pecinta olahraga di dunia. Setelah berhasil memperkenalkan permainan bola voli ke seluruh lapisan masyarakat Amerika Serikat, permainan bola voli-pun semakin melebarkan sayapnya ke negara-negara di luar Amerika. Pada tahun 1900, Kanada telah menjadi negara asing pertama yang mengadopsi permainan bola voli tersebut. Penyebaran permainan bola voli ini pun terus berlanjut ke negara-negera yanglain. Brazil, Rusia, China, Asia, dan Eropa merupakan wadah-wadah dimana permainan bola voli menjadi sebuah olahraga yang sangat populer.
Melihat dari perkembangan Bola voli di dunia yang kian merebak selayak dan seyogya nya pula kita sebagai generasi bangsa harus mengetahui beberapa olah raga yang sekarang menjadi salah satu tumpuan Indonesia yaitu diantara sekian banyak olahraga yang diminati di Indonesia dan Bola voli bahkan sudah mendemam ke seluruh plosok dan tidak ketinggalan di pedesaan. Untuk itu kita harus menanamkan pada peserta didik kita mengenai Pentingnya ilmu Bola voli serta sejarah singkat Bola Voli. Makalah ini di hadirkan untuk Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih.yaitu salah satunya Olahraga Bola voli dan sebagai wacana bagi mahasiswa FIK Unesa.
PEMBAHASAN
A. Voli
1. Pengertian Bola Voli
Bola voli adalah olahraga permainan yang dimainkan oleh dua grup berlawanan. Masing-masing grup memiliki enam orang pemain. Terdapat pula variasi permainan bola voli pantai yang masing-masing grup hanya memiliki dua orang pemain. (http://www.wikipedia.com/bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 19)
2. Cara permainan Bola Voli
Permainan ini dimainkan oleh 2 tim yang masing-masing terdiri dari 6 orang pemain dan berlomba-lomba mencapai angka 25 terlebih dahulu. Dalam sebuah tim, terdapat 4 peran penting, yaitu tosser (atau setter), spiker (smash), libero, dan defender (pemain bertahan). Tosser atau pengumpan adalah orang yang bertugas untuk mengumpankan bola kepada rekan-rekannya dan mengatur jalannya permainan. Spiker bertugas untuk memukul bola agar jatuh di daerah pertahanan lawan. Libero adalah pemain bertahan yang bisa bebas keluar dan masuk tetapi tidak boleh men-smash bola ke seberang net. Defender adalah pemain yang bertahan untuk menerima serangan dari lawan.
Permainan voli menuntut kemampuan otak yang prima, terutama tosser. Tosser harus dapat mengatur jalannya permainan. Tosser harus memutuskan apa yang harus dia perbuat dengan bola yang dia dapat, dan semuanya itu dilakukan dalam sepersekian detik sebelum bola jatuh ke lapangan sepanjang permainan. (http://www.wikipedia.com/bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 19)
3. Kedudukan Pemain (Posisi Pemain)
Pada waktu service kedua regu harus berada dalam lapangan / didaerahnya masing-masing dalam 2 deret kesamping. Tiga deret ada di depan dan tiga deret ada di belakang. Pemain nomor satu dinamakan server, pemain kedua dinamakan spiker, pemain ketiga dinamakan set upper atau tosser,pemain nomor empat dinamakan blocker, pemain nomor lima dan enam dinamakan libero
4. Aturan permainan dari bola voli adalah:
Jika pihak musuh bisa memasukkan bola ke dalam daerah kita maka kita kehilangan bola dan musuh mendapatkan nilai. Serve yang kita lakukan harus bisa melewati net dan masuk ke daerah musuh. Jika tidak, maka musuh pun akan mendapat nilai.
(http://hadilegowo08.blogspot.com/2007/12/bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 9: 10)
5. Teknik Bola Voli
Teknik adalah suatu proses melahirkan dan pembuktian dalam praktek dengan sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas yang pasti dalam cabang permainan bola voli.
Dalam mempertinggi prestasi bola voli, teknik ini erat hubungannya dengan kemampuan gerak, kondisi fisik, taktik dan mental. Teknik dasar bola voli harus harus betul-betul dikuasai terlebih dahulu guna dapat mengembangkan mutu prestasi permainan bola voli.
Penguasaan teknk dasar permainan bola voli merupakan salah satu unsure yang ikut menentukan menang atau kalahnya suatu regu di dalam suatu pertandingan di samping unsure-unsur kondisi fisik, taktik dan mental. (http://www.govolley.com/index.php/skills.http di unduh pada tanggal 20 Desember 2009, pukul 19: 19)
a. Service
Service ada beberapa macam yaitu:
Service Atas Adalah service dengan awalan melemparkan bola ke atas seperlunya. Kemudian Server melompat untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari atas.
Service Bawah Adalah service dengan awalan bola berada di tangan yang tidak memukul bola. Tangan yang memukul bola bersiap dari belakang badan untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari bawah.
Service Mengapung Adalah service atas dengan awalan dan cara memukul yang hampir sama. Awalan service mengapung adalah melemparkan bola ke atas namun tidak terlalu tinggi (tidak terlalu tinggi dari kepala). Tangan yang akan memukul bola bersiap di dekat bola dengan ayunan yang sangat pendek. yang perlu diperhatikan dalam service Sikap badan dan pandangan Lambung keatas harus sesuai dengan kebutuhan. Saat kapan harus memukul Bola.
Service dilakukan untuk mengawali suatu pertandingan voli
b. Passing
Passing Bawah (Pukulan/pengambilan tangan kebawah)
• Sikap badan jongkok, lutut agak ditekuk.
• tangan dirapatkan, satu dengan yang lain dirapatkan.
• Gerakan tangan disesuaikan dengan keras/lemahnya kecepatan bola.
Passing Keatas (Pukulan/pengambilan tangan keatas)
• Sikap badan jongkok, lutut agak ditekuk.
• Badan sedikit condong kemuka, siku ditekuk jari-jari terbuka membentuk lengkungan setengah bola.
• Ibu jari dan jari saling berdekatan membentuk segitiga.
• Penyentuhan pada semua jari-jari dan gerakannya meluruskan kedua tangan
c. Smash (spike)
Dengan membentuk serangan pukulan yang keras waktu bola berada diatas jaring, untuk dimasukkan ke daerah lawan. Untuk melakukan dengan baik perlu memperhatikan faktor-faktor berikut: awalan, tolakan, pukulan, dan pendaratan. Teknik smash Menurut Muhajir Teknik dalam permainan bola voli dapat diartikan sebagai cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal (2006,23). Menurut pendapat M. Mariyanto mengemukakan bahwa : “ Smash adalah suatu pukulan yang kuat dimana tangan kontak dengan bola secara penuh pada bagian atas , sehingga jalannya bola terjal dengan kecepatan yang tinggi, apabila pukulan bola lebih tinggi berada diatas net , maka bola dapat dipukul tajam ke bawah .” (2006 : 128 ) Menurut Iwan Kristianto mengemukakan bahwa , Smash adalah pukulan keras yang biasanya mematikan karena bola sulit diterima atau dikembalikan . “ (2003 : 143 ) . Spike adalah merupakan bentuk serangan yang paling banyak digunakan untuk menyerang dalam upaya memperoleh nilai suatu tim dalam permainan voli . Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa Teknik Smash atau spike adalah cara memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan untuk mencapai pukulan keras yang biasanya mematikan ke daerah lawan. Tes smash Menurut Sandika mengemukakan bahwa tes smash adalah tolok ukur untuk mengukur kemampuan smash.
d. Membendung (Bloking)
Dengan daya upaya di dekat jaring untuk mencoba menahan/menghalangi bola yang datang dari daerah lawan. Sikap memblok yang benar adalah:
a.Jongkok, bersiap untuk melompat.
b.Lompat dengan kedua tangan rapat dan lurus ke atas.
c.Saat mendarat hendaknya langsung menyingkir dan memberi kesempatan pada kawan satu regu untuk bergantian memblok.
e. Set
Tehnik dasar yang lain, yang terdapat dalam permainan bola voli adalah set. Dalam standar permainan bola voli, set merupakan tindak lanjut dari tehnik pass. Dengan kata lain, set merupakan kontak kedua dari sebuah tim dengan bola. Pada kontak kedua ini, bola akan diterima, dikendalikan, dan diset oleh seorang setter. Dari sinilah sebuah tim akan melakukan penyerangan atau sekedar gerak tipuan yang akan mengecoh gerakan tim lawan. Setter akan memposisikan bola di udara sehingga sang attacker dapat melakukan serangan ke arah lawan. Disinilah, sang setter dituntut untuk dapat memberikan umpan bola dengan ketinggian dan arah yang tepat, serta gerakan dan kecepatan bola yang stabil. Tentunya, hal ini juga tetap tidak dapat terlepas dari kualitas pass yang diterima oleh setter. Selain itu, seorang setter juga bertugas mengkoordinasi gerakan-gerakan menyerang dari sebuah tim. Setter jugalah yang bertugas untuk menentukan, pemain manakah yang akan melakukan serangan (spike). Hal ini biasanya juga ditentukan oleh ke adaan bola yang diterima dari pass sebelumnya. Seperti pada tehnik pass, pengelompokan tehnik set juga dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu Overhand set dan Bump set. Ketika bola berada pada posisi yang rendah, yaitu ketika bola tersebut tidak dapat ditangani dengan menggunakan ujung jemari tangan, maka yang digunakan adalah tehnik Bump set. Dalam permainan bola voli pantai, tehnik Bump set adalah tehnik set yang paling banyak digunakan. Hal ini disebabkan oleh adanya peraturan yang lebih mengutamakan penggunakan tehnik Bump set daripada Overhand set. Sedangkan tehnik Overhand set biasanya hanya digunakan untuk mengendalikan bola yang berada pada posisi yang tinggi, yang masih dapat ditangani dengan menggunakan unjung jemari tangan.
Meskipun pada dasarnya tehnik set terbagi dalam dua kategori, namun ada beberapa orang yang masih membagi tehnik set ini dalam beberapa kategori lagi, yaitu Front set, Back set, dan Jump set. Front set adalah ketika bola yang diset oleh setter bergerak ke arah depan setter. Sebaliknya, pada Back set bola yang di set oleh setter bergerak ke arah belakang setter. Sedangkan Jump set biasanya dilakukan ketika bola yang dipass ke setter terlalu dekat dengan net. Sehingga, untuk menghindari sentuhan dengan net tersebut, maka setter melakukan set dengan tehnik melompat.
Seiring dengan terus berkembangnya skill para pemain bola voli, terkadang seorang setter juga tidak melakukan set pada bola yang di passing ke arahnya. Sewaktu-waktu, seorang setter dapat langsung melakukan serangan ke arah lawan. Bola kedua yang di pass ke arahnya, terkadang langsung ia buang ke area lawan dengan menggunakan gerak tipu. Bahkan, untuk settter yang skill dan pengalamannya sudah tinggi, terkadang melakukan spike pada pukulan keduanya.
f. Dig
Untuk menyelamatkan bola agar tidak jatuh setelah di-spike oleh tim lawan, maka biasanya seorang pemain akan melakukan tehnik Dig. Tehnik ini biasanya digunakan dalam keadaan darurat. Ketika posisi jatunya bola sudah berada dekat dengan lantai dan tidak dapat diselamatkan lagi dengan menggunakan tehnik pass, maka tehnik Dig inilah yang akhirnya digunakan.
Pada dasarnya, tehnik Dig ini sama dengan tehnik pass atau bump. Istilah Overhand dig digunakan ketika seorang pemain melakukan Dig dengan menggunakan ujung jemarinya. Sementara Bump dig adalah istilah yang digunakan untuk Dig yang dilakukan dengan menggunakan kedua lengan yang digabungkan. Dalam tehnik Dig, seorang pemain biasanya juga menampilkan gerakan meluncur (dive), yaitu melemparkan tubuhnya ke arah depan untuk menyelamatkan bola, yang kemudian mendarat dengan menggunakan dadanya
Seorang pemain biasanya akan memperjuangkan bola dengan sekuat tenaga dan dengan segala cara yang tidak melanggar peraturan permainan yang telah ditetapkan. Sekali waktu, seorang pemain juga terpaksa harus menjatuhkan badannya dengan cepat hanya untuk menyelamatkan bola agar tidak terjatuh. Untuk mencegah luka maupun cidera pada tubuh ketika menjatuhkan tubuhnya, biasanya seorang pemain juga melakukan tehnik berputar (rolling) ketika jatuh.
Selain itu, terkadang seorang pemain juga melakukan tehnik yang disebut dengan “pancake” untuk menyelamatkan bola yang hampir menyentuh lantai. Pada tehnik ini, seorang pemain akan meluncur dan mendorongkan tangannya ke arah depan
g. Strategi
Strategi adalah salah satu faktor terpenting yang memiliki pengaruh besar dalam setiap aktivitas kehidupan. Begitu juga pada olahraga permainan bola voli, strategi menjadi salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan. Setiap kali akan melakukan sebuah pertandingan, setiap tim pasti sudah terlebih dahulu mempersiapkan strategi mereka masing-masing. Bahkan, strategi juga selalu digunakan dalam setiap pertandingan latihan. Strategi merupakan rancangan langkah-langkah yang sudah diprogram atau direncanakan, yang akan dilakukan ketika mengikuti sebuah pertandingan.G. Spesialisasi Pemain
Pada setiap tim bola voli, ada 5 posisi yang wajib diisi oleh pemain. Sesuai dengan posisi tersebut, maka setiap pemain memiliki peran yang harus dijalankan masing-masing. Meskipun pada dasarnya setiap pemain harus mampu memainkan peran pada setiap posisi, namun masing-masing pemain memiliki spesifikasi tersendiri. Ke-5 posisi yang terdapat pada permainan bola voli tersebut adalah setter, left side hitter atau outside hitter, middle hitter atau middle blocker, right side hitter, dan libero.
6. Lapangan
Olahraga permainan bola voli dimainkan pada sebuah lapangan yang berbentuk persegi panjang. Seiring dengan terus berkembangnya permainan bola voli, maka standar-standar ukuran internasional dan sarana pendukung pada lapangan bola voli-pun telah ditetapkan. Standar ukuran panjang lapangan bola voli adalah 18 meter, sedangkan ukuran lebarnya adalah 9 meter. Panjangan lapangan tersebut kemudian dibagi dua dan dipisahkan dengan sebuah net yang dipasang pada dua buah tiang. Net tersebut dipasang pada ketinggian 2.43 meter atau 2.24 meter. Pada setiap ujung atas tiang biasanya akan dipasang sebuah antena. Antena ini akan menjadi pembatas gerakan bola yang menyamping atau melebar. Net yang memiliki lebar satu meter tersebut dipasang melebar di tengah lapangan. Ukuran 2.43 meter biasa digunakan dalam pertandingan bola voli putra, sedangkan pada kelas putri biasanya menggunakan net dengan ketinggian 2.24 meter. Meskipun demikian, pada kompetisi-kompetisi kelas yunior maupun veteran biasanya tinggi net bervariasi. Untuk kompetisi kelas tersebut, tinggi net biasanya dapat disesuaikan kembali.
Dalam lapangan bola voli dikenal istilah garis “3 meter” dari net. Garis tersebut berfungsi sebagai batas wilayah penyerangan (attack line). Garis 3 meter tersebut kemudian membagi lapangan menjadi dua bagian, yaitu barisan belakang (back row), dan barisan depan (front row). Kemudian, pada masing-masing bagian itu (back row dan front row) masih dibagi lagi menjadi 6 area atau 6 titik. Pada keenam area atau titik itulah yang merupakan posisi para pemain bola voli. Area “1” merupakan posisi pemain yang akan melakukan servis berikutnya. Setiap pergantian giliran untuk melakukan servis, para pemain harus berputar searah dengan putaran jarum jam untuk mendapatkan giliran melakukan servis. Dengan melakukan putaran searah dengan putaran jarum jam, maka pemain pada posisi pertama akan digantikan oleh pemain yang sebelumnya menempati posisi kedua. Sedangkan pemain yang awalnya menempati posisi 1 akan bergeser ke posisi 6, begitu seterusnya.
Dalam aturan lapangan bola voli terdapat istilah zona bebas (free zone). Zona bebas ini merupakan area yang mengelilingi area tim. Para pemain dapat memasuki dan bermain di dalam zona bebas yang memiliki lebar minimal 3 meter tersebut dengan bebas, setelah salah seorang pemain melakukan servis. Batas-batas area tim ditunjukkan dengan menggunakan garis-garis yang tergambar dilapangan. Sedangkan area penyerangan berada di dalam area tersebut. Garis-garis area tim tersebut juga menentukan apakah bola yang jatuh akan dinyatakan “masuk” atau “keluar”. Apabila bola yang jatuh masih menyentuh garis area tim, maka bola tersebut dinyatakan “masuk”, dan tim lawan akan memperoleh nilai. Namun, jika bola jatuh di luar garis.
http://www.govolley.com/index.php/lapangan.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 19)
B. SEJARAH BOLA VOLI
1. Asal-Usul Bola Voli
Pada awal penemuannya, olahraga permainan bola voli ini diberi nama ation) yang bernama William G. Morgan di YMCA pada tanggal 9 Februari 1895, di HolyokeMintonette.Olahraga Mintonette ini pertama kali ditemukan oleh seorang Instruktur pendidikan jasmani (Director of Phsycal Educ, Massachusetts (Amerika Serikat).
William G. Morgan dilahirkan di Lockport, New York pada tahun 1870, dan meninggal pada tahun 1942. YMCA (Young Men’s Christian Association) merupakan sebuah organisasi yang didedikasikan untuk mengajarkan ajaran-ajaran pokok umat Kristen kepada para pemuda, seperti yang telah diajarkan oleh Yesus. Organisasi ini didirikan pada tanggal 6 Juni 1884 di London, Inggris oleh George William
Setelah bertemu dengan James Naismith (seorang pencipta olahraga bola basket yang lahir pada tanggal 6 November 1861, dan meninggal pada tanggal 28 November 1939), Morgan menciptakan sebuah olahraga baru yang bernama Mintonette. Sama halnya dengan James Naismith, William G. Morgan juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang instruktur pendidikan jasmani. William G. Morgan yang juga merupakan lulusan Springfield College of YMCA, menciptakan permainan Mintonette ini empat tahun setelah diciptakannya olahraga permainan basketball oleh James Naismith. Olahraga permainan Mintonette sebenarnya merupakan sebuah permainan yang diciptakan dengan mengkombinasikan beberapa jenis permainan. Tepatnya, permainan Mintonette diciptakan dengan mengadopsi empat macam karakter olahraga permainan menjadi satu, yaitu bola basket, baseball, tenis, dan yang terakhir adalah bola tangan (handball). Pada awalnya, permainan ini diciptakan khusus bagi anggota YMCA yang sudah tidak berusia muda lagi, sehingga permainan ini-pun dibuat tidak seaktif permainan bola basket.
Perubahan nama Mintonette menjadi volleyball (bola voli) terjadi pada pada tahun 1896, pada demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School. Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther Halsey Gulick (Director of the Professional Physical Education Training School sekaligus sebagai Executive Director of Department of Physical Education of the International Committe of YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk mendemonstrasikan permainan baru yang telah ia ciptakan di stadion kampus yang baru. Pada sebuah konferensi yang bertempat di kampus YMCA, Springfield tersebut juga dihadiri oleh seluruh instruktur pendidikan jasmani. Dalam kesempatan tersebut, Morgan membawa dua tim yang pada masing-masing tim beranggotakan lima orang. Kedua tim tersebut diketuai oleh seorang Mayor dan Kepala pasukan pemadam kebakaran Holyoke.Dalam kesempatan itu, Morgan juga menjelaskan bahwa permainan tersebut adalah permainan yang dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan dengan sangat leluasa. Dan menurut penjelasannya pada saat itu, permainan ini dapat juga dimainkan oleh banyak pemain. Tidak ada batasan jumlah pemain yang menjadi standar dalam permainan tersebut. Sedangkan sasaran dari permainan ini adalah mempertahankan bola agar tetap bergerak melewati net yang tinggi, dari satu wilayah ke wilayah lain (wilayah lawan).
Demonstrasi pertandingan yang dibawakan oleh kedua tim, serta penjelasan yang telah disampaikan oleh Morgan-pun telah membawa sebuah perubahan pada Mintonette.Perubahan pertama yang terjadi pada permainan tersebut terjadi pada namanya. Atas saran dari Profesor Alfred T. Halstead yang juga menyaksikan dan memperhatikan demonstrasi serta penjelasan Morgan, nama Mintonette-pun berubah menjadi Volleyball (bola voli). Pemilihan nama Volleyball sebagai pengganti Mintonette-pun tidak dilakukan dengan tanpa pertimbangan. Nama Volleyball dipilih berdasarkan gerakan-gerakan utama yang terdapat pada permainan tersebut, yaitu gerakan memukul bola sebelum bola tersebut jatuh ke tanah (volley). Pada awalnya, nama Volleyball-pun dieja secara terpisah (dua kata), yaitu “Volley Ball”. Kemudian pada tahun 1952, Komite Administratif USVBA (United States Volleyball Association) memilih untuk mengeja nama tersebut dalam satu kata, yaitu “Volleyball”. USVBA adalah persatuan olahraga bola voli yang terdapat di Amerika Serikat. Asosiasi ini pertama kali didirikan pada tahun 1928, dan pada saat ini USVBA lebih dikenal dengan nama USAV (USA Voleyball). Setelah demonstrasi tersebut, komite YMCA berjanji untuk mempelajari peraturan-peraturan permainan yang telah ditulis dan diserahkan ke Morgan.Beberapa peraturan yang pertama kali ditulis oleh Morgan adalah penggunaan net setinggi 6 feet 6 inch (ukuran ini disesuaikan dengan tinggi rata-rata orang Amerika yang pada abad ke-19 tersebut ternyata lebih pendek), lapangan berukuran 7.6 x 15.2 m2, dan dimainkan oleh beberapa orang pemain. Dalam peraturan lama tersebut, permainan terbagi atas sembilan babak. Pada setiap babak, masing-masing tim memperoleh kesempatan untuk melakukan servis (memukul bola di awal permainan/pukulan bola pertama). Selain itu, dalam peraturan yang pertama kali dibuat tersebut tidak terdapat batasan kontak antara pemain dengan bola, sebelum bola tersebut dapat dipukul dan berpindah ke wilayah lawan. Jika pemain melakukan kesalahan ketika melakukan servis, maka ia masih diijinkan untuk melakukan servis yang kedua. Sedangkan pemukulan bola ke arah net akan dianggap sebagai sebuah pelanggaran dan berakibat kehilangan skor, kecuali pada saat melakukan servis yang pertama. Karena setelah servis pertama, masih terdapat kesempatan untuk melakukan servis yang kedua. Akhirnya, merekapun memodifikasi dan menerbitkan peraturan tersebut pada bulan Juli 1896.
http://www.govolley.com/index.php/sejarah-bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 13)
2. Perkembangan Bola Voli
Salah satu perlengkapan yang paling vital pada permainan bola voli adalah bola. Namun, waktu pembuatan bola yang pertama, untuk permainan bola voli masih menjadi sebuah perdebatan. Ada beberapa sumber yang menyatakan bahwa bola voli yang resmi atau standar pertama kali dibuat pada tahun 1896 oleh Spalding. Sementara itu, beberapa sumber yang lain menyatakan bahwa bola voli yang standar pertama kali dibuat padatahun 1900.
Seiring berjalannya waktu, permainan bola voli-pun terus mengalami perubahan-perubahan, baik dari segi peraturan permainan, tekhnik permainan, maupun skill para pemainnya. Perhitungan skor mengalami perubahan pada sekitar tahun 1917. Batasan skor yang pada awalnya 21 poin, saat itu telah diubah menjadi 15 poin. Perubahan juga masih terjadi pada tahun 1920, yaitu dalam segi peraturan permainannya. Pada tahun 1920 ini telah diperkenalkan aturan “tiga pukulan” dan telah dibentuk juga batas menyerang pada baris belakang.
Perkembangan permainan bola voli yang terus mengalami kemajuan,telah semakinbanyak merebut minat para pecinta olahraga di dunia. Setelah berhasil memperkenalkan permainan bola voli ke seluruh lapisan masyarakat Amerika Serikat, permainan bola voli-pun semakin melebarkan sayapnya ke negara-negara di luar Amerika. Pada tahun 1900, Kanada telah menjadi negara asing pertama yang mengadopsi permainan bola voli tersebut. Penyebaran permainan bola voli ini pun terus berlanjut ke negara-negera yanglain. Brazil, Rusia, China, Asia, dan Eropa merupakan wadah-wadah dimana permainan bola voli menjadi sebuah olahraga yang sangat populer.
3. Sejarah Perkembangan Bola Voli di Indonesia
Indonesia mengenal permainan bola voli sejak tahun 1982 pada zaman penjajahan Belanda. Guru-guru pendidikan jasmani didatangkan dariNegeri Belanda untuk mengembangkan olahraga umumnya dan bola voli khususnya. Di samping guru-guru pendidikan jasmani, tentara Belanda banyak andilnya dalam pengembangan permainan bola voli di Indonesia, terutama dengan bermain di asrama-asrama, dilapangan terbuka dan mengadakan pertandingan antar kompeni-kompeni Belandasendiri.
Permainan bola voli di Indonesia sangat pesat di seluruh lapisan mayarakat, sehingga timbul klub-klub di kota besar di seluruh Indonesia. Dengan dasar itulah maka pada tanggal 22 januari 1955 PBVSI (persatuan bola voli seluruh indonesia) didirikan di Jakarta bersamaan dengan kejuaraan nasional yang pertama.
PBVSI sejak itu aktif mengembangkan kegiatan-kegiatan baik ke dalm maupun ke luar negeri sampai sekarang. Perkembangan permainan bola voli sangat menonjol saat menjelang Asian Games IV 1962 dan Ganefo I 1963 di Jakarta, baik untuk pria maupun untukwanitanya. Pertandingan bola voli masuk acara resmi dalam PON II 1951 di Jakarta dan POM I di Yogyakarta tahun 1951. setelah tahun 1962 perkembangan bnola voli seperti jamur tumbuh di musim hujan banyaknya klub-klub bola voli di seluruh pelosok tanah air.Hal ini terbukti pula dengan data-data peserta pertandingan dalam kejuaran nasional. PON dan pesta-pesta olahraga lain, di mana angka menunjukkan peningkatan jumlahnya. Boleh dikatakan sampai saat ini permainan bola voli di Indonesia menduduki tempat ketiga setelah sepak bola dan bulu tangkis.Untuk pertama kalinya dalam sejarah perbolavolian Indonesia, PBVSI telah dapat mengirimkan tim bola voli yunior Indonesia ke kejuaraan Dunia di Athena Yunani yang berlangsung dari tanggal 3-12 september 1989. tim bola voli yunior putra Indonesia ini dilatih oleh Yano Hadian dengan dibantu oleh trainer Kanwar, serta pelatih dari Jepang Hideto Nishioka, sedangkan pelatih fisik diserahkan kepada Engkos Kosasih dari bidang kepelatihan PKON (pusat kesehatan olahraga nasional) KANTOR MENPORA. Dalam kejuaraan dunia bola voli putra tersebut, sebagai juaranya adalah :
1. Uni Sovyet
2. Jepang
3. Brazil
4. Bulagaria
5.Kuba
6. Yunani
7. Polandia
Sedangkan Indonesia sendiri baru dapat menduduki urutan ke 15.Dalam periode di bawah pimpinan ketua Umum PBVSI Jendral (Pol) Drs. MochamadSanusi, perbolavolian makinmeningkat baik dari jumlahnya perkumpulan yang ada maupun dari lancarnya system kompetisi yang berlangsung,; sampai dengan kegiatan yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri.
4. Pembinaan Bola Voli Di Indonesia
Perkembangan bolavoli Indonesia dari tahun ke tahun, tidak lepas dari sikap konsisten pihak Sampoerna Hijau dalam mensponsori setiap event bolavoli di Indonesia baik ditingkat Nasional maupun event-event lokal.Pembinaan bolavoli di Indonesia memiliki beberapa jenjang pembinaan resmi PBVSI.
PROLIGA. Adalah event profesional Indonesia. Event ini dikemas dengan penggabungan sebuah kompetisi bolavoli dengan entertainment agar permainan bolavoli bisa melibatkan dan dapat dinikmati oleh banyak orang. Setiap tim yang mengikuti event ini, diwajibkan untuk mengikat pemain - pemainnya secara profesional.
LIVOLI. merupakan even pertandingan antarklub tertinggi di Indonesia. Livoli diikuti 10 klub resmi PBVSI putra dan putri terbaik di Indonesia. Setiap pemain yang berlaga pada even ini merupakan atlet binaan klub atau yang berstatus anggota di klub yang bersangkutan. Melalui even Livoli akan ditentukan peringkat klub secara nasional. Untuk klub yang berada diperingkat 2 terbawah akan terdegradasi dan wajib mengikuti even Kejurnas antarklub.
KEJURNAS. merupakan even yang mempertandingkan semua perwakilan klub resmi daerah yang terdaftar di PBVSI. Klub yang berhak mengikuti kejurnas adalah klub finalis pada even kejurda. Sedangkan untuk klub Finalis Kejurnas memiliki hak promosi untuk mengikuti LIVOLI.
KEJURDA. Even ini dilaksanakan oleh masing-masing propinsi. Kejurda merupakan tolok ukur tingkat keberhasilan pembinaan.
KESIMPULAN
Bola voli adalah olahraga permainan yang dimainkan oleh dua grup berlawanan. Masing-masing grup memiliki enam orang pemain. Terdapat pula variasi permainan bola voli pantai yang masing-masing grup hanya memiliki dua orang pemain. Pada waktu service kedua regu harus berada dalam lapangan / didaerahnya masing-masing dalam 2 deret kesamping. Tiga deret ada di depan dan tiga deret ada di belakang. Pemain nomor satu dinamakan server, pemain kedua dinamakan spiker, pemain ketiga dinamakan set upper atau tosser,pemain nomor empat dinamakan blocker, pemain nomor lima dan enam dinamakan libero.
Indonesia mengenal permainan bola voli sejak tahun 1982 pada zaman penjajahan Belanda. Guru-guru pendidikan jasmani didatangkan dariNegeri Belanda untuk mengembangkan olahraga umumnya dan bola voli khususnya. Di samping guru-guru pendidikan jasmani, tentara Belanda banyak andilnya dalam pengembangan permainan bola voli di Indonesia, terutama dengan bermain di asrama-asrama, dilapangan terbuka dan mengadakan pertandingan antar kompeni-kompeni Belandasendiri.
Permainan bola voli di Indonesia sangat pesat di seluruh lapisan mayarakat, sehingga timbul klub-klub di kota besar di seluruh Indonesia. Dengan dasar itulah maka pada tanggal 22 januari 1955 PBVSI (persatuan bola voli seluruh indonesia) didirikan di Jakarta bersamaan dengan kejuaraan nasional yang pertama.
http://ganevo.wordpress.com/2008/05/03/pembinaan-bolavoli-indonesia.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 21)
DAFTAR PUSTAKA
http://www.wikipedia.com/bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 19)
http://www.govolley.com/index.php/sejarah-bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 13)
http://hadilegowo08.blogspot.com/2007/12/bola-voli.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 9: 10)
http://ganevo.wordpress.com/2008/05/03/pembinaan-bolavoli-indonesia.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 21)
http://www.govolley.com/index.php/lapangan.html di unduh pada tanggal 19 Desember 2009, pukul 8: 19)
http://www.govolley.com/index.php/skills.http di unduh pada tanggal 20 Desember 2009, pukul 19: 19)
http://www.govolley.com/index.php/strategi.html di unduh pada tanggal 20 Desember 2009, pukul 20: 16)
OBAT DAN SUBLEMEN
OBAT DAN SUPLEMEN
OLEH:
1. HERU SUPY YANA (076484203)
2. IMAM BUKHORI (076484204)
3. WAHYU EKO SANTOSO (076484205)
4. DWI NUR RAKMAH A. (076484207)
5. FANDIK EKA PRAYOGA (076484208)
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN PENDIDIKAN KESEHATAN REKREASI
PRODI S1 ILMU KEOLAHRAGAAN
2009
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Obat merupakan salah satu intervensi kesehatan yang paling nyata dan paling dirasakan oleh pasien yang berkunjung ke fasilitas kesehatan. Obat generic lebih dipilih karena harganya yang lebih terjangkau dengan tingkat keamanan, efikasi, kualitas yang terjamin. Undang-undang kesehatan No.23 tahun 1992 mengatur berbagai definisi dan pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan yang lain sperti yang tertuang dalam Pasal 61 yang berbunyi perbekalan kesehatan yang diperlukan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan meliputi sediaan farmasi, alat kesehatan, dan perbekalan lainnya (sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik). Pasal 61 ayat 1 memuat pengelolaan perbekalan kesehatan, yaitu “pengelolaan perbekalan kesehatan dilakukan agar dapat terpenuhinya kebutuhan sediaan farmasi dan alat kesehatan serta perbekalan lainnya yang terjangkau masyarakat”.
Pembicara mengulas lebih lanjut mengenai pengelolaan perbekalan kesehatan seperti yang tertuang dalam pasal 61 ayat 1 dan 2, yang berisi antara lain: pasal 61 ayat pengelolaan perbekalan kesehatan yang berupa sediaan farmasi dan alat kesehatan dilaksanakan dengan memperhatikan pemenuhan kebutuhan, kemanfaatan, harga, dan faktor yang berkaitan dengan pemerataan penyediaan perbekalan kesehatan. Pasal 61 ayat 3, pemerintah membantu penyediaan perbekalan kesehatan yang menurut pertimbangan diperlukan oleh sarana kesehatan. Selain UU No.23 tahun 1992, selanjutnya pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan juga diatur lebih lanjut dalam PP No.78 tahun 1998 yang berisi ayat 1: Sediaan farmasi dan alat kesehatan yang diproduksi dan atau diedarkan harus memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu:
1. Apa itu obat dan sublemen?
2. Manfaat dari obat dan suplemen itu apa?
C. Tujuan
tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1. Mengerti tentang obat dan suplemen
2. Mengerti tentang manfaat obat dn suplemen
D. Manfaat
1. Membantu masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan
2. Mengembangkan pengetahuan masyarakat tentang dunia obat dan suplemen
3. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan bagi perkembangan ilmu keolahragaan dan farmakologi
4. Dapat digunakan masyarakat sebagai sumber yang ingin diketahui
BAB II
PEMBAHASAN
A. Obat dan Peran Obat dalam Pelayanan Kesehatan
a. Pengertian Obat
Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Menurut Ansel (1985), obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan.
Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup, maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit. (Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia)
Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005).
Obat merupakan benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit, membebaskan gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh.
Obat merupakan senyawa kimia selain makanan yang bisa mempengaruhi organisme hidup, yang pemanfaatannya bisa untuk mendiagnosis, menyembuhkan, mencegah suatu penyakit.
b. Bahan Obat / Bahan Baku
Semua bahan, baik yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat, yang berubah maupun yang tidak berubah, yang digunakan dalam pengolahan obat walaupun tidak semua bahan tersebut masih terdapat di dalam produk ruahan. Produk ruahan merupakan tiap bahan yang telah selesai diolah dan tinggal memerlukan pengemasan untuk menjadi obat jadi.
c. Obat Tradisional
Merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun menurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
d. Penggolongan Obat
Obat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:
1) Obat Bebas, merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat bebas umumnya berupa suplemen vitamin dan mineral, obat gosok, beberapa analgetik-antipiretik, dan beberapa antasida. Obat golongan ini dapat dibeli bebas di Apotek, toko obat, toko kelontong, warung.
2) Obat Bebas Terbatas, merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat-obat yang umunya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat batuk, obat influenza, obat penghilang rasa sakit dan penurun panas pada saat demam (analgetik-antipiretik), beberapa suplemen vitamin dan mineral, dan obat-obat antiseptika, obat tetes mata untuk iritasi ringan. Obat golongan ini hanya dapat dibeli di Apotek dan toko obat berizin.
3) Obat Keras, merupakan obat yang pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat huruf K berwarna merah yang menyentuh tepi lingkaran yang berwarna hitam. Obat keras merupakan obat yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Obat-obat yang umumnya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat jantung, obat darah tinggi/hipertensi, obat darah rendah/antihipotensi, obat diabetes, hormon, antibiotika, dan beberapa obat ulkus lambung. Obat golongan ini hanya dapat diperoleh di Apotek dengan resep dokter.
4) Obat Narkotika, merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (UURI No. 22 Th 1997 tentang Narkotika). Obat ini pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat palang (+) berwarna merah.
Obat Narkotika bersifat adiksi dan penggunaannya diawasi dengan ketet, sehingga obat golongan narkotika hanya diperoleh di Apotek dengan resep dokter asli (tidak dapat menggunakan kopi resep). Contoh dari obat narkotika antara lain: opium, coca, ganja/marijuana, morfin, heroin, dan lain sebagainya. Dalam bidang kesehatan, obat-obat narkotika biasa digunakan sebagai anestesi/obat bius dan analgetik/obat penghilang rasa sakit.
e. Peran Obat
Obat merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan, karena selain merupakan komoditas perdagangan, obat juga memiliki fungsi sosial. Obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan karena penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi. Seperti yang telah dituliskan pada pengertian obat diatas, maka peran obat secara umum adalah sebagai berikut:
1) Penetapan diagnosa
2) Untuk pencegahan penyakit
3) Menyembuhkan penyakit
4) Memulihkan (rehabilitasi) kesehatan
5) Mengubah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu
6) Peningkatan kesehatan
7) Mengurangi rasa sakit
B. Parameter-parameter Farmakologi
a. Farmakokinetika
Farmakokinetika merupakan aspek farmakologi yang mencakup nasib obat dalam tubuh yaitu absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresinya (ADME).
Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umunya mengalami absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek. Kemudian dengan atau tanpa biotransformasi, obat diekskresi dari dalam tubuh. Seluruh proses ini disebut dengan proses farmakokinetika dan berjalan serentak seperti yang terlihat pada gambar 1.1 dibawah ini.
Gambar 1.1. Berbagai proses farmakokinetika obat
1) Absorpsi dan Bioavailabilitas
Kedua istilah tersebut tidak sama artinya. Absorpsi, yang merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses tersebut. Kelengkapan dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang diberikan. Tetapi secara klinik, yang lebih penting ialah bioavailabilitas. Istilah ini menyatakan jumlah obat, dalam persen terhadap dosis, yang mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif. Ini terjadi karena untuk obat-obat tertentu, tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sestemik. Sebagaian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding ususpada pemberian oral dan/atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut. Metabolisme ini disebut metabolisme atau eliminasi lintas pertama (first pass metabolism or elimination) atau eliminasi prasistemik. Obat demikian mempunyai bioavailabilitas oral yang tidak begitu tinggi meskipun absorpsi oralnya mungkin hampir sempurna. Jadi istilah bioavailabilitas menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Eliminasi lintas pertama ini dapat dihindari atau dikurangi dengan cara pemberian parenteral (misalnya lidokain), sublingual (misalnya nitrogliserin), rektal, atau memberikannya bersama makanan.
2) Distribusi
Setelah diabsorpsi, obat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat fisikokimianya. Distribusi obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak. Selanjutnya, distribusi fase kedua jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit, dan jaringan lemak. Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih lama. Difusi ke ruang interstisial jaringan terjadi karena celah antarsel endotel kapiler mampu melewatkan semua molekul obat bebas, kecuali di otak. Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi membran sel dan terdistribusi ke dalam otak, sedangkan obat yang tidak larut dalam lemak akan sulit menembus membran sel sehingga distribusinya terbatas terurama di cairan ekstrasel. Distribusi juga dibatasi oleh ikatan obat pada protein plasma, hanya obat bebas yang dapat berdifusi dan mencapai keseimbangan. Derajat ikatan obat dengan protein plasma ditentukan oleh afinitas obat terhadap protein, kadar obat, dan kadar proteinnya sendiri. Pengikatan obat oleh protein akan berkurang pada malnutrisi berat karena adanya defisiensi protein.
3) Biotransformasi / Metabolisme
Biotransformasi atau metabolisme obat ialah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar, artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah diekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya obat menjadi inaktif, sehingga biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja obat. Tetapi, ada obat yang metabolitnya sama aktif, lebih aktif, atau tidak toksik. Ada obat yang merupakan calon obat (prodrug) justru diaktifkan oleh enzim biotransformasi ini. Metabolit aktif akan mengalami biotransformasi lebih lanjut dan/atau diekskresi sehingga kerjanya berakhir.
Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan berdasarkan letaknya dalam sel, yakni enzim mikrosom yang terdapat dalam retikulum endoplasma halus (yang pada isolasi in vitro membentuk mikrosom), dan enzim non-mikrosom. Kedua macam enzim metabolisme ini terutama terdapat dalam sel hati, tetapi juga terdapat di sel jaringan lain misalnya ginjal, paru, epitel, saluran cerna, dan plasma.
4) Ekskresi
Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar diekskresi lebih cepat daripada obat larut lemak, kecuali pada ekskresi melalui paru. Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting. Ekskresi disini merupakan resultante dari 3 preoses, yakni filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubuli proksimal, dan rearbsorpsi pasif di tubuli proksimal dan distal.
Ekskresi obat melalui ginjal menurun pada gangguan fungsi ginjal sehingga dosis perlu diturunkan atau intercal pemberian diperpanjang. Bersihan kreatinin dapat dijadikan patokan dalam menyesuaikan dosis atau interval pemberian obat.
Ekskresi obat juga terjadi melalui keringat, liur, air mata, air susu, dan rambut, tetapi dalam jumlah yang relatif kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran efek obat. Liur dapat digunakan sebagai pengganti darah untuk menentukan kadar obat tertentu. Rambut pun dapat digunakan untuk menemukan logam toksik, misalnya arsen, pada kedokteran forensik.
b. Farmakodinamika
Farmakodinamika mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia berbagai organ tubuh serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respon yang terjadi. Pengetahuan yang baik mengenai hal ini merupakan dasar terapi rasional dan berguna dalam sintesis obat baru.
1) Mekanisme Kerja Obat
Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respons khas untuk obat tersebut. Reseptor obat merupakan komponen makromolekul fungsional yang mencakup 2 konsep penting. Pertama, bahwa obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, bahwa obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada. Walaupun tidak berlaku bagi terapi gen, secara umum konsep ini masih berlaku sampai sekarang. Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor obat, tetapi sekelompok reseptor obat tertentu juga berperan sebagai reseptor yang ligand endogen (hormon, neurotransmitor). Substansi yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis. Sebaliknya, senyawa yang tidak mempunyai aktivitas intrinsik tetapi menghambat secara kompetitif efek suatu agonis di tempat ikatan agonis (agonist binding site) disebut antagonis.
2) Reseptor Obat
Struktur kimia suatu obat berhubunga dengan afinitasnya terhadap reseptor dan aktivitas intrinsiknya, sehingga perubahan kecil dalam molekul obat, misalnya perubahan stereoisomer, dapat menimbulkan perubahan besar dalam sidat farmakologinya. Pengetahuan mengenai hubungan struktur aktivitas bermanfaat dalam strategi pengembangan obat baru, sintesis obat yang rasio terapinya lebih baik, atau sintesis obat yang selektif terhadap jaringan tertentu. Dalam keadaan tertentu, molekul reseptor berinteraksi secara erat dengan protein seluler lain membentuk sistem reseptor-efektor sebelum menimbulkan respons.
3) Transmisi Sinyal Biologis
Penghantaran sinyal biologis ialah proses yang menyebabkan suatu substansi ekstraseluler (extracellular chemical messenger) menimbulkan suatu respons seluler fisiologis yang spesifik. Sistem hantaran ini dimulai dengan pendudukan reseptor yang terdapat di membran sel atau di dalam sitoplasmaoleh transmitor. Kebanyakan messenger ini bersifat polar. Contoh, transmitor untuk reseptor yang terdapat di membran sel ialah katekolamin, TRH, LH. Sedangkan untuk reseptor yang terdapat dalam sitoplasma ialah steroid (adrenal dan gonadal), tiroksin, vit. D.
4) Interaksi Obat-Reseptor
Ikatan antara obat dan reseptor misalnya ikatan substrat dengan enzim, biasanya merupakan ikatan lemah (ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, van der Waals), dan jarang berupa ikatan kovalen.
5) Antagonisme Farmakodinamika
Secara farmakodinamika dapat dibedakan 2 jenis antagonisme, yaitu antagonisme fisiologik dan antagonisme pada reseptor. Selain itu, antagonisme pada reseptor dapat bersifat kompetitif atau nonkompetitif. Antagonisme merupakan peristiwa pengurangan atau penghapusan efek suatu obat oleh obat lain. Peristiwa ini termasuk interaksi obat. Obat yang menyebabkan pengurangan efek disebut antagonis, sedang obat yang efeknya dikurangi atau ditiadakan disebut agonis. Secara umum obat yang efeknya dipengaruhi oleh obat lain disebut obat objek, sedangkan obat yang mempengaruhi efek obat lain disebut obat presipitan.
6) Kerja Obat yang tidak Diperantarai Reseptor
Dalam menimbulkan efek, obat tertentu tidak berikatan dengan reseptor. Obat-obat ini mungkin mengubah sifat cairan tubuh, berinteraksi dengan ion atau molekul kecil, atau masuk ke komponen sel.
7) Efek Obat
Efek obat yaitu perubahan fungsi struktur (organ)/proses/tingkah laku organisme hidup akibat kerja obat.
C. Macam-macam Bentuk Obat dan Tujuan Penggunaannya
• Bentuk-bentuk obat serta tujuan penggunaannya antara lain adalah sebagai berikut:
a. Pulvis (Serbuk)
Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar.
b. Pulveres
Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.
c. Tablet (Compressi)
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan.
1) Tablet Kempa 􀃆 paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk serta penandaannya tergantung design cetakan
2) Tablet Cetak 􀃆 dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab dalam lubang cetakan.
3) Tablet Trikurat 􀃆 tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. Sudah jarang ditemukan
4) Tablet Hipodermik 􀃆 dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara oral.
5) Tablet Sublingual 􀃆 dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan meletakkan tablet di bawah lidah.
6) Tablet Bukal 􀃆 digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi.
7) Tablet Efervescen ô€ƒ† tablet larut dalam air. Harus dikemas dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis “tidak untuk langsung ditelan”.
8) Tablet Kunyah 􀃆 cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak di rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak.
d. Pilulae (PIL)
Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.
e. Kapsulae (Kapsul)
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:
1) Menutupi bau dan rasa yang tidak enak
2) Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari
3) Lebih enak dipandang
4) Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis), dengan pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar.
5) Mudah ditelan.
f. Solutiones (Larutan)
Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).
g. Suspensi
Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair. Macam suspensi antara lain: suspensi oral (juga termasuk susu/magma), suspensi topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes telinga (telinga bagian luar), suspensi optalmik, suspensi sirup kering.
h. Emulsi
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi, fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya distabilkan oleh zat pengemulsi.
i. Galenik
Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang disari.
j. Extractum
Merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang ditetapkan.
k. Infusa
Merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 900 C selama 15 menit.
l. Immunosera (Imunoserum)
Merupakan sediaan yang mengandung Imunoglobin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular) dan mengikat kuman/virus/antigen.
m. Unguenta (Salep)
Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok.
n. Suppositoria
Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Tujuan pengobatan yaitu:
1) Penggunaan lokal 􀃆 memudahkan defekasi serta mengobati gatal, iritasi, dan inflamasi karena hemoroid.
2) Penggunaan sistemik 􀃆 aminofilin dan teofilin untuk asma, chlorprozamin untuk anti muntah, chloral hydrat untuk sedatif dan hipnotif, aspirin untuk analgenik antipiretik.
o. Guttae (Obat Tetes)
Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam), Guttae Oris (tets mulut), Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae Nasales (tetes hidung), Guttae Ophtalmicae (tetes mata).
p. Injectiones (Injeksi)
Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.
• Cara pemberian obat serta tujuan penggunaannya adalah sebagai berikut:
a. Oral
Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. Keuntungannya relatif aman, praktis, ekonomis. Kerugiannya timbul efek lambat; tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah, diare, tidak sadar, tidak kooperatif; untuk obat iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas; obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G, insulin); obat absorpsi tidak teratur.
Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki, penggunaan oral adalah yang paling menyenangkan dan murah, serta umumnya paling aman. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus. Pada keadaan pasien muntah-muntah, koma, atau dikehendaki onset yang cepat, penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai.
b. Sublingual
Cara penggunaannya, obat ditaruh dibawah lidah. Tujuannya supaya efeknya lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. Misal pada kasus pasien jantung. Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta)
c. Inhalasi
Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). Misal obat asma. Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen, kadar obat dapat dikontrol, terhindar dari efek lintas pertama, dapat diberikan langsung pada bronkus. Kerugiannya yaitu, diperlukan alat dan metoda khusus, sukar mengatur dosis, sering mengiritasi epitel paru – sekresi saluran nafas, toksisitas pada jantung.
Dalam inhalasi, obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paru-paru dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan.
d. Rektal
Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. Tujuannya mempercepat kerja obat serta sifatnya lokal dan sistemik. Obat oral sulit/tidak dapat dilakukan karena iritasi lambung, terurai di lambung, terjadi efek lintas pertama. Contoh, asetosal, parasetamol, indometasin, teofilin, barbiturat.
e. Pervaginam
Bentuknya hampir sama dengan obat rektal, dimasukkan ke vagina, langsung ke pusat sasar. Misal untuk keputihan atau jamur.
f. Parentral
Digunakan tanpa melalui mulut, atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh selain saluran cerna. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke pembuluh darah. Misal suntikan atau insulin. Efeknya biar langsung sampai sasaran. Keuntungannya yaitu dapat untuk pasien yang tidak sadar, sering muntah, diare, yang sulit menelan/pasien yang tidak kooperatif; dapat untuk obat yang mengiritasi lambung; dapat menghindari kerusakan obat di saluran cerna dan hati; bekerja cepat dan dosis ekonomis. Kelemahannya yaitu kurang aman, tidak disukai pasien, berbahaya (suntikan – infeksi).
Istilah injeksi termasuk semua bentuk obat yang digunakan secara parentral, termasuk infus. Injeksi dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi. Apabila obatnya tidak stabil dalam cairan, maka dibuat dalam bentuk kering. Bila mau dipakai baru ditambah aqua steril untuk memperoleh larutan atau suspensi injeksi.
g. Topikal/lokal
Obat yang sifatnya lokal. Misal tetes mata, tetes telinga, salep.
h. Suntikan
Diberikan bila obat tidak diabsorpsi di saluran cerna serta dibutuhkan kerja cepat.
• Tabel Penggunaan Bentuk Sediaan
Cara Pemberian Bentuk Sediaan Utama
Oral Tablet, kapsul, larutan (sulotio), sirup, eliksir, suspensi, magma, jel, bubuk
Sublingual Tablet, trokhisi dan tablet hisap
Parentral Larutan, suspensi
Epikutan/transdermal Salep, krim, pasta, plester, bubuk, erosol, latio, tempelan transdermal, cakram, larutan, dan solutio
Konjungtival Salep
Introakular/intraaural Larutan, suspensi
Intranasal Larutan, semprot, inhalan, salep
Intrarespiratori Erosol
Rektal Larutan, salep, supositoria
Vaginal Larutan, salep, busa-busa emulsi, tablet, sisipan, supositoria, spon
Uretral Larutan, supositoria
D. Sublemen
a. Pengertian Suplemen
Suplemen makanan kini telah dijual bebas di toko makanan sehat, toko kelontong, apotek, dan lain-lain. Orang-orang pada umumnya mengkonsumsinya karena berbagai alasan kesehatan.Manusia sudah ratusan bahkan ribuan tahun memakai suplemen untuk membantu meningkatkan kesehatan dan untuk merawat penyakit. Bahkan beberapa jenis suplemen tersebut menjadi bahan dasar metode pengobatan terkini. Contohnya, manusia sudah menggunakan teh kulit pohon willow (willow bark) sebagai ramuan untuk menyembuhkan demam. Perusahaan farmasi akhirnya mengetahui manfaat zat kimia dalam willow bark tersebut hingga akhirnya memanfaatkannya untuk memproduksi aspirin.
Apa itu suplemen makanan?
Di Amerika Serikat, suplemen makanan diartikan sebagai zat atau bahan makanan yang Anda konsumsi. Zat atau bahan makanan tersebut dapat berupa vitamin, mineral, jamu atau tanaman obat, asam amino (elemen pembangun protein), atau bagian-bagian dari zat atau bahan makanan ini. Bentuk suplemen makanan dapat berupa pil, kapsul, tablet, serbuk, softgel atau cair. Suplemen makanan merupakan pendamping atau penambah program diet, nutrisi atau kondisi tubuh tertentu dan bukan merupakan pengganti makanan. Suplemen makanan pada umumnya termasuk vitamin (misalnya vitamin C) dan mineral, botanical (misalnya jamu dan produk tanaman), dan zat atau bahan yang berasal dari sumber alam (misalnya susu whey dan glucosamine).
Para produsen suplemen makanan secara resmi dilarang memberi pernyataan bahwa suplemennya dapat mendiagnosa, menyembuhkan, merawat, atau mencegah penyakit. Namun para produsen suplemen makanan dapat menyatakan bahwa suplemennya dapat meningkatkan atau berkontribusi menjaga tingkat kesehatan. Asosiasi Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) mengeluarkan peraturan yang tidak sama atas suplemen makanan dan atas obat-obatan. Diantara peraturan itu menyebutkan suplemen makanan dapat dijual bebas tanpa harus adanya penelitian tingkat kemanjurannya. Lain halnya dengan obat-obatan yang harus teruji.
b. Kegunaan Suplemen ?
Orang-orang mengkonsumsi suplemen makanan dalam beberapa kondisi kesehatan. Konsumsi multivitamin dan multimineral bermanfaat sebagai suplemen diet dan perawatan penyakit. Misalnya Vitamin C dipercaya mampu mencegah dan meredakan demam. Beberapa penelitian terhadap produk suplemen alami dari tanaman dan hewan menunjukkan kemanjuran yang sama dengan obat-obatan konvensional. Namun tentunya ada juga yang dianggap kurang manjur atau bahkan berbahaya. menurut sejarahnya, manusia sudah memanfaatkan pengobatan tradisional untuk mencegah penyakit, menyembuhkan infeksi, meredakan demam, dan penyembuhan luka. Obat-obatan alami dari tumbuhan juga mampu mencegah konstipasi, meredakan rasa sakit (painkiller), atau bekerja sebagai ramuan pereda stress dan perangsang. Beberapa penelitian memang menunjukkan kandungan bahan alami yang terbukti bermanfaat. Misalnya glucosamine yang terbukti bermanfaat dalam penyembuhan atau perawatan osteoarthritis (radang sendi).
Apakah suplemen makanan aman dikonsumsi?
Secara keseluruhan, para ahli kesehatan menyatakan bahwa suplemen makanan aman untuk dikonsumsi. Tentunya dengan alasan penggunaan zat-zat dan bahan-bahan alami pada suplemen makanan tersebut. Apalagi beberapa produsen suplemen telah melakukan penelitian intensif pada berbagai produk suplemen mereka. Namun perlu diingat, meskipun suplemen makanan terbukti aman dan berkhasiat bukan berarti Anda dapat menghindari obat-obatan konvensional biasa dan hanya mengandalkan suplemen makanan. Selalu konsultasikan terlebih dulu kepada dokter jika Anda dalam kondisi mengkonsumsi suplemen sebelum pemberian resep dokter atau apabila Anda bermaksud mengkombinasikan suplemen makanan bersama dengan obat-obatan biasa untuk perawatan kesehatan Anda. Sebagai contoh anjuran tersebut sangat penting bagi para wanita hamil dan menyusui.
Beberapa Contoh Penggunaan Suplemen Makanan
Memperkuat sistem kekebalan digunakan suplemen Vitamin A, Vitamin C, Herbal Echinaceha, dan jamur Shiitake. Untuk mengobati infeksi spesifik, digunakan goldenseal (infeksi bakteri), licorice (infeksi virus) dan tea tree oil (infeksi jamur pada kulit). Menghilangkan racun tubuh (detoksifikasi) digunakan suplemen betakaroten, Vitamin C, Vitamin E, dan klorofil. Untuk mengatasi keracunan usus diberikan suplemen laktobasilus. Untuk detoksifikasi hati biasa dipakai suplemen bawang putih atau garlic, sylibum marianum, sayuran golongan brassica (kubis, brokoli, Brussel sprout), dan glutathione. Mengatasi radang digunakan suplemen Vitamin E dan Vitamin C dalam dosis tinggi untuk menormalkan kembali fungsi respon tubuh terhadap radang. Untuk menurunkan efek peradangan digunakan suplemen quercetin, flax seed oil, evening primrose oil dan minyak ikan (Omega 3).
Mengoptimalkan fungsi metabolik terutama untuk memperbaiki sistem pencernaan digunakan suplemen herbal bitter, betain hidroklorida dan enzim pepsin.
Menyeimbangkan sistem hormon seperti: Memperbaiki hormon tiroid dengan pemberian suplemen mineral tembaga, selenium, seng, dan ekstrak kelenjar tiroid. Meningkatkan kadar hormon DHEA dapat digunakan suplemen Siberian panax ginseng dan suplemen DHEA. Meningkatkan keseimbangan hormon wanita dapat digunakan suplemen mineral seng, dan Vitamin A. Meningkatkan fungsi hormon pria dapat mengkonsumsi suplemen mineral Zinc, Siberian panax ginseng dan tribulus yang dapat bekerja dengan baik ketika digabung dengan suplemen DHEA dan ZMA. Untuk mencegah penuaan dini (antia aging) diperlukan suplementasi Vitamin C, Vitamin E, Vitamin B12, Coenzym Q10, glucosamine sulfat, glutathione, chromium, magnesium, selenium dan flax seed oil. Sedangkan dari kelompok herbal yang disarankan adalah suplemen Siberian panax ginseng, gingko biloba dan crateagus oxycanthe
c. Perlukah Memakan Suplemen
Sekitar 2.000 tahun lalu, bapak ilmu kedokteran Barat, Hipocrates, berujar, "Let your food be your medicine and your medicine be your food". Ini bisa diartikan, pola makan yang sehat dan seimbang dapat menunjang kesehatan seseorang secara optimal dan dari zat gizi makanan, sehingga kita dapat terhindar dari berbagai macam penyakit. Timbul pertanyaan, dalam era modernisasi dan globalisasi ini mampukah kita memenuhi pola makanan yang seimbang? Sebagian dari kita tidak. Mungkin inilah yang menjadi latar belakang tumbuhnya berbagai macam bisnis suplemen makanan demikian pesat sehingga memberikan banyak peluang bagi para produsen untuk memasarkannya.
Sebenarnya, perlu atau tidak kita mengkonsumsi suplemen makanan dan seberapa banyak kita membutuhkannya? Kondisi bagaimana saja yang diperbolehkan?
Suplemen makanan merupakan makanan yang mengandung zat-zat gizi dan non-gizi; bisa dalam bentuk kapsul, kapsul lunak, tablet, bubuk, atau cairan yang fungsinya sebagai pelengkap kekurangan zat gizi yang dibutuhkan untuk menjaga agar vitalitas tubuh tetap prima. Sebagai pelengkap, suplemen makanan bukan diartikan sebagai pengganti (substitusi) makanan kita sehari-hari. Suplemen makanan umumnya berasal dari bahan-bahan alami tanpa tambahan zat-zat kimia walaupun pada vitamin tertentu ada yang sintetis. Suplemen vitamin seperti asam folat dalam bentuk sintetis memang lebih mudah terserap dalam tubuh, walaupun vitamin E dari bahan alami jauh lebih baik penyerapannya daripada yang sintetis. Suplemen makanan digolongkan sebagai nutraceutical, sedangkan obat-obatan masuk golongan pharmaceutical. Berbeda dengan obat-obatan yang harus diuji efektivitasnya secara klinis mengikuti serangkaian prosedur, suplemen makanan ini khasiatnya tidak perlu dibuktikan melalui uji klinis. Sampai saat ini pun jenis nutraceutical boleh dijual secara bebas tapi tidak boleh diklaim memiliki khasiat untuk mengobati penyakit seperti halnya obat-obatan. Di Indonesia suplemen makanan dimasukkan dalam golongan makanan, bukan obat. Peraturan Menteri Kesehatan No. 329/Menkes/Per/XII/76 menyatakan, makanan sebagai barang yang untuk dimakan dan diminum tetapi bukan sebagai obat.
Namun akibat pengaruh iklan yang menarik bahwa suplemen makanan dapat menyembuhkan atau mencegah penyakit ini dan itu, timbullah kerancuan. Tentu di sini peranan Ditjen POM (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan), Departemen Kesehatan RI, sangat penting dalam menentukan masalah labelling, claim, serta etika periklanan untuk melindungi konsumen.
d. Radikal bebas dan antioksidan
Perkembangan ilmu pengetahuan di bidang gizi dan kedokteran klinis kini banyak mengungkapkan teori radikal bebas yang dapat menganggu kesehatan kita sehingga mendorong para ahli untuk mengungkapkan cara pencegahannya dari zat-zat antioksidan. Radikal bebas banyak mendapat perhatian karena dianggap berperan cukup menonjol dalam proses terjadinya berbagai penyakit degeneratif seperti arteriosklerosis, penyakit jantung, kanker, proses penuaan, dll.
Dr. Kenneth H. Cooper's, presiden Cooper Aerobics Center di Dallas, AS, dalam buku barunya Revolusi Antioksidan menyatakan, terobosan berikutnya dalam ilmu kedokteran preventif adalah antioksidan. Dengan latar belakang teori radikal bebas dan antioksidan itu, kini salah satu jenis suplemen makanan juga menawarkan zat antioksidan dalam bentuk kemasan beraneka ragam.
Beberapa studi yang telah dilakukan mengungkapkan, vitamin C, vitamin E, beta karotin, dan selenium berfungsi sebagai antioksidan untuk menangkal senyawa radikal bebas ini. Selain itu, zat non-gizi seperti pigmen (likopen pada tomat, flavonoid, klorofil) dan enzim (glutation peroksida, koenzim Q-10) juga berkhasiat sebagai antioksidan. Zat gizi dan non-gizi ini sebenarnya dapat kita peroleh dari makanan sehari-hari seperti sayuran, buah-buahan, tempe, dll. Namun sering menjadi pertanyaan, sejauh mana kita memerlukan suplemen makanan ini untuk mencukupi kebutuhan gizi yang dianjurkan bila kita sudah mengkonsumsi makanan yang mengandung antioksidan ini?
e. Stres perlu suplemen
Sebagai makanan tambahan atau pelengkap tentunya suplemen makanan harus benar-benar dikonsumsi dalam kondisi yang tepat dan sesuai dengan kondisi tubuh seseorang. Bila makanan yang dikonsumsi seseorang sudah seimbang dan memenuhi prinsip "4 sehat 5 sempurna", cukup berolahraga, cukup beristirahat atau tidur, hidup teratur, tidak stres bahkan bebas dari cemaran zat polutan (udara, makanan, dan air), maka suplemen makanan tentunya tidak dianjurkan untuk dikonsumsi karena kebutuan gizi sudah dipenuhi dari makanan sehari-hari. Namun, beberapa kondisi yang perlu diingat sebagai latar belakang penggunaan suplemen makanan dapat disimak sebagai berikut: dalam masyarakat modern dengan pola makan yang tidak seimbang karena kesibukan dan kurangnya persiapan makanan dengan menu seimbang atau kebiasaan mengkonsumsi makanan olahan seperti junk food yang terkadang memakai zat pengawet atau zat tambahan agar makanan tetap awet. Faktor itu akan mempengaruhi asupan zat gizi yang masuk ke dalam tubuh. Belum lagi kurangnya waktu untuk berolahraga karena kesibukan kerja, tidak cukup tidur dan istirahat, bahkan faktor stres yang banyak melanda masyarakat terutama di perkotaan.
Dalam keadaan stres, tubuh akan menguras cadangan gula darah (glukosa) dalam tubuh. Cadangan glukosa ini akan diambil dari persediaan protein dan juga karbohidrat tambahan untuk memenuhi energi yang banyak terbuang pada waktu stres. Rendahnya jumlah serotonin dalam otak dapat memacu terjadinya stres, dan untuk meningkatkan serotonin diperlukan konsumsi protein yang memadai termasuk asam amino yang juga mendorong produksi serotonin.
Di samping itu, stres juga memacu ginjal untuk meningkatkan pengeluaran beberapa mineral penting dari tubuh seperti magnesium, seng, dan kalsium. Stres yang berkepanjangan dan tidak segera diatasi dapat menghilangkan selera makan seseorang sehingga kebutuhan zat gizi tidak dapat dipenuhi dari pola makannya yang terganggu. Dalam hal seperti itu, suplemen makanan diperlukan karena dapat membantu melengkapi kekurangan zat gizi.
Faktor lingkungan seperti pencemaran udara yang dapat merupakan sumber radikal bebas bagi tubuh kita kini juga tidak terlepas dari kehidupan kita. Salah satu bahan pencemar udara itu antara lain timah hitam (Pb), hasil buangan dari knalpot kendaraan yang menggunakan bahan bakar (bensin) yang mengandung timah hitam.
Laporan Bank Dunia URBAIR 1994 menyatakan, dampak pencemaran timah hitam atau timbal menimbulkan 350 kasus penyakit jantung dan 62.000 kasus tekanan darah tinggi dengan angka kematian 340 orang per tahun. Sumber radikal bebas lain dari lingkungan di sekitar kita seperti asap rokok, radiasi sinar matahari, sinar X, dll. Dalam hal ini suplemen makanan yang mengandung antioksidan memang dapat membantu menetralkan radikal bebas dengan mengikat elektron bebas dari sumber tersebut. Dengan memusnahkan radikal bebas, kita dapat mengantisipasi dalam mengurangi kerusakan inti sel, membran sel, dan sistem kekebalan tubuh serta meningkatkan perlindungan tubuh kita.
f. Cegah ketergantungan
Kondisi lain yang juga perlu diperhatikan yaitu bahwa setiap manusia mempunyai keunikan struktur (organ tubuh, jaringan, sel-sel) dan fungsi yang berbeda dari yang lain sehingga untuk mencapai fungsi optimal kecukupan gizinya pun berbeda. Dalam memenuhi fungsi tubuh optimal ini terkadang memang diperlukan tambahan suplemen makanan baik berupa vitamin, mineral, atau enzim tertentu, tapi tentunya harus dikonsultasikan dengan dokter. Misalnya, seseorang yang sering mengalami diare atau gangguan pencernaan karena kekurangan enzim percernaan tertentu dalam ususnya, dapat dibantu dengan suplemen makanan tertentu sebagai tambahan obat yang diresepkan dokter. Selain itu faktor usia di mana beberapa fungsi organ tubuh sudah menurun, seperti kurangnya penyerapan zat gizi atau gangguan pada gigi yang menyebabkan sulit makan, terkadang memerlukan suplemen makanan sebagai pelengkap kebutuhan asupan zat gizi.
Penggunaan suplemen makanan juga dapat bermanfaat untuk seseorang yang mengalami, misalnya, gangguan kekurangan gizi seperti anemia pada ibu hamil atau menyusui, avitaminosis, dan gondok. Juga bagi para perokok berat, peminum alkohol, dan pengguna obat-obatan dalam jangka waktu lama seperti anti-tuberkulosis yang memerlukan vitamin B6, pengguna obat antikejang, kontrasepsi steroid, dan antibiotik tertentu yang dapat menyebabkan defisiensi jenis vitamin atau mineral tertentu. Seseorang dengan perilaku makan yang sulit diubah sejak kecil hingga usia tua terkadang memerlukan "koreksi" dengan suplemen makanan secara kualitatif dan kuantitatif untuk mencapai gizi seimbang. Tentunya harus sambil diberi motivasi dan pendekatan psikologis yang dapat merubah perilaku makannya agar tidak timbul ketergantungan pada suplemen makanan terus- menerus.
Untuk membantu penyembuhan penyakit kronik atau akut tertentu, selain obat-obatan dari dokter, suplemen makanan juga dapat bermanfaat. Bahkan juga untuk penderita yang dirawat di rumah sakit dengan keadaan gizi kurang diperlukan sebagai penunjang pemulihan dan penyembuhan. Tapi penggunaan suplemen makanan harus selalu dikonsultasikan dengan dokter karena penggunaan yang tidak tepat dikhawatirkan menyebabkan gangguan penyerapan obat-obatan tertentu atau interaksi antara obat dan suplemen makanan yang dapat menyebabkan efek merugikan.
Suplemen makanan jangan dianggap sebagai obat dewa yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Peranannya dalam membantu proses pencegahan dan penyembuhan serta rehabilitasi penyakit tertentu memang bisa digunakan. Bukti-bukti ilmiah untuk zat gizi tertentu seperti zat antioksidan, asam lemak esensial (omega-3), memang sudah menunjukkan manfaatnya bagi kesehatan tubuh. Bahkan dalam suatu seminar di FKUI pernah dibahas beberapa khasiat bahan alami seperti temulawak, bawang putih, bawang merah, dan tempe sebagai antioksidan penangkal senyawa radikal bebas. Kembali pada slogan "Aku Cinta Makanan Indonesia" (ACMI), perlu diingat bahwa sebenarnya makanan tradisional Indonesia dalam pola makan sehari-hari mengandung bahan alami yang banyak mengandung antioksidan.
Konsumsi suplemen makanan sebenarnya berawal dari konsep kembali ke alam: bahan-bahan alami dikemas begitu rupa dalam bentuk kapsul, pil, dsb. Namun perlu diingat, makanan segar yang beraneka ragam tetap lebih alami dan bermanfaat. Jadi hendaknya, sebelum mengkonsumsi suplemen makanan, kita mempertimbangkan segala aspek: kondisi tubuh, daya beli, dan manfaat yang diinginkan. Mengkonsumsi suplemen makanan jangan dengan alasan mengutamakan gengsi, terbawa mode, atau memenuhi faktor sugesti. Jadi apabila Anda memang tergolong si pemilih makanan, suplemen multivitamin yang ada dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan vitamin & mineral supaya tercukupi jumlahnya di dalam tubuh. Yang penting pilih suplemen multivitamin yang sesuai dengan kandungan yang cukup & tidak melewati batasan.
g. Kelemahan Suplemen
Keuntungan yang didapat dari sumber makanan yang kaya akan zat gizi tertentu bukan hanya disebabkan adanya zat gizi tersebut, namun juga oleh adanya suatu zat dalam makanan yang juga berperan penting, yaitu zat fitokimia dan serat alami, yang tidak terdapat pada suplemen makanan. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kombinasi makanan yang kaya vitamin, mineral dan zat fitokimia yang terdapat pada makanan adalah dengan mengkonsumsi sumber makanan alaminya.
Seperti halnya obat-obatan, makanan suplemen mempunyai efek samping dan resiko, dan hanya bisa digunakan secara aman pada takaran tertentu. Tidak seperti obat-obatan yang sudah melalui uji laboratorium ketat, produsen makanan suplemen biasanya membuat aturan pakai sendiri dengan hanya sedikit atau bahkan tanpa pengawasan medis. Kemungkinan ada banyak informasi menyesatkan di sana, misal khasiat yang digembar-gemborkan, tentang dosis yang aman, atau potensi bahaya yang tidak diungkapkan.
BAB 1II
KESIMPULAN
A. Pengertian Obat dan Suplemen
Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup, maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit. (Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia). Sedangkan suplemen makanan diartikan sebagai zat atau bahan makanan yang Anda konsumsi. Zat atau bahan makanan tersebut dapat berupa vitamin, mineral, jamu atau tanaman obat, asam amino (elemen pembangun protein), atau bagian-bagian dari zat atau bahan makanan ini. Bentuk suplemen makanan dapat berupa pil, kapsul, tablet, serbuk, softgel atau cair.
B. Manfaat Obat dan Suplemen
Obat merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan, karena selain merupakan komoditas perdagangan, obat juga memiliki fungsi sosial. Obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan karena penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi.
Konsumsi multivitamin dan multimineral bermanfaat sebagai suplemen diet dan perawatan penyakit. Misalnya Vitamin C dipercaya mampu mencegah dan meredakan demam. Beberapa penelitian terhadap produk suplemen alami dari tanaman dan hewan menunjukkan kemanjuran yang sama dengan obat-obatan konvensional. Namun tentunya ada juga yang dianggap kurang manjur atau bahkan berbahaya. menurut sejarahnya, manusia sudah memanfaatkan pengobatan tradisional untuk mencegah penyakit, menyembuhkan infeksi, meredakan demam, dan penyembuhan luka. Obat-obatan alami dari tumbuhan juga mampu mencegah konstipasi, meredakan rasa sakit (painkiller), atau bekerja sebagai ramuan pereda stress dan perangsang.
DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh. Drs, Apt. Ilmu Farmasi. 1984. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Ansel, C. Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press
Aslam, Mohammed, Chik Kaw Tan, Adi Prayitno. 2003. Farmasi Klinis (Clinical Pharmacy). Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Browsing Internet melalui situs search engine www.google.com
Muhlis, Muhammad, S.Si, Apt. 2003. Diklat Kuliat Farmasetika I. Yogyakarta: Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan
Undang-undang Bidang Kesehatan dan Farmasi. Departemen Kesehatan Republik Indonesia
37
.http://suryadijepang.wordpress.com/2008/03/18/belajar-tentang-suplemen-makanan/
.http://wulandariipb.wordpress.com/2009/10/12/buku-pintar-seputar-suplemen/
OLEH:
1. HERU SUPY YANA (076484203)
2. IMAM BUKHORI (076484204)
3. WAHYU EKO SANTOSO (076484205)
4. DWI NUR RAKMAH A. (076484207)
5. FANDIK EKA PRAYOGA (076484208)
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN PENDIDIKAN KESEHATAN REKREASI
PRODI S1 ILMU KEOLAHRAGAAN
2009
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Obat merupakan salah satu intervensi kesehatan yang paling nyata dan paling dirasakan oleh pasien yang berkunjung ke fasilitas kesehatan. Obat generic lebih dipilih karena harganya yang lebih terjangkau dengan tingkat keamanan, efikasi, kualitas yang terjamin. Undang-undang kesehatan No.23 tahun 1992 mengatur berbagai definisi dan pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan yang lain sperti yang tertuang dalam Pasal 61 yang berbunyi perbekalan kesehatan yang diperlukan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan meliputi sediaan farmasi, alat kesehatan, dan perbekalan lainnya (sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetik). Pasal 61 ayat 1 memuat pengelolaan perbekalan kesehatan, yaitu “pengelolaan perbekalan kesehatan dilakukan agar dapat terpenuhinya kebutuhan sediaan farmasi dan alat kesehatan serta perbekalan lainnya yang terjangkau masyarakat”.
Pembicara mengulas lebih lanjut mengenai pengelolaan perbekalan kesehatan seperti yang tertuang dalam pasal 61 ayat 1 dan 2, yang berisi antara lain: pasal 61 ayat pengelolaan perbekalan kesehatan yang berupa sediaan farmasi dan alat kesehatan dilaksanakan dengan memperhatikan pemenuhan kebutuhan, kemanfaatan, harga, dan faktor yang berkaitan dengan pemerataan penyediaan perbekalan kesehatan. Pasal 61 ayat 3, pemerintah membantu penyediaan perbekalan kesehatan yang menurut pertimbangan diperlukan oleh sarana kesehatan. Selain UU No.23 tahun 1992, selanjutnya pengelolaan sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan juga diatur lebih lanjut dalam PP No.78 tahun 1998 yang berisi ayat 1: Sediaan farmasi dan alat kesehatan yang diproduksi dan atau diedarkan harus memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu:
1. Apa itu obat dan sublemen?
2. Manfaat dari obat dan suplemen itu apa?
C. Tujuan
tujuan penulisan makalah ini yaitu:
1. Mengerti tentang obat dan suplemen
2. Mengerti tentang manfaat obat dn suplemen
D. Manfaat
1. Membantu masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan
2. Mengembangkan pengetahuan masyarakat tentang dunia obat dan suplemen
3. Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan bagi perkembangan ilmu keolahragaan dan farmakologi
4. Dapat digunakan masyarakat sebagai sumber yang ingin diketahui
BAB II
PEMBAHASAN
A. Obat dan Peran Obat dalam Pelayanan Kesehatan
a. Pengertian Obat
Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah sediaan atau paduan-paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi.
Menurut Ansel (1985), obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis, mengurangi rasa sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan.
Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup, maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit. (Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia)
Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi (Kebijakan Obat Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2005).
Obat merupakan benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit, membebaskan gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh.
Obat merupakan senyawa kimia selain makanan yang bisa mempengaruhi organisme hidup, yang pemanfaatannya bisa untuk mendiagnosis, menyembuhkan, mencegah suatu penyakit.
b. Bahan Obat / Bahan Baku
Semua bahan, baik yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat, yang berubah maupun yang tidak berubah, yang digunakan dalam pengolahan obat walaupun tidak semua bahan tersebut masih terdapat di dalam produk ruahan. Produk ruahan merupakan tiap bahan yang telah selesai diolah dan tinggal memerlukan pengemasan untuk menjadi obat jadi.
c. Obat Tradisional
Merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun menurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
d. Penggolongan Obat
Obat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:
1) Obat Bebas, merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat bebas umumnya berupa suplemen vitamin dan mineral, obat gosok, beberapa analgetik-antipiretik, dan beberapa antasida. Obat golongan ini dapat dibeli bebas di Apotek, toko obat, toko kelontong, warung.
2) Obat Bebas Terbatas, merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan tepi lingkaran berwarna hitam. Obat-obat yang umunya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat batuk, obat influenza, obat penghilang rasa sakit dan penurun panas pada saat demam (analgetik-antipiretik), beberapa suplemen vitamin dan mineral, dan obat-obat antiseptika, obat tetes mata untuk iritasi ringan. Obat golongan ini hanya dapat dibeli di Apotek dan toko obat berizin.
3) Obat Keras, merupakan obat yang pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat huruf K berwarna merah yang menyentuh tepi lingkaran yang berwarna hitam. Obat keras merupakan obat yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Obat-obat yang umumnya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat jantung, obat darah tinggi/hipertensi, obat darah rendah/antihipotensi, obat diabetes, hormon, antibiotika, dan beberapa obat ulkus lambung. Obat golongan ini hanya dapat diperoleh di Apotek dengan resep dokter.
4) Obat Narkotika, merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (UURI No. 22 Th 1997 tentang Narkotika). Obat ini pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya terdapat palang (+) berwarna merah.
Obat Narkotika bersifat adiksi dan penggunaannya diawasi dengan ketet, sehingga obat golongan narkotika hanya diperoleh di Apotek dengan resep dokter asli (tidak dapat menggunakan kopi resep). Contoh dari obat narkotika antara lain: opium, coca, ganja/marijuana, morfin, heroin, dan lain sebagainya. Dalam bidang kesehatan, obat-obat narkotika biasa digunakan sebagai anestesi/obat bius dan analgetik/obat penghilang rasa sakit.
e. Peran Obat
Obat merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan, karena selain merupakan komoditas perdagangan, obat juga memiliki fungsi sosial. Obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan karena penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi. Seperti yang telah dituliskan pada pengertian obat diatas, maka peran obat secara umum adalah sebagai berikut:
1) Penetapan diagnosa
2) Untuk pencegahan penyakit
3) Menyembuhkan penyakit
4) Memulihkan (rehabilitasi) kesehatan
5) Mengubah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu
6) Peningkatan kesehatan
7) Mengurangi rasa sakit
B. Parameter-parameter Farmakologi
a. Farmakokinetika
Farmakokinetika merupakan aspek farmakologi yang mencakup nasib obat dalam tubuh yaitu absorbsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresinya (ADME).
Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umunya mengalami absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek. Kemudian dengan atau tanpa biotransformasi, obat diekskresi dari dalam tubuh. Seluruh proses ini disebut dengan proses farmakokinetika dan berjalan serentak seperti yang terlihat pada gambar 1.1 dibawah ini.
Gambar 1.1. Berbagai proses farmakokinetika obat
1) Absorpsi dan Bioavailabilitas
Kedua istilah tersebut tidak sama artinya. Absorpsi, yang merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian, menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses tersebut. Kelengkapan dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang diberikan. Tetapi secara klinik, yang lebih penting ialah bioavailabilitas. Istilah ini menyatakan jumlah obat, dalam persen terhadap dosis, yang mencapai sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh/aktif. Ini terjadi karena untuk obat-obat tertentu, tidak semua yang diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sestemik. Sebagaian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding ususpada pemberian oral dan/atau di hati pada lintasan pertamanya melalui organ-organ tersebut. Metabolisme ini disebut metabolisme atau eliminasi lintas pertama (first pass metabolism or elimination) atau eliminasi prasistemik. Obat demikian mempunyai bioavailabilitas oral yang tidak begitu tinggi meskipun absorpsi oralnya mungkin hampir sempurna. Jadi istilah bioavailabilitas menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Eliminasi lintas pertama ini dapat dihindari atau dikurangi dengan cara pemberian parenteral (misalnya lidokain), sublingual (misalnya nitrogliserin), rektal, atau memberikannya bersama makanan.
2) Distribusi
Setelah diabsorpsi, obat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat fisikokimianya. Distribusi obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak. Selanjutnya, distribusi fase kedua jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit, dan jaringan lemak. Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih lama. Difusi ke ruang interstisial jaringan terjadi karena celah antarsel endotel kapiler mampu melewatkan semua molekul obat bebas, kecuali di otak. Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi membran sel dan terdistribusi ke dalam otak, sedangkan obat yang tidak larut dalam lemak akan sulit menembus membran sel sehingga distribusinya terbatas terurama di cairan ekstrasel. Distribusi juga dibatasi oleh ikatan obat pada protein plasma, hanya obat bebas yang dapat berdifusi dan mencapai keseimbangan. Derajat ikatan obat dengan protein plasma ditentukan oleh afinitas obat terhadap protein, kadar obat, dan kadar proteinnya sendiri. Pengikatan obat oleh protein akan berkurang pada malnutrisi berat karena adanya defisiensi protein.
3) Biotransformasi / Metabolisme
Biotransformasi atau metabolisme obat ialah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih polar, artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah diekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya obat menjadi inaktif, sehingga biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja obat. Tetapi, ada obat yang metabolitnya sama aktif, lebih aktif, atau tidak toksik. Ada obat yang merupakan calon obat (prodrug) justru diaktifkan oleh enzim biotransformasi ini. Metabolit aktif akan mengalami biotransformasi lebih lanjut dan/atau diekskresi sehingga kerjanya berakhir.
Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan berdasarkan letaknya dalam sel, yakni enzim mikrosom yang terdapat dalam retikulum endoplasma halus (yang pada isolasi in vitro membentuk mikrosom), dan enzim non-mikrosom. Kedua macam enzim metabolisme ini terutama terdapat dalam sel hati, tetapi juga terdapat di sel jaringan lain misalnya ginjal, paru, epitel, saluran cerna, dan plasma.
4) Ekskresi
Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar diekskresi lebih cepat daripada obat larut lemak, kecuali pada ekskresi melalui paru. Ginjal merupakan organ ekskresi yang terpenting. Ekskresi disini merupakan resultante dari 3 preoses, yakni filtrasi di glomerulus, sekresi aktif di tubuli proksimal, dan rearbsorpsi pasif di tubuli proksimal dan distal.
Ekskresi obat melalui ginjal menurun pada gangguan fungsi ginjal sehingga dosis perlu diturunkan atau intercal pemberian diperpanjang. Bersihan kreatinin dapat dijadikan patokan dalam menyesuaikan dosis atau interval pemberian obat.
Ekskresi obat juga terjadi melalui keringat, liur, air mata, air susu, dan rambut, tetapi dalam jumlah yang relatif kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran efek obat. Liur dapat digunakan sebagai pengganti darah untuk menentukan kadar obat tertentu. Rambut pun dapat digunakan untuk menemukan logam toksik, misalnya arsen, pada kedokteran forensik.
b. Farmakodinamika
Farmakodinamika mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia berbagai organ tubuh serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respon yang terjadi. Pengetahuan yang baik mengenai hal ini merupakan dasar terapi rasional dan berguna dalam sintesis obat baru.
1) Mekanisme Kerja Obat
Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu organisme. Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang merupakan respons khas untuk obat tersebut. Reseptor obat merupakan komponen makromolekul fungsional yang mencakup 2 konsep penting. Pertama, bahwa obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh. Kedua, bahwa obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah ada. Walaupun tidak berlaku bagi terapi gen, secara umum konsep ini masih berlaku sampai sekarang. Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor obat, tetapi sekelompok reseptor obat tertentu juga berperan sebagai reseptor yang ligand endogen (hormon, neurotransmitor). Substansi yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis. Sebaliknya, senyawa yang tidak mempunyai aktivitas intrinsik tetapi menghambat secara kompetitif efek suatu agonis di tempat ikatan agonis (agonist binding site) disebut antagonis.
2) Reseptor Obat
Struktur kimia suatu obat berhubunga dengan afinitasnya terhadap reseptor dan aktivitas intrinsiknya, sehingga perubahan kecil dalam molekul obat, misalnya perubahan stereoisomer, dapat menimbulkan perubahan besar dalam sidat farmakologinya. Pengetahuan mengenai hubungan struktur aktivitas bermanfaat dalam strategi pengembangan obat baru, sintesis obat yang rasio terapinya lebih baik, atau sintesis obat yang selektif terhadap jaringan tertentu. Dalam keadaan tertentu, molekul reseptor berinteraksi secara erat dengan protein seluler lain membentuk sistem reseptor-efektor sebelum menimbulkan respons.
3) Transmisi Sinyal Biologis
Penghantaran sinyal biologis ialah proses yang menyebabkan suatu substansi ekstraseluler (extracellular chemical messenger) menimbulkan suatu respons seluler fisiologis yang spesifik. Sistem hantaran ini dimulai dengan pendudukan reseptor yang terdapat di membran sel atau di dalam sitoplasmaoleh transmitor. Kebanyakan messenger ini bersifat polar. Contoh, transmitor untuk reseptor yang terdapat di membran sel ialah katekolamin, TRH, LH. Sedangkan untuk reseptor yang terdapat dalam sitoplasma ialah steroid (adrenal dan gonadal), tiroksin, vit. D.
4) Interaksi Obat-Reseptor
Ikatan antara obat dan reseptor misalnya ikatan substrat dengan enzim, biasanya merupakan ikatan lemah (ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, van der Waals), dan jarang berupa ikatan kovalen.
5) Antagonisme Farmakodinamika
Secara farmakodinamika dapat dibedakan 2 jenis antagonisme, yaitu antagonisme fisiologik dan antagonisme pada reseptor. Selain itu, antagonisme pada reseptor dapat bersifat kompetitif atau nonkompetitif. Antagonisme merupakan peristiwa pengurangan atau penghapusan efek suatu obat oleh obat lain. Peristiwa ini termasuk interaksi obat. Obat yang menyebabkan pengurangan efek disebut antagonis, sedang obat yang efeknya dikurangi atau ditiadakan disebut agonis. Secara umum obat yang efeknya dipengaruhi oleh obat lain disebut obat objek, sedangkan obat yang mempengaruhi efek obat lain disebut obat presipitan.
6) Kerja Obat yang tidak Diperantarai Reseptor
Dalam menimbulkan efek, obat tertentu tidak berikatan dengan reseptor. Obat-obat ini mungkin mengubah sifat cairan tubuh, berinteraksi dengan ion atau molekul kecil, atau masuk ke komponen sel.
7) Efek Obat
Efek obat yaitu perubahan fungsi struktur (organ)/proses/tingkah laku organisme hidup akibat kerja obat.
C. Macam-macam Bentuk Obat dan Tujuan Penggunaannya
• Bentuk-bentuk obat serta tujuan penggunaannya antara lain adalah sebagai berikut:
a. Pulvis (Serbuk)
Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar.
b. Pulveres
Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.
c. Tablet (Compressi)
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa bahan tambahan.
1) Tablet Kempa 􀃆 paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk serta penandaannya tergantung design cetakan
2) Tablet Cetak 􀃆 dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab dalam lubang cetakan.
3) Tablet Trikurat 􀃆 tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. Sudah jarang ditemukan
4) Tablet Hipodermik 􀃆 dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Dulu untuk membuat sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara oral.
5) Tablet Sublingual 􀃆 dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan meletakkan tablet di bawah lidah.
6) Tablet Bukal 􀃆 digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi.
7) Tablet Efervescen ô€ƒ† tablet larut dalam air. Harus dikemas dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab. Pada etiket tertulis “tidak untuk langsung ditelan”.
8) Tablet Kunyah 􀃆 cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak di rongga mulut, mudah ditelan, tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak.
d. Pilulae (PIL)
Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. Masih banyak ditemukan pada seduhan jamu.
e. Kapsulae (Kapsul)
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut. Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:
1) Menutupi bau dan rasa yang tidak enak
2) Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari
3) Lebih enak dipandang
4) Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis), dengan pemisahan antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian dimasukkan bersama serbuk lain ke dalam kapsul yang lebih besar.
5) Mudah ditelan.
f. Solutiones (Larutan)
Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak dimasukkan dalam golongan produk lainnya (Ansel). Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut, misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).
g. Suspensi
Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair. Macam suspensi antara lain: suspensi oral (juga termasuk susu/magma), suspensi topikal (penggunaan pada kulit), suspensi tetes telinga (telinga bagian luar), suspensi optalmik, suspensi sirup kering.
h. Emulsi
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi, fase cairan yang satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya distabilkan oleh zat pengemulsi.
i. Galenik
Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang disari.
j. Extractum
Merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku yang ditetapkan.
k. Infusa
Merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu 900 C selama 15 menit.
l. Immunosera (Imunoserum)
Merupakan sediaan yang mengandung Imunoglobin khas yang diperoleh dari serum hewan dengan pemurnian. Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular) dan mengikat kuman/virus/antigen.
m. Unguenta (Salep)
Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang cocok.
n. Suppositoria
Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Tujuan pengobatan yaitu:
1) Penggunaan lokal 􀃆 memudahkan defekasi serta mengobati gatal, iritasi, dan inflamasi karena hemoroid.
2) Penggunaan sistemik 􀃆 aminofilin dan teofilin untuk asma, chlorprozamin untuk anti muntah, chloral hydrat untuk sedatif dan hipnotif, aspirin untuk analgenik antipiretik.
o. Guttae (Obat Tetes)
Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope Indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain: Guttae (obat dalam), Guttae Oris (tets mulut), Guttae Auriculares (tetes telinga), Guttae Nasales (tetes hidung), Guttae Ophtalmicae (tetes mata).
p. Injectiones (Injeksi)
Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.
• Cara pemberian obat serta tujuan penggunaannya adalah sebagai berikut:
a. Oral
Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. Keuntungannya relatif aman, praktis, ekonomis. Kerugiannya timbul efek lambat; tidak bermanfaat untuk pasien yang sering muntah, diare, tidak sadar, tidak kooperatif; untuk obat iritatif dan rasa tidak enak penggunaannya terbatas; obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat (penisilin G, insulin); obat absorpsi tidak teratur.
Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki, penggunaan oral adalah yang paling menyenangkan dan murah, serta umumnya paling aman. Hanya beberapa obat yang mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus. Pada keadaan pasien muntah-muntah, koma, atau dikehendaki onset yang cepat, penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai.
b. Sublingual
Cara penggunaannya, obat ditaruh dibawah lidah. Tujuannya supaya efeknya lebih cepat karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. Misal pada kasus pasien jantung. Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta)
c. Inhalasi
Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). Misal obat asma. Keuntungannya yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen, kadar obat dapat dikontrol, terhindar dari efek lintas pertama, dapat diberikan langsung pada bronkus. Kerugiannya yaitu, diperlukan alat dan metoda khusus, sukar mengatur dosis, sering mengiritasi epitel paru – sekresi saluran nafas, toksisitas pada jantung.
Dalam inhalasi, obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat melalui alveoli paru-paru dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan.
d. Rektal
Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. Tujuannya mempercepat kerja obat serta sifatnya lokal dan sistemik. Obat oral sulit/tidak dapat dilakukan karena iritasi lambung, terurai di lambung, terjadi efek lintas pertama. Contoh, asetosal, parasetamol, indometasin, teofilin, barbiturat.
e. Pervaginam
Bentuknya hampir sama dengan obat rektal, dimasukkan ke vagina, langsung ke pusat sasar. Misal untuk keputihan atau jamur.
f. Parentral
Digunakan tanpa melalui mulut, atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh selain saluran cerna. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke pembuluh darah. Misal suntikan atau insulin. Efeknya biar langsung sampai sasaran. Keuntungannya yaitu dapat untuk pasien yang tidak sadar, sering muntah, diare, yang sulit menelan/pasien yang tidak kooperatif; dapat untuk obat yang mengiritasi lambung; dapat menghindari kerusakan obat di saluran cerna dan hati; bekerja cepat dan dosis ekonomis. Kelemahannya yaitu kurang aman, tidak disukai pasien, berbahaya (suntikan – infeksi).
Istilah injeksi termasuk semua bentuk obat yang digunakan secara parentral, termasuk infus. Injeksi dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi. Apabila obatnya tidak stabil dalam cairan, maka dibuat dalam bentuk kering. Bila mau dipakai baru ditambah aqua steril untuk memperoleh larutan atau suspensi injeksi.
g. Topikal/lokal
Obat yang sifatnya lokal. Misal tetes mata, tetes telinga, salep.
h. Suntikan
Diberikan bila obat tidak diabsorpsi di saluran cerna serta dibutuhkan kerja cepat.
• Tabel Penggunaan Bentuk Sediaan
Cara Pemberian Bentuk Sediaan Utama
Oral Tablet, kapsul, larutan (sulotio), sirup, eliksir, suspensi, magma, jel, bubuk
Sublingual Tablet, trokhisi dan tablet hisap
Parentral Larutan, suspensi
Epikutan/transdermal Salep, krim, pasta, plester, bubuk, erosol, latio, tempelan transdermal, cakram, larutan, dan solutio
Konjungtival Salep
Introakular/intraaural Larutan, suspensi
Intranasal Larutan, semprot, inhalan, salep
Intrarespiratori Erosol
Rektal Larutan, salep, supositoria
Vaginal Larutan, salep, busa-busa emulsi, tablet, sisipan, supositoria, spon
Uretral Larutan, supositoria
D. Sublemen
a. Pengertian Suplemen
Suplemen makanan kini telah dijual bebas di toko makanan sehat, toko kelontong, apotek, dan lain-lain. Orang-orang pada umumnya mengkonsumsinya karena berbagai alasan kesehatan.Manusia sudah ratusan bahkan ribuan tahun memakai suplemen untuk membantu meningkatkan kesehatan dan untuk merawat penyakit. Bahkan beberapa jenis suplemen tersebut menjadi bahan dasar metode pengobatan terkini. Contohnya, manusia sudah menggunakan teh kulit pohon willow (willow bark) sebagai ramuan untuk menyembuhkan demam. Perusahaan farmasi akhirnya mengetahui manfaat zat kimia dalam willow bark tersebut hingga akhirnya memanfaatkannya untuk memproduksi aspirin.
Apa itu suplemen makanan?
Di Amerika Serikat, suplemen makanan diartikan sebagai zat atau bahan makanan yang Anda konsumsi. Zat atau bahan makanan tersebut dapat berupa vitamin, mineral, jamu atau tanaman obat, asam amino (elemen pembangun protein), atau bagian-bagian dari zat atau bahan makanan ini. Bentuk suplemen makanan dapat berupa pil, kapsul, tablet, serbuk, softgel atau cair. Suplemen makanan merupakan pendamping atau penambah program diet, nutrisi atau kondisi tubuh tertentu dan bukan merupakan pengganti makanan. Suplemen makanan pada umumnya termasuk vitamin (misalnya vitamin C) dan mineral, botanical (misalnya jamu dan produk tanaman), dan zat atau bahan yang berasal dari sumber alam (misalnya susu whey dan glucosamine).
Para produsen suplemen makanan secara resmi dilarang memberi pernyataan bahwa suplemennya dapat mendiagnosa, menyembuhkan, merawat, atau mencegah penyakit. Namun para produsen suplemen makanan dapat menyatakan bahwa suplemennya dapat meningkatkan atau berkontribusi menjaga tingkat kesehatan. Asosiasi Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) mengeluarkan peraturan yang tidak sama atas suplemen makanan dan atas obat-obatan. Diantara peraturan itu menyebutkan suplemen makanan dapat dijual bebas tanpa harus adanya penelitian tingkat kemanjurannya. Lain halnya dengan obat-obatan yang harus teruji.
b. Kegunaan Suplemen ?
Orang-orang mengkonsumsi suplemen makanan dalam beberapa kondisi kesehatan. Konsumsi multivitamin dan multimineral bermanfaat sebagai suplemen diet dan perawatan penyakit. Misalnya Vitamin C dipercaya mampu mencegah dan meredakan demam. Beberapa penelitian terhadap produk suplemen alami dari tanaman dan hewan menunjukkan kemanjuran yang sama dengan obat-obatan konvensional. Namun tentunya ada juga yang dianggap kurang manjur atau bahkan berbahaya. menurut sejarahnya, manusia sudah memanfaatkan pengobatan tradisional untuk mencegah penyakit, menyembuhkan infeksi, meredakan demam, dan penyembuhan luka. Obat-obatan alami dari tumbuhan juga mampu mencegah konstipasi, meredakan rasa sakit (painkiller), atau bekerja sebagai ramuan pereda stress dan perangsang. Beberapa penelitian memang menunjukkan kandungan bahan alami yang terbukti bermanfaat. Misalnya glucosamine yang terbukti bermanfaat dalam penyembuhan atau perawatan osteoarthritis (radang sendi).
Apakah suplemen makanan aman dikonsumsi?
Secara keseluruhan, para ahli kesehatan menyatakan bahwa suplemen makanan aman untuk dikonsumsi. Tentunya dengan alasan penggunaan zat-zat dan bahan-bahan alami pada suplemen makanan tersebut. Apalagi beberapa produsen suplemen telah melakukan penelitian intensif pada berbagai produk suplemen mereka. Namun perlu diingat, meskipun suplemen makanan terbukti aman dan berkhasiat bukan berarti Anda dapat menghindari obat-obatan konvensional biasa dan hanya mengandalkan suplemen makanan. Selalu konsultasikan terlebih dulu kepada dokter jika Anda dalam kondisi mengkonsumsi suplemen sebelum pemberian resep dokter atau apabila Anda bermaksud mengkombinasikan suplemen makanan bersama dengan obat-obatan biasa untuk perawatan kesehatan Anda. Sebagai contoh anjuran tersebut sangat penting bagi para wanita hamil dan menyusui.
Beberapa Contoh Penggunaan Suplemen Makanan
Memperkuat sistem kekebalan digunakan suplemen Vitamin A, Vitamin C, Herbal Echinaceha, dan jamur Shiitake. Untuk mengobati infeksi spesifik, digunakan goldenseal (infeksi bakteri), licorice (infeksi virus) dan tea tree oil (infeksi jamur pada kulit). Menghilangkan racun tubuh (detoksifikasi) digunakan suplemen betakaroten, Vitamin C, Vitamin E, dan klorofil. Untuk mengatasi keracunan usus diberikan suplemen laktobasilus. Untuk detoksifikasi hati biasa dipakai suplemen bawang putih atau garlic, sylibum marianum, sayuran golongan brassica (kubis, brokoli, Brussel sprout), dan glutathione. Mengatasi radang digunakan suplemen Vitamin E dan Vitamin C dalam dosis tinggi untuk menormalkan kembali fungsi respon tubuh terhadap radang. Untuk menurunkan efek peradangan digunakan suplemen quercetin, flax seed oil, evening primrose oil dan minyak ikan (Omega 3).
Mengoptimalkan fungsi metabolik terutama untuk memperbaiki sistem pencernaan digunakan suplemen herbal bitter, betain hidroklorida dan enzim pepsin.
Menyeimbangkan sistem hormon seperti: Memperbaiki hormon tiroid dengan pemberian suplemen mineral tembaga, selenium, seng, dan ekstrak kelenjar tiroid. Meningkatkan kadar hormon DHEA dapat digunakan suplemen Siberian panax ginseng dan suplemen DHEA. Meningkatkan keseimbangan hormon wanita dapat digunakan suplemen mineral seng, dan Vitamin A. Meningkatkan fungsi hormon pria dapat mengkonsumsi suplemen mineral Zinc, Siberian panax ginseng dan tribulus yang dapat bekerja dengan baik ketika digabung dengan suplemen DHEA dan ZMA. Untuk mencegah penuaan dini (antia aging) diperlukan suplementasi Vitamin C, Vitamin E, Vitamin B12, Coenzym Q10, glucosamine sulfat, glutathione, chromium, magnesium, selenium dan flax seed oil. Sedangkan dari kelompok herbal yang disarankan adalah suplemen Siberian panax ginseng, gingko biloba dan crateagus oxycanthe
c. Perlukah Memakan Suplemen
Sekitar 2.000 tahun lalu, bapak ilmu kedokteran Barat, Hipocrates, berujar, "Let your food be your medicine and your medicine be your food". Ini bisa diartikan, pola makan yang sehat dan seimbang dapat menunjang kesehatan seseorang secara optimal dan dari zat gizi makanan, sehingga kita dapat terhindar dari berbagai macam penyakit. Timbul pertanyaan, dalam era modernisasi dan globalisasi ini mampukah kita memenuhi pola makanan yang seimbang? Sebagian dari kita tidak. Mungkin inilah yang menjadi latar belakang tumbuhnya berbagai macam bisnis suplemen makanan demikian pesat sehingga memberikan banyak peluang bagi para produsen untuk memasarkannya.
Sebenarnya, perlu atau tidak kita mengkonsumsi suplemen makanan dan seberapa banyak kita membutuhkannya? Kondisi bagaimana saja yang diperbolehkan?
Suplemen makanan merupakan makanan yang mengandung zat-zat gizi dan non-gizi; bisa dalam bentuk kapsul, kapsul lunak, tablet, bubuk, atau cairan yang fungsinya sebagai pelengkap kekurangan zat gizi yang dibutuhkan untuk menjaga agar vitalitas tubuh tetap prima. Sebagai pelengkap, suplemen makanan bukan diartikan sebagai pengganti (substitusi) makanan kita sehari-hari. Suplemen makanan umumnya berasal dari bahan-bahan alami tanpa tambahan zat-zat kimia walaupun pada vitamin tertentu ada yang sintetis. Suplemen vitamin seperti asam folat dalam bentuk sintetis memang lebih mudah terserap dalam tubuh, walaupun vitamin E dari bahan alami jauh lebih baik penyerapannya daripada yang sintetis. Suplemen makanan digolongkan sebagai nutraceutical, sedangkan obat-obatan masuk golongan pharmaceutical. Berbeda dengan obat-obatan yang harus diuji efektivitasnya secara klinis mengikuti serangkaian prosedur, suplemen makanan ini khasiatnya tidak perlu dibuktikan melalui uji klinis. Sampai saat ini pun jenis nutraceutical boleh dijual secara bebas tapi tidak boleh diklaim memiliki khasiat untuk mengobati penyakit seperti halnya obat-obatan. Di Indonesia suplemen makanan dimasukkan dalam golongan makanan, bukan obat. Peraturan Menteri Kesehatan No. 329/Menkes/Per/XII/76 menyatakan, makanan sebagai barang yang untuk dimakan dan diminum tetapi bukan sebagai obat.
Namun akibat pengaruh iklan yang menarik bahwa suplemen makanan dapat menyembuhkan atau mencegah penyakit ini dan itu, timbullah kerancuan. Tentu di sini peranan Ditjen POM (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan), Departemen Kesehatan RI, sangat penting dalam menentukan masalah labelling, claim, serta etika periklanan untuk melindungi konsumen.
d. Radikal bebas dan antioksidan
Perkembangan ilmu pengetahuan di bidang gizi dan kedokteran klinis kini banyak mengungkapkan teori radikal bebas yang dapat menganggu kesehatan kita sehingga mendorong para ahli untuk mengungkapkan cara pencegahannya dari zat-zat antioksidan. Radikal bebas banyak mendapat perhatian karena dianggap berperan cukup menonjol dalam proses terjadinya berbagai penyakit degeneratif seperti arteriosklerosis, penyakit jantung, kanker, proses penuaan, dll.
Dr. Kenneth H. Cooper's, presiden Cooper Aerobics Center di Dallas, AS, dalam buku barunya Revolusi Antioksidan menyatakan, terobosan berikutnya dalam ilmu kedokteran preventif adalah antioksidan. Dengan latar belakang teori radikal bebas dan antioksidan itu, kini salah satu jenis suplemen makanan juga menawarkan zat antioksidan dalam bentuk kemasan beraneka ragam.
Beberapa studi yang telah dilakukan mengungkapkan, vitamin C, vitamin E, beta karotin, dan selenium berfungsi sebagai antioksidan untuk menangkal senyawa radikal bebas ini. Selain itu, zat non-gizi seperti pigmen (likopen pada tomat, flavonoid, klorofil) dan enzim (glutation peroksida, koenzim Q-10) juga berkhasiat sebagai antioksidan. Zat gizi dan non-gizi ini sebenarnya dapat kita peroleh dari makanan sehari-hari seperti sayuran, buah-buahan, tempe, dll. Namun sering menjadi pertanyaan, sejauh mana kita memerlukan suplemen makanan ini untuk mencukupi kebutuhan gizi yang dianjurkan bila kita sudah mengkonsumsi makanan yang mengandung antioksidan ini?
e. Stres perlu suplemen
Sebagai makanan tambahan atau pelengkap tentunya suplemen makanan harus benar-benar dikonsumsi dalam kondisi yang tepat dan sesuai dengan kondisi tubuh seseorang. Bila makanan yang dikonsumsi seseorang sudah seimbang dan memenuhi prinsip "4 sehat 5 sempurna", cukup berolahraga, cukup beristirahat atau tidur, hidup teratur, tidak stres bahkan bebas dari cemaran zat polutan (udara, makanan, dan air), maka suplemen makanan tentunya tidak dianjurkan untuk dikonsumsi karena kebutuan gizi sudah dipenuhi dari makanan sehari-hari. Namun, beberapa kondisi yang perlu diingat sebagai latar belakang penggunaan suplemen makanan dapat disimak sebagai berikut: dalam masyarakat modern dengan pola makan yang tidak seimbang karena kesibukan dan kurangnya persiapan makanan dengan menu seimbang atau kebiasaan mengkonsumsi makanan olahan seperti junk food yang terkadang memakai zat pengawet atau zat tambahan agar makanan tetap awet. Faktor itu akan mempengaruhi asupan zat gizi yang masuk ke dalam tubuh. Belum lagi kurangnya waktu untuk berolahraga karena kesibukan kerja, tidak cukup tidur dan istirahat, bahkan faktor stres yang banyak melanda masyarakat terutama di perkotaan.
Dalam keadaan stres, tubuh akan menguras cadangan gula darah (glukosa) dalam tubuh. Cadangan glukosa ini akan diambil dari persediaan protein dan juga karbohidrat tambahan untuk memenuhi energi yang banyak terbuang pada waktu stres. Rendahnya jumlah serotonin dalam otak dapat memacu terjadinya stres, dan untuk meningkatkan serotonin diperlukan konsumsi protein yang memadai termasuk asam amino yang juga mendorong produksi serotonin.
Di samping itu, stres juga memacu ginjal untuk meningkatkan pengeluaran beberapa mineral penting dari tubuh seperti magnesium, seng, dan kalsium. Stres yang berkepanjangan dan tidak segera diatasi dapat menghilangkan selera makan seseorang sehingga kebutuhan zat gizi tidak dapat dipenuhi dari pola makannya yang terganggu. Dalam hal seperti itu, suplemen makanan diperlukan karena dapat membantu melengkapi kekurangan zat gizi.
Faktor lingkungan seperti pencemaran udara yang dapat merupakan sumber radikal bebas bagi tubuh kita kini juga tidak terlepas dari kehidupan kita. Salah satu bahan pencemar udara itu antara lain timah hitam (Pb), hasil buangan dari knalpot kendaraan yang menggunakan bahan bakar (bensin) yang mengandung timah hitam.
Laporan Bank Dunia URBAIR 1994 menyatakan, dampak pencemaran timah hitam atau timbal menimbulkan 350 kasus penyakit jantung dan 62.000 kasus tekanan darah tinggi dengan angka kematian 340 orang per tahun. Sumber radikal bebas lain dari lingkungan di sekitar kita seperti asap rokok, radiasi sinar matahari, sinar X, dll. Dalam hal ini suplemen makanan yang mengandung antioksidan memang dapat membantu menetralkan radikal bebas dengan mengikat elektron bebas dari sumber tersebut. Dengan memusnahkan radikal bebas, kita dapat mengantisipasi dalam mengurangi kerusakan inti sel, membran sel, dan sistem kekebalan tubuh serta meningkatkan perlindungan tubuh kita.
f. Cegah ketergantungan
Kondisi lain yang juga perlu diperhatikan yaitu bahwa setiap manusia mempunyai keunikan struktur (organ tubuh, jaringan, sel-sel) dan fungsi yang berbeda dari yang lain sehingga untuk mencapai fungsi optimal kecukupan gizinya pun berbeda. Dalam memenuhi fungsi tubuh optimal ini terkadang memang diperlukan tambahan suplemen makanan baik berupa vitamin, mineral, atau enzim tertentu, tapi tentunya harus dikonsultasikan dengan dokter. Misalnya, seseorang yang sering mengalami diare atau gangguan pencernaan karena kekurangan enzim percernaan tertentu dalam ususnya, dapat dibantu dengan suplemen makanan tertentu sebagai tambahan obat yang diresepkan dokter. Selain itu faktor usia di mana beberapa fungsi organ tubuh sudah menurun, seperti kurangnya penyerapan zat gizi atau gangguan pada gigi yang menyebabkan sulit makan, terkadang memerlukan suplemen makanan sebagai pelengkap kebutuhan asupan zat gizi.
Penggunaan suplemen makanan juga dapat bermanfaat untuk seseorang yang mengalami, misalnya, gangguan kekurangan gizi seperti anemia pada ibu hamil atau menyusui, avitaminosis, dan gondok. Juga bagi para perokok berat, peminum alkohol, dan pengguna obat-obatan dalam jangka waktu lama seperti anti-tuberkulosis yang memerlukan vitamin B6, pengguna obat antikejang, kontrasepsi steroid, dan antibiotik tertentu yang dapat menyebabkan defisiensi jenis vitamin atau mineral tertentu. Seseorang dengan perilaku makan yang sulit diubah sejak kecil hingga usia tua terkadang memerlukan "koreksi" dengan suplemen makanan secara kualitatif dan kuantitatif untuk mencapai gizi seimbang. Tentunya harus sambil diberi motivasi dan pendekatan psikologis yang dapat merubah perilaku makannya agar tidak timbul ketergantungan pada suplemen makanan terus- menerus.
Untuk membantu penyembuhan penyakit kronik atau akut tertentu, selain obat-obatan dari dokter, suplemen makanan juga dapat bermanfaat. Bahkan juga untuk penderita yang dirawat di rumah sakit dengan keadaan gizi kurang diperlukan sebagai penunjang pemulihan dan penyembuhan. Tapi penggunaan suplemen makanan harus selalu dikonsultasikan dengan dokter karena penggunaan yang tidak tepat dikhawatirkan menyebabkan gangguan penyerapan obat-obatan tertentu atau interaksi antara obat dan suplemen makanan yang dapat menyebabkan efek merugikan.
Suplemen makanan jangan dianggap sebagai obat dewa yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Peranannya dalam membantu proses pencegahan dan penyembuhan serta rehabilitasi penyakit tertentu memang bisa digunakan. Bukti-bukti ilmiah untuk zat gizi tertentu seperti zat antioksidan, asam lemak esensial (omega-3), memang sudah menunjukkan manfaatnya bagi kesehatan tubuh. Bahkan dalam suatu seminar di FKUI pernah dibahas beberapa khasiat bahan alami seperti temulawak, bawang putih, bawang merah, dan tempe sebagai antioksidan penangkal senyawa radikal bebas. Kembali pada slogan "Aku Cinta Makanan Indonesia" (ACMI), perlu diingat bahwa sebenarnya makanan tradisional Indonesia dalam pola makan sehari-hari mengandung bahan alami yang banyak mengandung antioksidan.
Konsumsi suplemen makanan sebenarnya berawal dari konsep kembali ke alam: bahan-bahan alami dikemas begitu rupa dalam bentuk kapsul, pil, dsb. Namun perlu diingat, makanan segar yang beraneka ragam tetap lebih alami dan bermanfaat. Jadi hendaknya, sebelum mengkonsumsi suplemen makanan, kita mempertimbangkan segala aspek: kondisi tubuh, daya beli, dan manfaat yang diinginkan. Mengkonsumsi suplemen makanan jangan dengan alasan mengutamakan gengsi, terbawa mode, atau memenuhi faktor sugesti. Jadi apabila Anda memang tergolong si pemilih makanan, suplemen multivitamin yang ada dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan vitamin & mineral supaya tercukupi jumlahnya di dalam tubuh. Yang penting pilih suplemen multivitamin yang sesuai dengan kandungan yang cukup & tidak melewati batasan.
g. Kelemahan Suplemen
Keuntungan yang didapat dari sumber makanan yang kaya akan zat gizi tertentu bukan hanya disebabkan adanya zat gizi tersebut, namun juga oleh adanya suatu zat dalam makanan yang juga berperan penting, yaitu zat fitokimia dan serat alami, yang tidak terdapat pada suplemen makanan. Satu-satunya cara untuk mendapatkan kombinasi makanan yang kaya vitamin, mineral dan zat fitokimia yang terdapat pada makanan adalah dengan mengkonsumsi sumber makanan alaminya.
Seperti halnya obat-obatan, makanan suplemen mempunyai efek samping dan resiko, dan hanya bisa digunakan secara aman pada takaran tertentu. Tidak seperti obat-obatan yang sudah melalui uji laboratorium ketat, produsen makanan suplemen biasanya membuat aturan pakai sendiri dengan hanya sedikit atau bahkan tanpa pengawasan medis. Kemungkinan ada banyak informasi menyesatkan di sana, misal khasiat yang digembar-gemborkan, tentang dosis yang aman, atau potensi bahaya yang tidak diungkapkan.
BAB 1II
KESIMPULAN
A. Pengertian Obat dan Suplemen
Obat dalam arti luas ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup, maka farmakologi merupakan ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala penyakit. (Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia). Sedangkan suplemen makanan diartikan sebagai zat atau bahan makanan yang Anda konsumsi. Zat atau bahan makanan tersebut dapat berupa vitamin, mineral, jamu atau tanaman obat, asam amino (elemen pembangun protein), atau bagian-bagian dari zat atau bahan makanan ini. Bentuk suplemen makanan dapat berupa pil, kapsul, tablet, serbuk, softgel atau cair.
B. Manfaat Obat dan Suplemen
Obat merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan, karena selain merupakan komoditas perdagangan, obat juga memiliki fungsi sosial. Obat berperan sangat penting dalam pelayanan kesehatan karena penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi.
Konsumsi multivitamin dan multimineral bermanfaat sebagai suplemen diet dan perawatan penyakit. Misalnya Vitamin C dipercaya mampu mencegah dan meredakan demam. Beberapa penelitian terhadap produk suplemen alami dari tanaman dan hewan menunjukkan kemanjuran yang sama dengan obat-obatan konvensional. Namun tentunya ada juga yang dianggap kurang manjur atau bahkan berbahaya. menurut sejarahnya, manusia sudah memanfaatkan pengobatan tradisional untuk mencegah penyakit, menyembuhkan infeksi, meredakan demam, dan penyembuhan luka. Obat-obatan alami dari tumbuhan juga mampu mencegah konstipasi, meredakan rasa sakit (painkiller), atau bekerja sebagai ramuan pereda stress dan perangsang.
DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh. Drs, Apt. Ilmu Farmasi. 1984. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Ansel, C. Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press
Aslam, Mohammed, Chik Kaw Tan, Adi Prayitno. 2003. Farmasi Klinis (Clinical Pharmacy). Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Browsing Internet melalui situs search engine www.google.com
Muhlis, Muhammad, S.Si, Apt. 2003. Diklat Kuliat Farmasetika I. Yogyakarta: Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan
Undang-undang Bidang Kesehatan dan Farmasi. Departemen Kesehatan Republik Indonesia
37
.http://suryadijepang.wordpress.com/2008/03/18/belajar-tentang-suplemen-makanan/
.http://wulandariipb.wordpress.com/2009/10/12/buku-pintar-seputar-suplemen/
Selasa, 09 Februari 2010
bagaimana menghadapi sebuah masalah
Sebagai makhluk tuhan kita tak lepas dari cobaan, dari yang kecil hingga yang paling besar. hal ini ada sejak kita lahir hingga akhir hayat. bagaimana anda menyikapinya?. ingat teman waktu tidak berakhir hari ini, maka jangan engkau lakukan hal-hal konyol sebagai proses pelepasan sebuah cobaan. dan jangan enggkau menghindar dari sebuah masalah, karena hal itu akan selalu menghantuimu. banyak orang tak sadar akan sebuah masalah yang hinggap pada dirinya, padahal itu sebuah proses perkembangan mental.
kita banyak mendengar maupun melihat berita-berita di koran,tv,radio maipun media lain.remaja bunuh diri gara-gara ditolak cintanya, seorang remaja membunuh kekasihnya lantaran cemburu ceweknya sms ma cow lain. seorang ibu mengurung anaknya d kamar hingga 5 hari dan lain sebagainya. penyelesaian masalah yang kayak gitu kah yang anda inginkan?tentu saja tidak bukan. tuhan maha tahu siapa hambanya,dan tak akan mengasih cobaan diluar kemamupan kita.selalu berusaha, perbarui maindset alam bawah sadar anda, percayalah ap yang terjadi itu baik buat anda dan perkembangan mental anda, anda mempunyai kemampuan luar biasa diluar, kata yang tepat yaitu TAK ADA YANG TAK MUNGKIN,
hingga sekarang mungkin anda tak sadar banyak banyak kesuksesan yang anda raih. anda sudah jadi juara melawan 200ribu sel sperma, andalah yang berhasil menerobos sel telur.itu merupakan kesuksesan. anda bisa keluar dari rahim ibu(lahir, itu merupakan kesuksesan.anda bisa berbicara,menangis, marah n emosional lainnya, itu merupakan kesuksesan.anda bisa berjalan,naik sepeda,dll itu juga merupakan kesuksesan, dan banyak kesuksesan-kesuksesan lain yang anda raih lebih dari itu munngkin yang anda sadari maupun tidak. sadarkah anda untuk meraih itu semua pasti dengan susah payah, penuh pengorbanan,dan akhirnya berhasil kan.
selalu belajar, pahami apa yang terjadi, semangat, jangan takut mecoba, karena itu proses belajar agar lebih baik,percayalah kegagalan bukanlah akhir dari segalanya dan hanyalah kesuksesan yang tertunda,kegagalan adalah ilmu, cara, jalan yang kurang tepat untuk menggapai kesuksesan,semakin banyak kegagalan semakin anda tahu mana yang benar.
kita banyak mendengar maupun melihat berita-berita di koran,tv,radio maipun media lain.remaja bunuh diri gara-gara ditolak cintanya, seorang remaja membunuh kekasihnya lantaran cemburu ceweknya sms ma cow lain. seorang ibu mengurung anaknya d kamar hingga 5 hari dan lain sebagainya. penyelesaian masalah yang kayak gitu kah yang anda inginkan?tentu saja tidak bukan. tuhan maha tahu siapa hambanya,dan tak akan mengasih cobaan diluar kemamupan kita.selalu berusaha, perbarui maindset alam bawah sadar anda, percayalah ap yang terjadi itu baik buat anda dan perkembangan mental anda, anda mempunyai kemampuan luar biasa diluar, kata yang tepat yaitu TAK ADA YANG TAK MUNGKIN,
hingga sekarang mungkin anda tak sadar banyak banyak kesuksesan yang anda raih. anda sudah jadi juara melawan 200ribu sel sperma, andalah yang berhasil menerobos sel telur.itu merupakan kesuksesan. anda bisa keluar dari rahim ibu(lahir, itu merupakan kesuksesan.anda bisa berbicara,menangis, marah n emosional lainnya, itu merupakan kesuksesan.anda bisa berjalan,naik sepeda,dll itu juga merupakan kesuksesan, dan banyak kesuksesan-kesuksesan lain yang anda raih lebih dari itu munngkin yang anda sadari maupun tidak. sadarkah anda untuk meraih itu semua pasti dengan susah payah, penuh pengorbanan,dan akhirnya berhasil kan.
selalu belajar, pahami apa yang terjadi, semangat, jangan takut mecoba, karena itu proses belajar agar lebih baik,percayalah kegagalan bukanlah akhir dari segalanya dan hanyalah kesuksesan yang tertunda,kegagalan adalah ilmu, cara, jalan yang kurang tepat untuk menggapai kesuksesan,semakin banyak kegagalan semakin anda tahu mana yang benar.
Selasa, 02 Februari 2010
UNESA ilmu olahraga
99,99% orang menginginkan sehat, salah satunya adalah berolahraga.banyak orang mengira berolahraga itu gampang untuk untuk dilakukan. banyak orang mengatakan Fakultas Ilmu Keolahragaan adalah pendidikan tanpa otak, atau lebih kongkritnya pendidikan fisik.tentu tidak begitu dalam ilmu olahraga banyak hal yang perlu di pelajari,dari segi fisiologi,anatomi,gizi,biokimia,psikologinya.dari keseluruhan inilah anda akan mendapatkan kesehatan yang sesungguhnya...
banyak orang setiap hari melakukan olahraga namun tak sehat,banyak orang kelihatan kekar namun sakit-sakitan,banyak orang ingin diet sehat namun kenyataannya malah sakit, itu hanya contoh kecil dari realita yang ad.termasuk anda kah?
jangan bilang sehat itu mahal ketika anda sakit.telat bung....perlu diketahui juga, banyak keruguian yg terjadi ketika anda sakit,misalnya:
1. materi: pastinya butuh biaya ketika anda berobat.
2. waktu: pekerjaan anda terbenggalai
3. rizky : keberuntungan akan menjauh dari anda,diaat anda exsis di luar.n itu tk terjadi lagi
3. kebahagiaan : anda tak kan bisa berbagi kebahagiaan bersama orang dekat di sekitar anda.
semoga menjadi bahan pertimbanga. tubuh sehat tak cukup jika tak bugar bukan....
anda menginginkannya...kulih aja di ILMU KEOLAHRAGAAN UNESA.CIIIS
banyak orang setiap hari melakukan olahraga namun tak sehat,banyak orang kelihatan kekar namun sakit-sakitan,banyak orang ingin diet sehat namun kenyataannya malah sakit, itu hanya contoh kecil dari realita yang ad.termasuk anda kah?
jangan bilang sehat itu mahal ketika anda sakit.telat bung....perlu diketahui juga, banyak keruguian yg terjadi ketika anda sakit,misalnya:
1. materi: pastinya butuh biaya ketika anda berobat.
2. waktu: pekerjaan anda terbenggalai
3. rizky : keberuntungan akan menjauh dari anda,diaat anda exsis di luar.n itu tk terjadi lagi
3. kebahagiaan : anda tak kan bisa berbagi kebahagiaan bersama orang dekat di sekitar anda.
semoga menjadi bahan pertimbanga. tubuh sehat tak cukup jika tak bugar bukan....
anda menginginkannya...kulih aja di ILMU KEOLAHRAGAAN UNESA.CIIIS
Langganan:
Postingan (Atom)